
Malam ini, seperti yang Nessa katakan kepalaku tadi sore, ia memberikan aku waktu buat bertanya apa saja yang ingin aku tanyakan.
Sebelumnya, aku meminta Nessa untuk makan malam diluar. Tapi sayangnya, Nessa bilang ia sangat capek sehingga ia tidak bisa menerima tawaran makan malam diluar yang aku tawarkan.
Aku merasa sedikit aneh dengan Nessa, ia semakin lama semakin berubah jauh dan jauh dari yang aku inginkan. Nessa seperti bukan istriku lagi sekarang. Ia seperti orang asing yang ada dikehidupan aku saat ini.
"Ness, apakah aku boleh bertanya sesuatu pada kamu?" ucapku memulai pembicaraan kami.
Saat ini, kami sedang berada di kamar kami. Setelah makan malam, aku dan Nessa langsung masuk kamar. Sedangkan Vanny, ia tidak keluar untuk makan malam sama sekali.
Ia hanya meminta bibik membawakan makanan untuknya kedalam kamar.
Aku melihat Nessa yang sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjang kami. Aku sangat ingin tahu sesuatu dari Nessa. Tapi aku takut, Nessa akan marah padaku dan kami akan bertengkar lagi nantinya. Aku yang sudah jadi budak cinta ini, terkadang sangat takut dengan kemarahan yang akan membuat Nessa jauh dengan aku.
"Tanyakan saja apa yang mau mas Lio tanyakan. Aku akan jawab apa saja pertanyaan mas Lio malam ini."
"Nessa, apa maksud kamu meminta aku menikahi Vanny adikmu? Apa kamu punya maksud tersembunyi dengan pernikahan ini? Aku ingin kamu jujur sekarang padaku Ness," kataku sambil mengambil posisi disampingnya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat lamanya, Nessa melihat wajahku. Ia melihat mataku dengan penuh arti, namun aku tidak tahu apa arti dari tatapan itu.
"Mas Lio, jangan marah jika aku jujur padamu atas pertanyaan yang kamu tanyakan padaku ini. Awalnya, aku tidak berniat menikah dengan kamu mas. Tapi aku sadar, jika aku tidak menikah dengan kamu, maka aku tidak akan tahu siapa kamu dan bagaimana sifat kamu sesungguhnya. Malam ini aku akan jujur satu hal pada kamu, aku menikah dengan kamu bukan atas dasar cintaku padamu," kata Nessa sambil bangun dari duduknya.
Aku kaget bukan kepalang, dengan apa yang Nessa ucapkan. Selama ini, aku tidak tahu kalau Nessa tidak mencintai aku. Apakah yang ada dihadapan aku ini memang benar wanita yang selama satu tahun lebih hidup bersama dengan aku?
Aku bangun dari dudukku, lalu berjalan menghampiri Nessa yang sedang berada disamping jendela kamar kami.
"Jangan bercanda dengan aku Ness, kita menikah bukan satu atau dua bulan. Kita sudah menikah lebih dari satu tahun Nessa."
"Mas Lio, kamu ingin aku jujur bukan? Aku sudah jujur dengan apa yang kamu tanyakan, tapi kenapa kamu malah bilang aku bercanda. Aku tidak bercanda mas Lio, aku serius dengan apa yang aku ucapkan. Aku menikah dengan kamu bukan atas dasar cinta, melainkan atas dasar ingin tahu bagaimana sifat kamu sebenarnya."
"Iya, itu adalah tujuan utama aku. Dan tujuan kedua aku adalah, ingin menjadikan kamu suami adikku yang paling aku sayangi. Aku tahu kamu sangat baik mas Lio. Kamu sangat cocok dengan Vanny adikku. Ia adalah wanita yang lemah lembut dan penyayang. Kalian berdua sangat cocok. Kalian tidak akan merasa terluka jika kalian bersama," ucap Nessa dengan penuh perasaan.
"Kamu dari mana tahu kalau kami cocok. Dan kamu juga tidak akan tahu kalau kami tidak akan melukai satu sama lain. Kamu tidak tahu apa yang kami rasakan Nessa. Kamu tidak berada diposisi kami sekarang,"
"Mas Lio, aku sudah tahu siapa kamu. Kamu bisa menjaga adikku dan kamu pasti akan sangat menyayangi adikku. Hampir dua tahun aku mengenali kamu. Aku berusaha memahami sifat-sifat kamu. Aku tahu, kamu dan Vanny sangat cocok. Aku percaya, aku tidak akan membuat kamu dan Vanny kecewa dengan kalian memiliki satu sama lain."
__ADS_1
Nessa!"
Tanpa sadar, aku membentak Nessa dengan sangat keras. Reaksi yang Nessa tunjukkan sangat berbeda dengan yang biasanya. Ia tidak marah dan tidak merasa kaget saat aku membentaknya.
"Nessa, kamu pikir aku apaan hah! Bisa-bisanya kamu jadikan aku bahan percobaan untuk adik kamu. Adik kamu itu juga berhak memilih. Kenapa kamu begitu percaya diri sih. Menganggap apa yang kamu pilih adalah hal terbaik buat adik kamu. Lagian, adik kamu itu juga pasti ingin memilih sendiri suami yang ia mahu," kataku.
"Mas Lio, kamu tahukan bagaimana Vanny terpuruk dan terluka. Ia pernah mencintai, tapi ia disakiti oleh orang yang ia cintai. Hingga ia takut untuk jatuh cinta lagi. Dan ia memutuskan untuk tidak tertarik pada laki-laki manapun. Adikku sudah sangat menderita selama ia hidup. Kamu sudah tahukan apa saja yang ia lalui selama ini. Kamu tahukan, bagaimana jalan yang ia tempuh. Aku tidak ingin adikku menderita lagi, cukup sudah apa yang ia lalui di masalalu."
Nessa berkata begitu panjang lebar, aku tidak tahu mau bilang apalagi sekatang. Aku tahu semua masalalu Vanny yang sangat tidak enak.
Dari kecil, ia banyak kehilangan orang yang ia sayangi. Mulai dari nenek yang ia cinta, kakek yang paling sayang padanya, sahabat yang sama-sama besar dengannya, hingga setelah dewasa. Ia dihianatai oleh pacar yang sangat ia cintai. Kalau ingat apa yang Nessa katakan, aku jadi ingat apa yang aku lakukan pada Vanny tadi. Aku sangat merasa bersalah pada Vanny.
"Mas Lio, aku mohon pada kamu. Belajarlah mencintai Vanny. Pelan-pelan saja, aku yakin kamu pasti bisa mencintai Vanny. Aku mohon mas Lio, tolonglah aku, buat Vanny bahagia," kata Nessa sambil berlutut dihadapanku.
Aku kaget dengan apa yang Nessa lakukan. Wanita ini adalah wanita yang sangat keras awalnya. Tapi hanya untuk satu adik angkat, ia mampu membuang harga diri yang selama ini terlihat sangat tinggi.
"Bangunlah Nessa, jangan buat aku seperti ini. Kamu tidak tahu soal hati, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kamu harus ingat, cinta datang sendiri pada siapa yang ingin ia datangi," kataku sambil memegang kedua bahu Nessa.
__ADS_1
"Nessa, apakah adik angkatmu itu sangat amat berharga bagi kamu. Kenapa kamu terlihat tidak seperti kamu sekarang."
"Demi Vanny, aku akan lakukan apa saja. Sama halnya, seperti Vanny yang bisa melakukan apa saja buat aku. Ia rela berbagi apa yang ia punya hanya demi aku. Kenapa aku tidak bisa menebus apa yang ia berikan padaku," ucap Nessa.