
Hari ini juga aku memutuskan untuk pindah kerumah baruku yang telah kak Lio sediakan beberapa hari yang lalu. Kak Lio bilang, ia sudah membeli rumah ini sejak dua minggu yang lalu, namun ia tidak membicarakannya pada siapapun. Karna ia tidak ingin ada yang tahu, termasuk kak Nessa. Ia juga tidak bilang padaku soal rumah baruku. Kata kak Lio, ia tidak akan bilang soal pindah rumah padaku, kalau aku tidak bicara ingin pindah rumah.
"Bagaimana Vanny? Apa rumahnya bagus bagi kamu?" kata kak Lio saat kami sampai di sebuah rumah megah.
Aku tidak langsung menjawab saat kak Lio bertanya soal rumah yang sedang aku lihat ini. Rumahnya sangat besar dan halamannya sangat rapi. Rumah ini tidak ada bedanya dengan rumah kak Lio dan kak Nessa sebelumnya. Tapi, aku merasakan, rumah ini sedikit lebih bagus dari rumah kak Lio dan kak Nessa. Tapi aku masih belum masuk kedalam sih, aku hanya melihat dari luar saja sekarang.
"Aku tahu, kamu pasti ingin melihat dalamnya dulukan?" kata kak Lio lagi.
"Iya," ucapku singkat.
"Ayo," kata kak Lio sambil mengandengan tanganku.
Kak Lio pun membuka pintu rumah itu. Saat pintu terbuka, dalaman rumah terlihat sedikit oleh mataku yang begitu penasaran.
"Ayo Vanny, kamu bisa lihat sesuka kamu. Jika ada yang tidak kamu sukai, kamu bisa hilang padaku dan aku akan segera menggantikannya."
Aku pun masuk sambil melihat sekeliling rumah ini. Tingkahku saat ini seperti orang yang belum pernah melihat rumah mewah saja. Mataku menyapu setiap sudut ruangan-ruangan yang ada di rumah ini. Sedangkan kak Lio, ia dengan sabar mengikuti aku dari belakang.
Rumah ini terlihat sempurna, bukan hanya dekorasinya yang cantik, semua yang ada didalam rumah ini sangat cocok dengan perpaduan yang ditimbulkan dari segala desainer rumah ini. Aku merasa, yang mengatur dekor rumah ini, pasti orang yang sangat berbakat.
Ternyata, rumah ini bukan hanya dilihat dari luarnya yang indah. Didalam rumah ini ternyata lebih indah dari yang aku duga. Semua yang ada di sini tertata dengan rapi. Mulai dari ruang tamu yang sesuai dengan seleraku, hingga dapur dan semua peralatannya. Pokoknya, semua sesuai dengan seleraku yang mungkin agak rendahan ini kali yah. Karna, aku sudah merasakan, ini sangat sempurna sekarang.
"Apa kamu mau lihat kamar kamu Vanny?" kata kak Lio membuyarkan lamunanku.
"Oh, boleh kak."
"Kamu tinggal pilih saja, kamar yang mana yang kamu suka, terserah pada kamu. Tapi, aku sarankan kamu tinggal di kamar atas saja. Karna diatas lumayan nyaman kayaknya."
"Ayo lihat kamar atas, nanti aku akan putuskan," ucapku penuh semangat.
__ADS_1
Aku dan kak Lio pun naik tangga menuju lantai atas. Tidak ada pembicaraan antara aku dan kak Lio selama kami menuju lantai atas rumah ini.
Setelah kami sampai di lantai atas rumah ini. Kak Lio pun membuka pintu salah satu dari dua kamar yang ada di lantai atas rumah ini. Saat pintu terbuka lebar, seisi kamar pun terlihat dengan sangat jelas di mataku.
Aku masuk kedalam kamar ini, kamar ini sangat luas dan terlihat sangat nyaman. Kamarnya punya gorden dan seprei yang berwarna serba hijau. Ada lampu jamur juga berwarna hijau. Hiasan kamar ini juga terlihat sangat sesui dengan selera aku. Nuansa alami yang sangat kental dan terlihat sangat menenangkan hatiku.
"Bagaimana Vanny, apa kamu suka dengan kamar ini?"
"Iya kak Lio, aku senang banget dengan kamar ini. Aku rasa, yang mendekor kamar ini, pasti punya selera yang sangat bagus," ucapku tanpa sengaja.
Kak Lio tersenyum manis, ia terlihat sangat senang saat mendengarkan apa yang aku katakan barusan.
"Terima kasih buat pujiannya Vanny," kata kak Lio sambil senyum.
"Maksud kak Lio?" kataku sangat penasaran.
"Baru saja aku dapat pujian yang tulus dari seorang pengagum rahasiaku. Aku ucapkan terima kasih banyak," kata kak Lio lagi.
"Vanny, kamar ini, semuanya aku yang dekor. Eh bukan aku yang dekor, tapi, semua yang ada di sini atas permintaan aku."
"Apa? Kak Lio bohongkan," kataku sangat kaget.
"Kenaoa kamu kaget, bukan hanya kamar ini saja Vanny. Tapi seluruh rumah ini, semuanya atas saran dan permintaan dari aku. Aku yang mengarahkan semuanya untuk mendekor rumah ini. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. Dan juga, dari luar hingga dalam, itu semua aku yang mengawasi setiap pekerjaan mereka."
Aku seakan tidak percaya dengan apa yang kak Lio katakan. Ternyata, rumah ini adalah hasil dari pemikiran kak Lio sendiri. Semuanya terlihat sangat sempurna buat aku.
Yang paling tidak enaknya adalah, aku baru saja memuji kak Lio secara terang-terangan di hadapannya.
Ya ampum, apa yang aku lakukan. Awalnyakan aku tidak mentangka, kalau rumag ini ada campur tangan kak Lio. Karna yang aku tahu, kak Lio itu sangat sibuk. Mana mungkin ia mau menghabiskan waktunya hanya buat aku. Tapi kenyataannya malah sebaliknya, bukan hanya campur tangan, malahan semua rumah ini atas keinginan kak Lio.
__ADS_1
"Kenapa kamu bengong, apa kamu masih tidak percaya jika aku yang melakukan semua ini?"
"Tidak-tidak, aku percaya sama kak Lio."
"Bagus deh kalo kamu percaya. Kamu bisa beres-beres barang-barang kamu sendirikan. Aku harus kembali kekantor, karna ada rapat penting."
"Iya, aku bisa kok sendiri di sini. Gak usah cemas soal aku," kataku dengan sedikit rasa malu.
"Kamu tidak akan sendiri di sini Vanny. Bibik akan tinggal bersama kamu di sini," kata kak Lio.
"Bibik?"
"Iya, bibik. Aku sudah minta bibik ikut tinggal sama kamu. Karna aku yakin, bibik pasti bisa jaga kamu di rumah ini."
"Gimana dengan rumah kak Lio di sana, jika bibik ikut aku, maka rumah kalian tidak ada yang mengurusnya."
"Jangan cemas soal itu, aku akan carikan asisten rumah tangan yang baru biat Nessa."
"Oh, ya sudah. Semoga kak Nessa tidak marah soal ini," ucapku sedikit takut.
"Untuk apa dia marah, bibik itu adalah orang yang aku pekerjakan, bukan orang Nessa."
"Bagaimana sama kak Lio jika bibik gak ada?"
"Tidak perlu mencemaskan aku," kata kak Lio.
"Oh ya, aku harus pergi sekarang. Karna sebentar lagi, aku akan ada rapat penting. Aku tinggal dulu," kata kak Lio sambil beranjak pergi.
Belum sempat aku menjawab perkataannya, kak Lio sudah meninggalkan aku saja. Ia susah menghilang dibalik pintu kamar dengan cepat.
__ADS_1
"Ya ampun, apakah mereka itu punya kebiasaan yang sama. Pergi sebelum orang menjawab perkataan mereka, kayaknya, itu adalah kebiasan bagi mereka berdua."