
Sampai di kamar, aku bukannya langsung tidur. Aku malah melihat keluar dan menikmati angin malam. Udara yang berhembus lembut membuat aku merasa sedikit nyaman namun juga terasa sedikit dingin. Aku lihat langit malam, terlihat tidak bersahabat, karna langit malam ini agak sedikit mendung.
Mungkin malam ini akan turun hujan, karna terlihat sangat gelap dan tidak muncul satu bintang pun untuk menemani sang malam yang gelap.
Aku memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar. Aku tutup pintu yang menghubungkan kamar dan balkon itu. Aku rasa, lebih baik aku tidur saja. Tidak ada yang aku bisa lakukan lagi sekarang. Mood untuk nonton drama yang aku sukai juga sudah tidak ada lagi. Karna sudah hilang saat aku memikirkan hal-hal yang tidak enak buat hatiku.
.......
Adelio POV
Malam ini, aku pulang malam karna terlalu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dikantor. Aku harus lembur malam ini, karna kemarin, aku meninggalkan begitu banyak pekerjaan dikantor akibat Vanny sakit. Tapi itu bukan salah Vanny sih, karna didunia ini, tidak ada seorang pun yang suka sakit.
Aku mencoba menghubungi Nessa, tapi ia tidak menjawabnya sama sekali. Nessa selalu saja seperti itu saat berada diluar kota. Saat pulangnya, ia akan berkata, kalau ia tidak punya waktu buat menghubungi aku. Aku berusaha untuk mengerti bagaimana sibuknya Nessa diluar kota. Walaupun rasanya sedikit aneh, karna jika itu aku yang berada diluar kota. Maka aku selalu punya waktu untuk menghubunginya.
Nessa memang wanita karier yang sibuk. Hingga tak jarang, waktu buat aku ia lupakan. Ia selalu saja bilang, kalau ia capek kerja dan tidur lebih awal. Padahal, aku dan Nessa kan sama-sama bekerja. Saat aku meminta hakku, Nessa selalu punya cara untuk menghindarinya. Aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Sebagai suami yang baik, aku berusaha mengerti dan bersabar menghadapi Nessa. Karna aku sangat cinta sama Nessa. Apapun yang ia lakukan, aku coba menerima dengan pikiran positif. Walaupun, itu hal-hal yang negatif.
Saat aku sampai di rumah, aku lihat hanya ada bibik. Aku melihat sekeliling, untuk menemukan Vanny. Entah kenapa, aku mulai bisa menerima kehadiran Vanny di rumah ini. Bukan hanya di rumah ini, aku mulai bisa menerima Vanny berada disisiku. Walau belum bisa terima, kalau Vanny adalah istri kedua aku.
"Tuan Lio mencari Nyonya muda ya?" kata bibik.
"Ng ... ngak kok bik," ucapku berusaha menyangkal.
"Oh, kirain Tuan Lio sedang mencari Nyonya muda. Nyonya muda awalnya ingin menunggu Tuan pulang, tapi ntah kenapa, mood Nyonya muda berubah. Ia memutuskan untuk tidur lebih awal," kata bibik menjelaskan.
Aku yang awalnya pura-pura tidak ingin tahu di mana Vanny. Akhirnya, merasa puas dengan bibik yang langsung menjelaskan apa yang ingin aku dengar.
__ADS_1
Bibik memang sangat tahu apa yang aku rasakan. Bagaimana tidak, bibik ini adalah orang yang awalnya bekerja di rumah aku dulu. Tapi saat aku menikah dengan Nessa, aku membawa bibik ikut bersamaku dan Nessa membawa Pandu sopirnya, ikut pindah bersamanya.
"Tuan muda," kata bibik manggil aku dengan sebutan yang sudah lama tidak pernah aku dengar.
"Ada apa bik?"
"Maafkan bibik, bibik gak sengaja panggil Tuan dengan sebutan Tuan muda. Kalau ada Nyonya Nessa, bisa gawat bibik."
"Gak papa bik, aku tidak pernah keberatan dengan panggilan apapun. Nessa saja yang terlalu berlebihan pada orang lain," ucapku.
Aku tidak pernah ingin membandingkan antara Nessa yang telah lama menjadi istriku, dengan Vanny yang baru saja masuk kedalam kehidupan aku. Tapi, beda Nessa dan Vanny itu sangat jauh. Terlihat begitu jelas, kalau sifat mereka itu berbeda.
Vanny dan bibik walaupun baru kenal, mereka sudah terlihat akrab. Sedangkan Nessa dengan bibik, sudah sangat lama tinggal satu atap, tidak pernah terlihat akrab sedikitpun. Itu karna Nessa selalu memandang rendah orang yang berada di bawahnya.
"Tuan Lio, apa Tuan mau makan sebelum tidur?" kata bibik saat aku baru memegang gagang pintu kamarku.
"Gak usah bik, aku udah makan tadi di kantor."
"Oh, baiklah. Kalau Tuan Lio lapar, panggil saja bibik ya," kata bibik.
"Iya bik."
Bibik beranjak untuk meninggalkan aku. Tapi sebelum itu terjadi, aku ingat pada sesuatu.
"Oh ya bik, apa Vanny udah makan?"
__ADS_1
"Nyonya Vanny udah makan kok Tuan."
"Sama siapa iya makan?"
Aku menanyakan hal itu, karna aku ingat satu hal. Kalau Vanny tidak suka makan sendirian, karna ia sudah terbiasa makan bersama sejak ia masih kecil.
"Nyonya ... Nyonya muda makan bersama saya Tuan," ucap bibik sambil menundukkan kepalanya.
"Oh, ya sudah."
Bibik terlihat agak takut saat aku menanyakan Vanny makan sama siapa. Mungkin, bibik takut aku marah saat tahu Vanny makan bersamanya. Jujur saja, aku tidak pernah keberatan sama sifat Vanny yang terlihat begitu lembut pada siapapun. Ia menganggap semua orang itu sama saja. Hal itu sebenarnya adalah hal istimewa yang aku rasakan. Vanny tidak menganggap orang lain rendah dimatanya. Itulah yang aku maksud istimewa dari Vanny.
Aku masuk kedalam kamar, dan berusaha untuk tidak terus-terusan memikirkan kelebihan Vanny dan Nessa. Aku tidak bisa terus membandingkan istriku dengan Vanny yang baru muncul. Mungkin, sifat Vanny yang asli belum terlihat, karna ia masih baru di rumah ini.
......
Selesai mandi, aku langsung bersiap-siap untuk tidur. Aku menutup gorden kamarku, dan melihat, cuaca sedikit tidak bersahabat malam ini. Karna langit terlihat sangat gelap dan kilat terus saja menyambar-nyambar, walaupun tidak terlalu kuat.
Sedikit demi sedikit, hujan mulai turun. Aku masih belum bisa tidur saat ini. Bukan hanya hujan yang turun, guntur pun menggelegar. Guntur terdengar sangat kuat, bagai mrmbelai bumi. Seiring guntur itu, samar-sama aku mendengarkan suara jeritan dari kamar atas.
Aku yang kaget, cepat-cepat berlari menaiki anak tangga. Aku takut terjadi sesuatu pada Vanny.
Aku segera membuka pintu kamar Vanny. Untungnya, pintu kamar itu tidak terkunci, karna kuncinya sudah rusak akibat aku dobrak dan belum sempat aku betulkan. Bukan aku, tapi tukang yang akan membetulkannya.
Aku pun melihat-lihat kamar, tidak ada Vanny diatas kasur. Hatiku mulai cemas, aku takut kalau terjadi sesuatu pada Vanny. Maka aku akan dituduh, menyakiti Vanny oleh keluarganya.
__ADS_1