Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
20


__ADS_3

Aku penasaran, apakah kak Lio pernah berbelanja bersama kak Nessa selama ia menikah. Karna yang aku tahu, kak Nessa ini sangat anti sama pasar dan tempat-tempat yang ramai.


Kak Nessa biasanya kalau mau beli baju, ia akan datang kebutik elite yang tidak banyak dikunjungi oleh orang biasa. Ia juga akan makan tempat yang berkelas dan hanya dikunjungi oleh orang kaya. Sedangkan dengan pasar, selama ia gadis dulu, mana pernah ia mendatangi tempat itu. Sebersih apapun pasar itu, yang namanya pasar, maka tidak akan pernah kak Nessa kunjungi.


Aku penasaran, tapi tidak berniat untuk bertanya pada kak Lio soal kak Nessa. Mana bisa aku bertanya soal kak Nessa pada kak Lio. Itu sama aja, aku meminta kak Lio membandingkan antara aku dan kak Nessa.


....


Akhirnya, kami sampai kerumah. Kak Lio membawa semua barang belanjaan kami. Bibik membantu barang yang dari pasar, sedangkan kak Lio membawa barang yang kami beli dari mall tadi.


Aku sudah siap di dapur sekarang. Aku mau mulai masak makanan yang telah kak Lio bilang tadi. Saat aku telah siap dengan peralatan masakku, kak Lio tiba-tiba saja datang.


"Lho, kak Lio kak kesini sih. Ada apa yah? Apa mama dan papaku sudah datang?" ucapku agak kaget.


"Belum, aku datang kesini ingin bantu kamu masak Vinny," ucap kak Lio santai.


Aku kaget dengan apa yang kak Lio bicarakan. Aku sangat tidak percaya, kalau kak Lio ingin bantu aku masak sekarang.


"Kamu kok terlihat kaget gitu Vinn, ada yang aneh dengan apa yang aku katakan yah?"


"Gak ... gak ada kok kak. Tapi kayaknya, kak Lio gak perlu deh bantuin aku. Aku bisa kok masak sendiri."


"Kamu gak usah ragu sama aku Vinny. Gini-gini, aku juga jago masak kok."


Pada akhirnya, aku dan kak Lio harus masak bersama. Apalagi karna bibik yang tidak bisa membantu aku untu masak. Akhirnya, kak Lio lah yang ikut bantu aku masak.


Aku tidak percaya awalnya, kalau kak Lio bisa masak. Tapi setelah melihat bagaimana kak Lio bisa membantu aku masak, tanpa ada cangung sedikit pun. Aku baru percaya, kalau kak Lio, memang bisa masak.


"Aku dulu tinggal diluar negeri Vanny, jadi kamu tidak perlu cemas soal keahlianku memasak," ucap kak Lio sambil terus membantu aku.


"Jadi, kak Lio tinggal sendirian ya, saat di luar negeri."

__ADS_1


"Iya, bisa dikatakan seperti itu Vann. Aku lama berada diluar negeri saat aku sekolah sampai aku kuliah."


Aku hanya menganggukan kepalaku sambil terus meratik bahan yang ingin aku masak.


"Vanny, Adeliao, kalian sedang ...."


"Eh, mama ...."


Aku sangat kaget saat suara mama memanggil nama kami berdua. Sontak saja, aku dan kak Lio langsung melihat mama yang sedang berada tak jauh dari kami.


"Lho mah, bukannya mama bilang, datangnya satu jam lagi yah," ucapku.


"Iya, rencananya, mama dan papa mau datangnya satu jam lagi. Tapi mama udah gak sabaran mau lihat kamu. Mama ajak aja papa datang satu jam lebih cepat."


"Iya, mama kamu gak sabaran banget mau melihat keadaan kamu. Katanya, kangen sama kamu yang udah lama gak ada di rumah," ucap papa yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Kak Lio menghentikan aktifitas yang ia kerjakan. Ia pun menghampiri mama dan papaku. Mama dan papa terlihat agak sedikit kaget sama apa yang mereka lihat.


"Vanny, kamu lanjutin aja masaknya yah. Aku temani papa sama mama ngobrol. Kamu gak papa kan? Masak sendirian."


"Gak papa kok kak, aku bisa masak sendirian."


"Biar mama yang temani Vanny masak. Papa dan Lio ngobrol aja duluan," ucap mama.


Kak Lio dan papa meninggalkan dapur, sedangkan mama, ia membantu aku mengambil posisi kak Lio yang telah kosong barusan.


"Mama kok gak kasih tahu Vanny dulu sih kalo mau dateng. Kenapa malah kasih tahu kak Lio," kata aku pada mama.


"Gak papa, toh mama mau lihat gimana kehidupan kamu di sini."


"Oh iya, mama penasaran sama hubungan kamu dan Lio. Apa kalian sudah bisa menerima, kalau kalian itu adalah pasangan suami istri?" kata mama.

__ADS_1


"Aku ... aku dan kak Lio baik-baik aja ma. Mama jangan cemas yah," kataku tidak tahu mau bilang apa. Lain yang mama tanya, lain yang aku jawab.


"Syukur deh kalo gitu Vanny. Mama bahagia tahu gak, lihat kamu dan Adelio bisa dekat. Apalagi sedekat tadi itu. Kayaknya, mama merasa sangat senang," ucap mama sambil senyum penuh kebahagiaan.


Aku lihat, mama sangat bahagia ketika tahu bagaimana hubungan aku dengan kak Lio. Aku jadi tidak tega buat bilang sama mama. Kalau aku dan kak Lio, tidak mungkin jadi sepasang suami istri yang seperti mama bayangkan. Karna ditengah-tengah kami, masih ada kak Nessa yang membuat aku tidak akan pernah sanggup menjadikan kak Lio suamiku seutuhnya.


......


Setelah makan dan ngobrol beberapa lama, papa dan mama pamit pulang pada aku dan kak Lio. Kami pun mengantarkan mama dan papa sampai depan pintu rumah.


Mama terlihat sangat puas sama apa yang ia lihat hati ini. Wajah mama sangat terlihat jelas, kalau mama sedang dalam suasana hati yang bahagia.


Setelah mama dan papa menjalankan mobil mereka. Aku dan kak Lio kembali kedalam rumah.


"Kak Lio, terima kasih banyak telah membuah hati mama dan papaku bahagia. Aku gak tahu lagi mau bilang apa selain kata terima kasih pada kakak," ucapku saat kami sama-sama masuk kedalam.


"Vanny, tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Lagian, mama dan papa kamu itu adalah mama dan papanya Nessa jugakan. Kadi wajar dong, kalau aku menghormati mereka."


Aku memaksakan buat tersenyum. Walaupun rasanya agak berat buat menunjukkan senyum ini. Aku baru ingat, kenapa kak Lio terlihat sangat sopan pada mama dan papa.


Itu semua ia lakukan hanya untuk kak Nessa. Ia sangat sayang pada kak Nessa, walaupun kak Nessa tidak ada disampingnya, ia selalu ingat akan kak Nessa.


"Kak Lio, aku permisi kekamar dulu."


"Ya sudah, kamu memang seharusnya istirahat sekarang."


"Iya."


Aku berjalan menaiki anak tangga, meninggalkan kak Lio dengan rasa hati yang tidak bisa aku jelaskan.


Kenapa aku harus sedih sekarang, padahal, aku juga tidak mungkin berharap banyak pada kak Lio. Karna kak Lio adalah suami kak Nessa.

__ADS_1


__ADS_2