
Aku meninggalkan mereka berdua disana. Aku selalu merasa tidak nyaman saat berada ditengah-tengan kak Nessa dan kak Adelio.
Setelah sampai dikamar, aku bukannya langsung mandi, malahan berbaring diatas kasurku. Aku memikirkan tatapan kak Lio yang barusan itu. Rasanya sangat menakutkan jika aku pikir-pikir lagi.
Ya ampun, baru hari pertama aku disini, rasanya sudah sangat menakutkan. Bagaimana jika aku tinggal lebih lama disini, apa mungkin aku akan membuat lebih banyak masalah lagi?
.....
Selesai mandi dan memakai pakaian, aku pun berniat untuk turun kebawah. Aku ingin melihat, apakah ada yang bisa aku makan sekarang. Karna perutku saat ini sangat amat lapar. Jam makan malam memang sudah lewat. Iya, mana ada orang makan malam jam sembilan malam. Inikan waktunya orang tidur bukan?
Saat makan malam tadi, aku sengaja tidak turun makan bersama kak Nessa dan kak Lio. Aku tidak ingin makan bersama mereka. Yang benar saja, aku jadi manusia kedua diantara mereka terus menerus. Cukup sudah aku muncul dalam kehidupan kak Nessa dan kak Lio. Munculnya jadi istri kedua lagi, hal yang sangat tidak enak buat aku.
Saat aku ingin menuruni anak tangga, aku mendengar sebuah pertengkaran dibawah sana. Aku membatalkan niatku untuk turun. Aku naik lagi, dan mendengarkan apa yang kak Nessa dan kak Lio omongkan.
"Nessa, kamu ini gak cukup-cukup apa memaksa aku. Pertama, kamu maksa aku buat nikah dengan adik kamu. Aku turuti karna aku sangat cinta pada kamu. Sekarang, kamu maksa aku buat tidur dengan dia malam ini. Kamu memang gak punya hati," kata kak Lio.
"Mas, aku bukannya gak punya hati. Kamu dan Vanny kan baru nikah. Jadi kalian harus tidur sekamar dong malam ini," kata kak Nessa.
"Aku gak pernah bertemu wanita seperti kamu Nessa. Kamu rela membagikan aku dengan wanita lain. Aku gak tahu, apakah kamu itu beneran cinta sama aku atau hanya cinta setatus sebagai istri aku saja."
"Mas, apa yang kamu katakan. Aku cinta pada kamu, dan aku juga sayang banget padamu. Bukan harta yang aku kejar, aku jadi istri kamu itu memang tulus cinta sama kamu."
"Bukan gini yang dinamakan cinta Nessa. Kamu gak akan rela membagikan aku. dengan wanita lain jika benar kamu mencintai aku."
"Aku juga gak akan membagikan kamu dengan wanita lain jika aku bisa jadi istri sepenuhnya buat kamu. Aku tidak bisa memenuhi kewajiban aku sebagai istri. Dan keluarga kamu sangat membutuhkan anak dari kamu sebagai penerus keturunan."
__ADS_1
"Itu bukan alasan yang tepat Nessa. Aku sudajh bilang sama mama, kita bisa ambil anak di panti asuhan sebagai anak angkatkan. Dan soal kamu bisa atau tidak jadi istri sepenuhnya buat aku. Itu masalah belakangan, gak perlu dicemaskan soal itu."
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas semua ini lagi mas. Kamu gak pernah berada diposisu aku, makanya kamu gak tahu apa yang aku rasakan."
"Kamu juga gak berada diposisi aku Nessa, kamu juga gak tahu apa yang aku rasakan."
"Jangan bahas tentang kita lagi, aku mau kamu sekarang juga naik keatas dan tidur dikamar Vanny," kata kak Nessa sambil mendorong kak Lio.
"Nessa!"
Suara tinggi kak Lio pun terdengar disetiap sudut rumah. Ia terlihat sangat kesal saat kak Nessa terus memaksanya untuk naik keatas dan tidur dikamar bersama aku.
"Mas Lio, cobalah kamu mengerti!"
Perkataan kak Nessa yang terakhir membuat kak Lio tidak berkutik sedikit pun. Ia tidak bisa membantah lagi apa yang kak Nessa katakan. Saat kak Nessa bicara dengan nada tingginya. Kak Lio tidak menjawab, ia malah tertunduk dan pergi meninggalkan kak Nessa.
Aku yang sedari tadi terpaku diambang pintu, dengan cepat membuka pintu dan masuk kedalam. Aku jadi kalang kabut, bingung harus berbuat apa.
Apakah aku harus pura-pura tidur? Aku sangat bingung saat pintu kamar itu diketuk oleh seseorang dari luar, hariku semakin tidak karuan.
Tanganku sangat berat untuk membuka pintu kamar itu. Ada rasa tidak enak dan ada rasa takut juga dihatiku saat ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sementara, pintu semakin keras saja diketuk dari luar.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk membuka pintu itu. Disana, kak Lio sedang berdiri tegak sambil terlihat sangat kesal.
"Bisakah kamu tidak mengunci pintu ini?" katanya sambil masuk kedalam kamarku.
__ADS_1
Aku tidak menjawab apapun, aku malah mematung didepan pintu kamarku sambulil melihat kak Lio masuk dan berbaring diatas kasurku.
Kak Lio melihat aku yang sedari tadi bagaikan patung penjaga pintu saja. Ia menatapku sesaat lamanya.
"Kamu ngapain di sana? Aku tidak butuh penjaga pintu untuk menjagaku saat ingin tidur," kata kak Lio.
"Tutup pintunya dan tidur, hari sudah malam."
Aku pun melakukan apa yang kak Lio katakan. Aku tidak tahu harus apa saat ini, rasanya sangat cangung buat aku. Aku tidak bisa tidur bersama kak Lio saat ini. Rasanya sangat aneh jika aku tidur disampingnya.
Aku masih berdiri disamping ranjangku. Aku tidak berniat untuk tidur bersama dengan kakak iparku, walaupun saat ini dia adalah suami sah aku.
"Apa kamu tidak bisa tidur dengar berbaring. Aku tidak bisa tidur kalau kamu masih saja melihat aku seoerti itu," kata kak Lio.
"Aku ... aku mau tidur di sofa saja," kataku sambil mengambil bantal.
"Kenapa harus tidur di sofa? Apa disamping aku tidak ada tempat untuk tidur lagi?"
"Bukan begitu, aku tidak terbiasa tidur satu ranjang dengan seseorang."
"Mulai sekarang harus biasa, karna kamu bukan sedang berada dirumahmu. Melainkan, kamu berada dirumah aku. Jadi biasakan saja dengan apa yang terjadi dirumahku," kata kak Lio sambil membelakangi aku.
Aku hanya diam saja, aku tidak berniat untuk menjawab apa yang kak Lio katakan. Masa iya dia mau aku melakukan apa yang ia mau. Walaupun aku tidak tidur dirumahku, tapi aku juga ingin melakukan apa yang aku lakukan dirumahku.
"Kamu masih belum tidur juga, apa kamu mau aku angkat dan aku yang memaksa kamu tidur."
__ADS_1
"Tidak ... tidak perlu, aku akan tidur sendiri."
Mau tidak mau, aku pun berbaring disamping kak Lio dengan sangat pelan. Aku memberi jarak untuk kami berdua dengan bantalku. Aku rela tidur tanpa batal hanya untuk memberi jarak antara kami. Karna gulingku, sedang dalam pelukan kak Lio.