
Sampai didalam mall, kak Lio melihat kesana kesini. Didalam mall ini sangat amat ramai sekali. Ini hal yang paling aku tidak sukai di mall. Suasananya sangat ramai dan begitu berisik sekali.
Kak Lio memegang erat tanganku saat ini. Aku melihat tanganku, lalu melihat wajah kak Lio yang seperti tidak ada masalah dengan hal itu.
"Sepertinya sangat ramai hari ini Vanny. Sebaiknya, kamu selalu berada disampung aku yah. Agar tidak mudah hilang dikeramaian ini," ucap kak Lio.
Aku tidak menjawab, awalnya, aku pikir kak Lio tidak sadar kalau ia sedang memegang tanganku. Tapi ternyata, ia sengaja melakukan hal itu agar aku tidak hilang dalam keramaian mall ini.
"Vanny, kamu pilih aja apa yang ingin kamu beli di mall ini. Selesai kamu belanja nanti, kita akan pindah belanja di pasar yah."
Aku kaget, aku pikir kami hanya akan belanja di sini saja. Tapi ternyata, kak Lio membawa aku kesini hanya untuk membeli apa yang aku butuhkan.
"Kak Lio, emangnya kita kesini itu untuk belanja apa sih?"
"Ya untuk beli barang apa yang kamu maulah. Masa untuk beli barang yang aku mau sih," kata kak Lio sambil senyum.
"Aku tidak butuh apa-apa lho kak, kenapa harus beli barang yang aku mahu."
"Ya sudah, kalau tidak ada barang yang kamu inginkan. Lebih baik, kamu beli baju saja Vanny. Sejak kamu tinggal di rumah akukan, kamu tidak pernah keluar dari rumah. Dan hanya memakai baju yang kamu bawa dari rumah kamu sajakan."
"Aku rasa tidak perlu kak Lio, aku masih punya banyak baju yang bisa aku pakai."
"Tidak apa-apa, sebaiknya, ikuti saja apa yang aku katakan. Jangan bikin mama sama papa kamu berpikir, kalau aku tidak memperhatikan kamu."
"Baiklah kalau gitu," kataku pada akhirnya.
Kini aku tahu apa yang kak Lio maksud. Ia hanya tidak ingin terlihat memalukan dihadapan mama dan papaku saja. Ia tidak ingin dibilang pelit sama mama dan papa. Sebaiknya, aku juga begitu. Aku harus buat mama sama papa tenang saat melihat aku baik-baik saja dan kak Lio sangat perhatian padaku.
.....
__ADS_1
Kami pun menuju tempat jualan baju. Kak Lio meminta aku memilih apa saja yang aku sukai. Aku pun mengikuti apa yang kak Lio katakan. Aku memilih dua baju untuk aku coba dahulu. Kalau aku merasa cocok, maka aku akan beli salah satu dari baju ini.
"Apa kamu mau dua baju ini Vanny?" kata kak Lio tiba-tiba saja.
"Tidak kak, aku hanya ingin beli satunya saja. Tapi aku bingung sama yang mana yang paling cocok sama aku. Makanya aku ambil dua dan aku mau coba dahulu," ucapku sambil membawakan baju itu kedalam ruang ganti.
.....
Setelah mencoba, aku pun kembulatkan tekat untuk memilih salah satu baju yang aku bawa tadi. Aku tidak berniat untuk meminta pendapat kak Lio. Makanya, aku mencoba sendiri saja.
Saat aku keluar, aku melihat kak Lio sedang meminta pelayan itu membungkuskan sebuah baju yang berwarna hijau. Baju itu sangat cantik dan terlihat sangat cocok jika aku yang memakainya.
Tapi tunggu, baju yang dia bungkus itu pasti bukan untuk aku, melainkan untuk kak Nessa yang sangat ia sayangi. Aku tidak boleh terlalu berharap untuk baju itu.
Setelah pelayan itu mengantarkan bajunya kemobil. Aku baru bisa keluar dari tempat di mana aku bersembunyi tadi. Aku melakukan hal ini, agar kak Lio tidak terlihat aneh saat melihat aku.
Bukan kak Lio yang terlihat aneh nantinya, melainkan aku. Aku tidak ingin wajahku terlihat tidak enak saat kak Lio tahu kalau aku sudah tahu dia sedang memilih baju buat kak Nessa. Aku harus menjaga hatiku dan hati kak Lio juga.
"Apa kamu yakin dengan baju ini?" kata kak Lio sambil memegang baju yang aku serahkan pada pelayan itu.
"Ya kak, aku yakin ingin pilih yang itu saja."
"Apa kamu tidak ingin kedua-duanya Vanny?"
"Tidak kak, aku hanya butuh satu saja. Tidak perlu banyak-banyak. Kapan aku bisa memakainya jika baju terlalu banyak," ucapku.
"Ya sudah, kamu tunggu aku di mobil saja yah. Biar aku yang bayar baju ini dulu."
Aku tidak berani membantah apa yang kak Lio katakan. Aku langsung saja pergi meninggalkan kak Lio dengan pelayan itu. Ntah apa yang mereka bicarakan, aku juga tidak tahu.
__ADS_1
Aku sampai di mobil dan duduk dengan tenang. Aku memainkan ponselku sambil menunggu kak Lio keluar dari mall itu.
.....
Beberapa menit lamanya aku menunggu. Akhirnya, kak Lio keluar juga dari dalam mall dengan barang ditangannya. Barang itu pastilah baju aku yang ia bayar tadi.
Tidak ada kata saat ia masuk kedalam mobil. Ia hanya masuk lalu meletakkan barang itu ditempat duduk belakang. Lalu menjalankan mobilnya meninggalkan mall tersebut.
Terkadang, kak Lio bersikap manis dan hangat. Namun, di saat yang sama, ia juga bersikap dingin dan tidak bersahabat. Aku tidak tahu, bagaimana sikap kak Lio yang sesungguhnya. Apakah yang bisa membuat kak Lio selalu bersikap berubah-rubah dan tidak bisa ditebak.
Kami sama-sama tidak bersuara, hingga mobil berhenti disebuah pasar bahan panggan yang sangat besar dan tertata sangat rapi. Aku baru pertama kali sampai di sini. Apakah ini tempat orang kaya berbelanja. Ini sangat bersih dan terlihat begitu rapi. Tidak sama dengan pasar yang pada umumnya.
"Ayo Vanny, kita turun."
"Iya kak."
"Oh ya, tunggu dulu. Kamu punya niat mau masak apa nanti?"
"Aku mau masak apa yah, aku belum punya ide sama sekali kak Lio."
"Ya sudah, kalau begitu, biar aku bantu kamu masak nanti yah. Kita masak ikan asam pedas saja, gimana?"
"Boleh juga, aku bisa masak apa saja. Pikirkan saja apa yang mau aku masakkan, maka aku akan masak buat kita makan siang," ucapku penuh semangat.
Aku seakan lupa dengan siapa laki-laki yang ada dihapanku saat ini. Aku tidak ingat, bagaimana sikapnya selalu tidak jelas. Aku lupa, kalau dia adalah kakak ipar aku.
"Ya sudah kalau gitu, ayo kita sama-sama belanja."
Aku dan kak Lio pun belanja sama-sama dipasar ini. Kami membeli ikan, sayuran, dan lain sebagainya. Hingga keranjang yang kami bawa terisi penuh.
__ADS_1
Aku dan kak Lio pun memutuskan untuk segera kembali saat kami telah selesai membeli semua barang yang kami butuhkan.