Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
25


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, aku sudah bagun. Aku ingin bertemu dengan kak Nessa dan bicara soal aku yang ingin tinggal di rumah mama dan papa saja sekarang. Aku tidak bisa tinggal di rumah ini lagi, karna rumah ini, aku tidak merasa nyaman dan tidak tenang untuk tetap tinggal di sini.


Aku menunggu kak Nessa di meja makan. Biasanya, kak Nessa setelah bangun akan langsung pergi kedapur untuk minum. Aku sudah sangat hafal apa kebiasaan kakakku, walaupun ia adalah kakak angkatku, tapi dia juga sudah hidup bersama aku sejak kecil.


Lima belas menit lamanya, aku menunggu kak Nessa bangun dari tidur. Akhirnya, kak Nessa keluar juga dari kamarnya. Ia masih memakai baju tidur dan rambutnya masih acak-acakan.


"Lho, Vanny. Udah bangun kamu de?" kata kak Nessa.


Sudah lama sekali, ia tidak memanggil aku dengan sebutan adek. Pagi ini, ia memanggil aku dengan panggilan sayangnya padaku. Panggilan ini sebenarnya sabgat aku rindukan. Sejak kak Nessa memimpin perusahannya sendiri, ia tidak pernah dekat seperti saat kami sama-sama sekolah dulu. Aku jadi sangat kangen dengan masalalu kami yang sangat indah.


"Vann, kamu kok malah bengong sih."


"Eh, maaf kak. Aku udah bangun dari tadi, udah lima belas menit pula aku di sini. Aku nungguin kak Nessa bangun," kataku dengan terus terang.


"Tumbem kamu nungguin kakak, ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan sama kakak?"


"Aku hanya ingin bilang sama kakak, aku ingin pulang kerumah kak. Aku ingin tinggal sama mama dan papa saja. Aku rasa, aku tinggal di sini juga gak akan ada gunanya," kataku langsung pada pokoknya saja.


Kak Nessa terlihat sangat kaget. Ia mungkin tidak memperkirakan, kalau aku akan mengatakan hal barusan aku katakan ini.


"Tidak, kamu tidak bisa tinggal sama mama dan papa kamu. Aku tidak akan mengizinkan kamu pindah rumah sekarang."

__ADS_1


Aku dan kak Nessa kaget dengan suara kak Lio yang tiba-tiba muncul dan ikut bicara. Aku tidak menyangka, kalau kak Lio juga sudah bangun, bahkan sudah berada di dapur sekarang.


"Kenapa aku tidak boleh tinggal di rumah mama dan papaku? Salahnya di mana jika aku ingin pindah dari rumah ini. Toh, ini bukan rumahku," ucapku dengan sangat berani sambil menentang mata kak Lio.


"Tidak ada yang boleh keluar masuk dari rumah ini tanpa seizin aku. Dan jangan bertanya salahnya di mana, jika kamu mau tinggal di rumah mama dan papa kamu. Salahnya jelas, karna kamu adalah istri sah aku. Sah menurut agama juga sah menurut negara."


"Jangan egois kak Lio. Untuk apa kalian menahan aku di rumah ini. Aku ini bukan manusia yang punya hati dan punya perasaan. Aku bukan pajangan, yang tidak tahu merasakan sakit. Aku sudah tidak kuat tinggal bersama kalian semua. Aku tidak ingin menjadi sungai pemisah buat kalian," ucapku mulai melemah.


Aku mulai tidak bisa menahan air mata ini lagi. Aku sekarang tidak ingin menyimpan apa yang sudah lama tersimpan di hatiku. Ibarat larva yang telah terkumpul dalam gunung merapi. Pada saatnya, larva itu akan keluar juga, cepat atau lambat, ia akan meledak.


Sementara aku dan kak Lio adu mulut. Kak Nessa hanya diam saja, ia terlihat bingung sekarang. Mungkin ia bingung, ia harus bilang apa. Membela aku, atau membela kak Lio.


"Kak Nessa, aku akan pergi dari rumah ini. Aku hanya memberitahukan pada kak Nessa. Aku tidak peduli, kak Nessa setuju atau tidak, yang penting, aku akan keluar dari rumah kalian," kataku pada kak Nessa yang hanya diam dari tadi.


Kak Nessa tidak punya kesempatan untuk bicara. Karna kak Lio selalu nyambar aja, seperti petasan yang tidak bisa dilontrol bunyinya.


Kak Nessa terlihat sangat kaget saat kak Lio bilang, kalau aku tidak akan pindah kerumah mama dan papaku. Karna, kak Lio sudah menyiamkan rumah buat aku. Aku yakin, ini tidak atas permintaan kak Nessa. Karna wajah kagetnya terlihat sangat jelas sekarang.


"Kamu ... kamu udah siapkan rumah buat Vannya mas? Kapan kamu siapkan rumah buat Vanny?" kata kak Nessa sangat kaget.


"Iya, aku sudah siapkan rumah buat Vanny. Belum lama," kata kak Lio menjawab pertanyaan kak Nessa.

__ADS_1


Jawabam yang kak Lio beritakan pada kak Nessa itu terdengar sedikit dingin. Ntah perasaanku, atau memang kak Lio sedang ada masalah dengan kak Nessa. Tapi, mereka terlihat sedang tidak baik saat ini.


Sedangkan, perihal kak Lio membeli rumah baru saja, kak Nessa tidak tahu. Mungkin mereka memang sedang punya masalah yang serius saat ini.


"Tapi mas, kamu tidak bicara dulu padaku soal membeli rumah buat Vanny. Di mana letak rumahnya, biar aku lihat dulu rumah buat Vanny itu seperti apa."


"Tidak perlu, kamu tidak perlu ikut campur lagi soal apa rumah Vanny. Aku yakin, ia mungkin betah tinggal di sana nantinya."


"Tapi mas, aku ingin tahu rumahnya seperti apa."


"Nessa, kamu tidak perlu repot-repot ikut campur. Aku ini adalah suaminya sekarang, kamu harus ingat hal itu yah. Dia bukan lagi aku anggap adik iparku saat ini. Dia adalah istri dari Adelio."


Ada yang salah dengan kata-kata itu menurut aku. Sejak kapan kak Lio bisa mengakui kalau aku ini adalah istrinya. Tidak mungkin inj karna permintaan kak Nessa lagi. Jelas-jelas ia berkata pada kak Nessa sekarang.


Ah, jangan beri aku harapan palsu lagi. Toh, ujung-ujungnya, aku akan merasa kecewa karna harapan yang aku punya hancur seketika. Aku tidak suka sebuah harapan palsu yang datang tanpa diundang dan pergi tanpa aku antar ini. Karna rasanya nanti akan sangat sakit.


Saat mereka saling bicara menurut pendapat mereka masing-masing. Aku lebih baik, pergi dari sini. Dari pada, aku jadi penonton yang tidak diinginkan.


Tanpa kata, aku pun meninggalkan kak Lio dan kak Nessa yang masih berdebat. Aku berjalan, ingin naik kekamarku. Belum juga aku sampai beberapa langkah berjalan, suara kak Lio dan kak Nessa bersamaan memanggil namaku.


"Vanny!" kata keduanya serentak.

__ADS_1


Ya ampun, aku sangat kaget saat mereka secara bersama-sama memanggil namaku dengan sangat kompak.


__ADS_2