
Aku terpaksa menghentikan langkahku dan membalik badanku untuk melihat mereka berdua.
Ya ampun, mata mereka berdua sama-sam melotot kearahku. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Mereka terlihat benar-benar tidak bersahabat saat ini. Aku jadi takut saat melihat mereka berdua seperti saat ini. Mereka seperti ingin memakan aku saja sekarang.
"Mau kabur kemana kamu barusan," ucap kak Lio padaku.
"Ngak ... ngak kabur kok, aku ingin naik sebentar keatas dan melihat, apakah air yang aku isi di bak udah penuh atau belum," kataku tiba-tiba saja muncul ide bohong.
"Sejak kapan kamar rumahku punya bak air? Aku rasa, di rumah ini setiap kamarnya gak punya bak," kata kak Lio.
Ya ampun, aku salah alasan ternyata. Aku lupa, kalau rumah ini tidak ada bak airnya. Kenapa aku bisa memikirkan soal bak air di saat segenting ini.
Apa yang harus aku katakan pada kak Lio sekarang. Aku juga tidak bisa minta bantuan kak Nessa. Karna saat ini, ia juga sedang melihat aku dengan tatapan yang tidak enak.
Aku berusaha memikirkan ide yang tepat untuk menjawab pertanyaan kak Lio barusan. Aku mengaruk-garukkan kepalaku yang tidak gatal ini. Supaya ide yang tepat bisa muncul secepat mungkin, walaupun aku tahu, kalau itu tidak akan berhasil.
"Sudahlah, jangan coba-coba cari alasan yang tidak masuk akal lagi. Dan jangan berpikir untuk kabur dari aku. Karna, sekali kamu jadi milikku, maka, selamanya, kamu akan tetap jadi milikku."
"Vanny, kayaknya, kamu tidak harus pulang kerumah mama dan papa. Kamu harus ingat, kamu adalah istrinya mas Lio," kata kak Nessa pada akhirnya setelah sekian lama aku menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut kak Nessa.
"Tapi kak, kamu ...."
"Tunggu kakak di kamarmu. Ada yang mau kakak bicarakan sama kamu."
"Ya sudah, aku akan kembali kekamar sekarang," ucapku dengan nada lemah.
__ADS_1
Aku melangkah menaiki anak tangga, meninggalkan kak Lio dan kak Nessa yang juga ikut bubar setelah kepergianku.
.....
Sampai di kamar, aku sedikit resah menunggu kedatangan kak Nessa. Aku sangat penasaran dengan apa yang akan ia bicarakan padaku.
Mungkin lebih dari dua puluh menit aku menunggu kedatangan kak Nessa kekamarku, namun ia belum juga datang untuk mengatakan hal yang akan ia bicarakan padaku. Aku masih menunggunya, hingga pintu kamarku diketuk oleh seseorang dari luar.
Aku pun bangun dan membuka pintu kamar ini. Saat pintu terbuka, aku melihat orang yang aku tunggu selama hampir setengah jam ini baru muncul. Aku pun mempersilakan kak Nessa masuk kekamar.
"Masuk kak," ucapku.
Kak Nessa masuk, ia duduk di sofa yang telah tersedia di samping ranjangku. Sedangkan aku, aku memilih untuk duduk di ranjang saja. Karna letaknya tidak jauh, juga berhadapan dengan kak Nessa yang sedang duduk di sofa.
"Apa maksud kakak, aku tidak mengerti. Kenapa kak Nessa malah minta aku belajar mencintai kak Lio. Bukankah, kakak dan kak Lio itu adalah suami istri."
"Vanny, dengarkan apa yang akan kakak jelaskan. Kamu tahu, kakak menikahi mas Lio itu tidak karna kakak mencintainya. Kakak tidak pernah punya rasa sedikitpun pada mas Lio. Kamu harus tahu, kalau kakak ingin kamu dan mas Lio menjadi suami istri yang seutuhnya."
"Vanny, kakak tahu, pernikahan itu bukanlah permainan. Tapi sayangnya, kakak menikahi mas Lio hanya untuk satu tujuan. Kamu tidak perlu tahu apa tujuan kakak srbenarnya, yang jelas bukan karna cinta. Kakak minta sama kamu, jangan jadi gadis bodoh yang selalu mengalah. Jangan lepaskan apa yang telah kamu gengam sekarang," ucap kak Nessa.
Aku tidak punya kesempatan untuk bicara sekarang. Karna, setiap aku ingin bicara, kak Nessa selalu mendahului aku buat bicara. Dan aku juga tidak bisa bertanya apa yang membuat aku penasaran. Karna kak Nessa sudah melarang aku bertanya duluan.
"Vanny, kamu adik kakak. Walaupun kita tidak terlahir dari rahim yang sama. Tapi aku dan kamu besar sama-sama. Aku sayang sama kamu, jangan bikin aku merasa bersalah untuk selama-lamanya."
"Aku juga sayang sama kak Nessa. Aku tidak pernah merasa kak Nessa punya salah padaku. Jadi, kak Nessa gak perlu merasa bersalah dan melakukan semua ini."
__ADS_1
"Iya baiklah, jika kamu sudah bilang kakak gak punya salah, maka kakak sangat bahagia. Dan lebih bahagia lagi, kalau kamu jadi adik penurut dan selalu memaafkan setiap kesalahan kakak."
Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalaku. Perkataan kak Nessa barusan itu terdengar seperti sedikit aneh di telinggaku. Kak Nessa seperti menyimpan sebuah rahasia besar dari aku.
"Oh ya, kakak harus berangkat kekantor duluan. Kakak gak bisa bicara lama-lama sama kamu. Ingat saja apa yang kakak katakan yah, jangan pernah melepaskan apa yang telah kamu dapatkan."
Kak Nessa pergi meninggalkan kamarku dengan sangat tergesa-gesa. Bahkan tidak menunggu aku menjawab lagi apa yang ia katakan. Aku hanya melihat kak Nessa yang semakin lama semakin menjauh lalu menghilang dibalik pintu kamarku yang tertutup.
Beberapa perkataan kak Nessa masih menyimpan tanda tanya di kepalaku. Ntah aku yang sengaja tidak bisa mencerna dengan baik, atau ada maksud tersembunyi dibalik kata-kata yang kak Nessa ucapkan.
Aku masih duduk sambil memikirkan perkataan kak Nessa. Belum beranjak sedikitpun dari dudukku yang awal kedatangan kak Nessa, hingga ia pergi dari kamarku.
Belum sampai lima menit dari kepergian kak Nessa, pintu kamarku diketuk lagi oleh seseorang. Aku langsung mempersipakan orang yang ada diluar masuk. Aku berpikir, mungkin itu adalah kak Nessa yang datang lagi. Tapi, saat orang yang diluar membuka pintu kamarku, ternyata tebakanku salah besar. Yang muncul bukanlah kak Nessa, melainkan kak Lio yang memakai baju kemeja tanpa jasnya.
"Kak Lio!" kataku sedikit kaget.
"Iya aku, kamu mengharapkan siapa? Venessa yah? Dia sudah berangkat kekantor setelah turun dari kamar kamu," ucap kak Lio.
"Ada apa kak Lio datang kekamarku?" kataku tidak memperdulikan apa yang ia katakan.
"Aku kesini hanya mau tanya sama kamu, kamu mau pindah kerumah baru atau ngak? Kalau kamu gak mau, juga gak papa sih."
"Mau."
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bilang mau sama kak Lio. Ntah apa yang ada dalam benakku saat ini. Membuat aku tidak memikir ulang pertanyaan kak Lio lagi. Aku langsung saja mengatakan mau padanya.
__ADS_1