
Kabar tentang kehamilanku, mungkin sudah sampai ketelingga kak Nessa. Soalnya, aku sering melihat ada mobil seseorang berhenti di seberang jalan rumahku.
Mobil itu seperti mobil milik kak Nessa. Karna aku sangat hafal, apa warna dan bentuk mobilnya kak Nessa. Hanya saja, aku tidak ingat plat mobilnya.
Sejak aku hamil, rumah ini tidak lagi sepi. Rumah ini selalu ramai dengan dua mama yang selalu siap melayani semua kebutuhanku.
Mama dan papaku, juga mama mertua aku, saat ini mereka menginap di rumah kamu. Mereka tidak akan membiarkan aku tinggal sama bibik, saat kak Lio pergi kerja.
Bukan tidak percaya sama bibik, hanya saja, kata mama, lebih ramai yang menjaga aku, maka lebih baik.
Kak Lio juga berpendapat seperti itu. Apalagi setelah kejadian di rumah sakit waktu itu, ia semakin menjaga aku dengan ekstra ketat lagi.
Venessa Pov
"Nessa, apa kamu sudah tahu kalau Vannya sedang hamil sekarang?" kata Pandu sambil duduk di sampingku.
"Ya, aku sudah tahu soal itu. Ada apa memangnya?"
"Kamu gak papa saat mendengarkan kabar kehamilan Vannya?"
Aku terdiam untuk beberapa saat. Pertanyaan itu membuat ada yang salah dalam hatiku. Pertanyaan yang sebenarnya, tidak perlu ditanyakan lagi.
Siapa yang tidak apa-apa, aku apa-apa banget sebenarnya. Tapi bagaimana lagi, semua ini terjadi juga karna aku. Karna keinginanku untuk menyatukan mereka.
Aku sebenarnya tidak tahu, sejak kapan aku punya rasa cinta dan rasa sayang pada mas Lio. Aku tidak ingin ini terjadi, tapi ini sudah terlambat untuk aku sesali.
"Nessa, apa yang kamu pikirkan. Jangan bilang kamu menyesal telah menyatukan non Vannya dengan Tuan Lio," kata Pandu membuayarkan lamunanku.
"Nyesal apaan sih Pandu? Tidak ada kata menyesal buat aku selama inu tahu gak," kataku dengan sedikit nada penekanan.
"Hahahah ... jangan bohongi diri kamu sendiri Venessa. Aku tahu, kalau kamu merasa cemburu saat ini bukan?"
__ADS_1
Aku kaget dengan perkataan seseorang yang tidak asing lagi bagi aku saat ini. Aku sangat hafal dengan suara yang tertawa itu. Aku dan Pandu pun melihat secara bersamaan asal dari suara itu.
"Ramon!" kataku kaget.
"Ramon?" kata Pandu sambil melihat kearahku.
"Ya Venessa, ini aku Ramon. Kamu kok bisa kaget gitu sih?" kata Ramon santai sambil bersandar di depan pintu masuk ruang kerjaku.
"Kenapa kamu bisa masuk kesini? Apakah di luar tidak ada penjaga, sehingga memniarkan orang seperti kamu masuk kedalan kantorku?"
"Tidak perlu memikirkan soal itu Venessa. Hal yang tidak penting seperti itupun kamu pikirkan."
"Aku sarankan padamu, pikirkan saja hatimu yang sedang cemburu dan sakit saat ini," kata Ramon sambil berjalan kearah aku dan Pandu.
"Jangan pernah ikut campur urusan aku, Ramon. Kamu itu laki-laki biad*b, tidak perlu muncul di depan aku lagi."
"Biad*b mana aku sama kamu Venessa. Kamu yang membuat Vannya kehilangan cinta dan kamu juga yang membuat Vannya kehilangan neneknya," kata Ramon sambil mendekati aku.
"Siapa kamu ikut campur urusan aku dan Venessa. Kamu itu orang baru, dan hanya sebatas sopir Venessa saja. Jadi jangan coba-coba menujukkan taringmu," ucap Ramon sambil menepis tangan Pandu dari bajunya.
"Kamu ...."
"Cukup! Aku bilang cukup! Jangan bikin keributan lagi di kantorku. Kalian gak lihat ini adalah kantor?"
Aku berusaha menengahi di antara Pandu dan Ramon. Aku tidak ingin mereka berdua terlibat baku hantam dan menghancurkan semua yang ada di dalam ruanganku saat ini.
Lagian, para karyawanku yang berada di luar sana, melihat dengan tatapan yang takut akan terjadi sesuatu pada kamu yang ada di dalam ini.
"Kalian berdua ikut aku sekarang!" kataku sambil mengambil tas dan segera berjalan keluar.
Dari pada jadi bahan tontonan semua karyawanku, lebih baik aku bawa mereka keluar dari ruangan ini. Dan aku jauhkan mereka dari kantorku.
__ADS_1
"Mau kemana kita Ness?" kata Pandu saat sudah masuk kedalam mobil.
"Kita balik kerumah saja," ucapku singkat.
"Yang benar saja kamu, masa kamu ingin bawa laki-laki ini pulang kerumah sih. Kalau Tuan Lio tiba-tiba pulang bagaimana?" kata Pandu dengan sangat cemasnya.
"Sudahlah, lakukan saja apa yang aku katakan. Mas Pandu tidak akan pulang kerumah. Apa kamu lupa, Vannya sedang hamil dan ia akan menjaga Vannya selamanya."
Dibalik perkataanku itu, senenarnya, aku memang menyimpan rasa kecewa dan sakit hati. Aku cemburu pada perlakuan mas Lio terhadapat Vannya. Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa lagi soal rasa cemburuku.
"Venessa, kamu kecewa sekali kayaknya dengan suami kamu itu," ucap Ramon yang duduk disebelahku. Ia memperlihatkan giginya dan tersenyum menyeringai.
"Jangan banyak bicara, aku tidak kecewa sama sekali. Yang ingin mereka bersama itu adalah aku, kenapa aku harus kecewa?" kataku dengan nada kesal pada Ramon.
Bukannya menjawab, Ramon malah tertawa dengan apa yang aku katakan. Ia menertawai aku dengan tawa renyahnya.
Hal ini semakin membuat kesal hatiku. Aku rasanya sangat ingin mencekik leher Ramon, agar laki-laki ini mati segera.
"Diam Ramon! Apa yang lucu sampai kamu harus tertawa lebar seperti itu hah!" kataku dengan sangat keras.
"Kamu itu sangat munafik Venessa, hatimu berkata lain, mulutmu berkata lain. Benar-benar wanita yang munafik, sangat munafik," kata Ramon masih dengan tertawa yang belum ia selesaikan.
Hal ini membuat aku sangat kesal dan tidak bisa membendung amarahku lagi saar ini. Aku kesal, bahkan sangat amat kesal.
Tanpa sadar, aku mencekik leher Ramon dengan sangat erat. Membuat laki-laki itu kaget dan berusaha melepaskan tanganku dari lehernya.
Pandu yang sedang fokus pada jalanan yang kami lalui saat ini, ketika melihat kejadian itu, ia tidak fokus lagi.
Pandu berusaha membuat aku melepaskan Ramon. Ia takut kalau aku mencekik Ramon hingga laki-laki itu mati.
"Lepaskan dia Venessa! Lepaskan dia! Kamu bisa membunuhnya. Jika ia mati, kamu akan di penjara," kata Pandu dengan sangat keras.
__ADS_1
Laju mobil pun tidaj seimbang lagi. Pandu tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Ia ingin membuat aku melepaskan Ramon, tapi ia juga tidak bisa membiarkan mobil tanpa kendali.