
Venessa POV
Aku baru sadar, kalau aku keluar dari ruangan mas Lio tidak membawa tasku. Aku mungkin meninggalkan tasku di atas sofa, di mana aku duduk sambil menunggu mas Lio datang tadi.
Aku kembali lagi untuk mengambil tasku yang tertinggal di ruangan mas Lio.
Saat aku sampai di depan pintu ruangan mas Lio. Aku mendengarkan mas Lio berkata sesuatu. Aku terpaksa membatalkan niatku untuk masuk.
Bukan aku sengaja ingin menguping apa yang mas Lio bucarakan pada dirinya sendiri. Tapi aku memang tidak bisa menerobos masuk kedalam sana.
Mas Lio jelas-jelas sedang bicara soal aku dan Vannya. Ia membandingkan aku dan Vannya ternyata.
Ada sembilu yang tiba-tiba menggores hatiku perlahan tapi pasti. Karna rasa sakitnya sangat jelas aku rasakan.
Buliran bening tiba-tiba jatuh perlahan dari pelupuk mataku. Aku mencoba menahan buliran bening itu, namun tidak kuat rasanya.
Vannya dan aku memang jauh berbeda, ia adalah gadis yang sangat lembut dan tidak tahu caranya memperlakukan orang lain dengan kasar. Vannya juga tidak tahu caranya bersandiwara. Ia hanya bisa besikap datar dan apa adanya.
Kenapa aku menangis, kenapa aku bersedih dan kenapa aku merasa terluka bahkan sakit hati. Bukankah hal ini yang aku inginkan selama ini.
Aku inginkan mas Lio jatug cinta pada Vannya dan memberikan semua cintanya buat Vannya.
Tapi kenapa air mata bisa tumpah saat mas Lio membandingkan aku dengan gadis lain. Meskipun gadis itu adalah Vannya, adik yang aku sayangi.
Ku sapu air mataku yang tumpah di pipi ini. Aku berjalan menghampiri Pandu yang sedari tadi sudah menunggu aku disekita mobil.
"Pandu, bisakah kamu ambilkan tasku yang tertinggal di ruangan mas Lio?" ucapku sambil sedikit sesengukan.
"Kamu baik-baik sajakan Ness?" kata Pandu malah balik bertanya.
"Sudahlah, aku minta ambilkan tasku, kamu malah bertanya aku baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik-baik saja."
"Apa yang Lio lakukan padamu sebenarnya. Kenapa kamu malah menangis saat keluar dari ruangannya."
__ADS_1
"Tidak ada yang ia lakukan padaku Pandu. Ambilkan saja tasku, jangan banyak bicara lagi."
Dengan langkah berat, pandu meninggalkan aku di mobil. Ia pergi sambil sesekali melihat aku yang terdiam di dalam mobil.
Ternyata, rasanya lumayan sakit ketika kita di bandingkan dengan orang lain. Apalagi, yang membandingkan kita itu adalah suami kita sendiri.
Aku sadar, ini bukan salahnya mas Lio. Ini juga bukan salah Vannya adikku. Ini murni kesalahan aku, kesalahan yang ntah bagaimana aku lakukan. Tapi ini sangat rumit untuk aku jelaskan.
Pandu datang dengan tas di tangannya. Ia membawa tas itu masuk bersama dengan dirinya. Lalu menyerahkan padaku sambil memperlihatkan wajah penasarannya atas apa yang terjadi tadi.
"Apa kita akan langsung kekantor, atau ada tempat yang mau kamu kunjungi dulu," kata Pandu sambil mengidupkan mesin mobil.
"Kita kemakam orang tuaku saja dulu," kataku tanpa melihatnya.
Pandu tidak menjawab, tapi ia menjalankan mobil meninggalkan kantor mas Lio.
Pandu adalah orang yang paling dekat dengan aku. Ia juga selalu tahu apa yang aku butuhkan.
Selain sebagai sopir pribadiku, Pandu adalah orang istimewa buat aku selama ini. Tapi tidak ada yang tahu, kalau Pandu itu adalah orang istimewah buat aku.
Aku duduk bersimpuh di antara dua makan. Makam ini adalah makam papa dan mamaku. Aku selalu datang kesini, jika pikiranku tidak tenang.
Bukan maksud ku datang untuk menenagkan pikiran. Tapi, aku akan merasa tenang jika aku sudah membacakan al-fatihah buat mama dan papaku.
"Mama, papa, Nessa datang untuk melihat mama dan papa. Nessa tidak akan sendirian, jika mama dan papa masih hidup. Dan, jalan hidup yang rumit ini, juga tidak akan Nessa tempuh, jika mama dan papa ada di sini."
Sekali lagi, air mataku tumpah dengan sangat derasnya. Aku membayangkan, saat mama dan papa ada di samping aku.
Aku adalah gadis kecil yang sangat bahagia, saat orang tuaku masih hidup. Mereka akan selalu nembawa aku jalan, kemana saja aku mau.
Saat mereka pergi, aku pikir, aku tidak akan hidup lagi. Karna aku tidak punya siapa-siapa lagi saat mama dan papa pergi.
Tapi, tangan kecil itu mampu menggengam erat. Memberikan kehangatan padaku, dan hidupku pun kembali berwarna.
__ADS_1
Tangan kecil itu, milik gadis kecil yang tidak akan pernah aku lupakan. Yang selalu siap berbagi apapun dengan aku. Termasuk, berbagi hidup dan matinya demi aku.
"Nessa, ini sudah siang. Apa kamu tidak ingin pulang," kata Pandu sambil menyentuh bahuku.
"Pandu, apakah kita tidak bisa lebih lama di sini. Aku ingin bersama mama dan papa," kataku sambil menyapu air mata.
"Bukan tidak bisa Nessa, tapi ini sudah sangat siang. Matahari sangat terik, kamu tidak merasakan sengatannya ya?"
"Aku tidak merasakan apapun Pan, saat aku di sini. Aku tidak akan merasakan apapun, saat aku bersama mama dan papa."
"Lain kali, kita bisa datang kesini lagi bukan? Mungkin bisa datang agak sedikit sore, atau datang lebih pagi."
Aku tidak nenjawab, hanya diam saja. Namun juga tidak beranjak dari posisiku yang sebelumnya.
"Nessa, kita bisa datang lagi nanti yah. Hari ini, kita akan pulang dulu, oke."
Pandu membantu aku berdiri. Ia tahu, aku sangat sulit untuk beranjak dari makam orang tuaku. Jika aku sudah sampai di sini, maka butuh waktu lama untuk aku pergi meninggalkan mereka.
"Mama, papa, Nessa harus pulang dulu sekarang. Lain kali, Nessa akan datang lagi ya," ucapku sambil berjalan menjauh.
"Jam berapa sekarang Pandu?" kataku sambil mengikuti langkah Pandu dari belakang.
"Hampir jam satu Nessa," ucap Pandu singkat sambil melihat jam tangannya.
"Ya ampun, kenapa waktu begitu cepat. Aku harus bertemu mas Lio di cafe siang ini," ucapku sambil bergegas mendahului Pandu.
"Ada apa sih Nessa, kenapa kamu terlihat kaget dan buru-buru seperti itu?" kata Pandu heran.
"Mas Lio bilang, ia ingin bertemu denganku di cafe Pandu. Kamu gak dengar aku bilang barusan."
"Aku dengan Nessa, aku tanya bukan ada apa soal itu. Aku tanya, ada apa kamu mau ketemu Tuan Lio di sana. Tumben banget kalian ketemuan di luar."
"Ada hal yang harus aku dan mas Lio bahas. Ini soal pekerjaan," kataku menjelaskan.
__ADS_1
Aku tahu, Pandu akan selalu terlihat cemburu saat aku bicara soal mas Lio dihadapannya. Ia akan tiba-tiba bersikap sinis dan tidak asik. Jika aku membahas soal mas Lio.