
Ternyata cinta itu sangat rumit ya. Tidak tahu jatuhnya pada siapa. Tidak bisa memilih oranf mana yang akan menjadi tempat ia berlabuh. Terkadang, karna cinta seorang yang baik akan berubah jadi jahat. Orang jahat juga tak jarang berubah menjadi baik, karna cinta yang ia miliki. Cinta mampu mengubah sultan menjadi rakyat, raja menjadi budak. Bahkan masih banyak lagi yang bisa ditimbulkan karna cinta.
Sama halnya dengan kak Lio. Ia bisa menjadi lelaki yang sangat perhatian pada orang yang ia tidak sukai, karna rasa cintanya pada kak Nessa. Ia bisa mengorbankan rasa hatinya, karna permintaan kak Nessa. Semua karna ia mencintai kak Nessa.
Aku juga pernah merasakan hal yang sama seperti kak Lio, karna cinta. Aku pernah berkorban banyak hanya untuk cintaku pada seorang laki-laki yang pada akhirnya membuat aku sakit hati. Sehingga mengubah aku yang cinta menjadi benci dan tidak pernah ingin merasakan apa itu cinta laki-laki lagi. Yang membuat aku menutup hati dan menjaga jarak dengan laki-laki juga karna cintaku yang tersakiti.
Dalam lamunanku yang ntah kemana itu, pintu kamar kembali terbuka dan memunculkan kak Lio kembali. Rasanya aku ingin bilang pada kak Lio, jangan datang lagi. Tapi aku tidak bisa bilang seperti itu padanya. Ntah apa yang membuat aku jadi penakut saat berada disisi kak Lio, aku juga tidak tahu.
"Bagaimana keadaan kamu saat ini?" kata kak Lio.
"Aku baik-baik saja," ucapku datar.
"Ini aku bawakan bubur buat kamu. Kamu harus makan bubur ini biar gak sakit lagi," katanya sambil meletakkan bubur diatas meja yang berada disampingku.
"Aku belum ada nafsu buat makan."
"Jangan menolak buat makan lagi kali ini. Kamu sudah tidak makan selama dua hari. Kamu hanya makan makanan ringan selama dua hari ini."
"Tapi aku masih tidak nafsu," ucapku menolak sambil memalingkan wajahku kesisi lain.
"Paksakan walaupun hanya sesendok saja. Ayo aku bantu kamu makan," kata kak Lio sambil membantu aku untuk duduk.
Kalau begini, aku merasa kalau kak Lio itu adalah laki-laki terlembut yang pernah ada. Ia begitu lembut saat membujuk aku untuk makan. Aku tidak bisa menolak kelembutan kak Lio saat ini. Aku mengikuti apa yang ia inginkan.
Kak Lio membuka bungkus bubur itu dan menyuapi aku buburnya. Selama ini, aku beluk pernah merasakan hal seperti ini. Dapat perhatian yang seperti kak Lio lakukan padaku saat ini.
Aku terus melihat wajah kak Lio yang begitu serius saat menyuapi aku bubur. Tanpa sadar, bubur yang aku tolak buat makan itu ternyata aku habiskan. Kak Lio juga membantu aku untuk minum. Padahal, aku masih dapat melakukan semua itu sendirian. Tapi kak Lio malah membantu aku melakukan semuanya.
__ADS_1
"Dokter bilang, kamu sudah bisa pulang besok. Tapi ia mengingatkan, kalau kamu tidak boleh telat makan lagi nantinya," kata kak Lio sambil membereskan bungkus bubur.
Aku tidak menjawab apa yang kak Lio katakan. Aku hanya diam sambil melihat apa yang ia lakukan.
"Aku akan temani kamu tidur di sini malam ini. Tapi yang akan membawa kamu pulang besok bibik. Karna aku ada rapat penting besok pagi," kata kak Lio menjelaskan.
"Malam ini, minta bibik saja yang menemani aku. Biar kak Lio tidur di rumah saja, karna besok butuh stamina buat rapat."
"Gak papa, aku masih bisa tidur di sini dan bangun pagi-pagi biar gak telat."
"Tapi tidur di sini tidak akan senyaman tidur di rumah."
"Apa bedanya tidur di rumah atau tidur di sini. Yang tidur itu mata bukan badan."
"Tapi kak ...."
Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi, saat kak Lio mengatakan hal itu, maka itulah yang akan aku terima. Aku bukan kak Nessa yang akan memaksa apa yang ia inginkan. Aku adalah Vannya yang tidak punya kekuatan untuk memaksa seseorang melakukan keinginku.
Akhirnya, kak Lio tidur di rumah sakit bersama aku. Ia tidak pulang kerumah dan tidak menggantikan pakaiannya. Apa yang ia pakai saat membawa aku kerumah sakit, itu juga yang ia pakai saat ini.
Aku agak merasa kasihan sih pada kak Lio. Karna aku, ia bela-belaan nginap dirumah sakit hanya untuk menemani aku. Aku memang punya banyak salah pada keluarga kak Nessa dan kak Lio. Aku sudah membuat jarak diantara suami istri ini.
"Vanny, sebaiknya kamu tidur sekarang. Karna hari sudah sangat malam," ucap kak Lio padaku.
Saat ini memang sudah lumayan larut. Jarum jam sudah menunjukkan pada angka sepuluh, yang berarti, saat ini sudah jam 22.00 malam. Aku bukan tidak mau tidur, hanya saja, aku masih belum bisa tidur saat ini.
Sedangkan kak Lio, ia sibuk dengan lapotopnya. Ntah apa yang ia kerjakan, tapi pasti ia sedang sibuk saat ini.
__ADS_1
"Aku masih belum bisa tidur kak, di rumah sakit sangat tidak nyaman," ucapku.
"Vanny, yang namanya rumah sakit memang tidak akan ada yang nyaman. Kalo nyaman itu di hotel atau di rumah."
"Ya aku tahu, tapi aku masih tidak bisa memaksakan untuk tidur."
"Ya sudah, aku akan temani kamu tidur," ucap kak Lio sambil meletakkan laptopnya.
"Eh, gak usah kak. Aku gak perlu ditemani kok tidurnya. Nanti juga akan tidur sendiri. Kak Lio lanjut aja kerjaannya," kataku.
"Kalo kamu gak tidur sekarang, aku juga gak akan bisa lanjut kerja."
"Ya sudah, aku akan tidur sekarang," ucapku sambil memejamkan mataku.
Aku berusaha untuk tidur walaupun rasanya mataku tidak mau tidur. Yang aku rasakan adalah, aku ingin segera pulang dari rumah sakit ini. Aku gak mau tetap berada di sini, karna aku sangat tidak suka ada di rumah sakit.
.....
Keesokan harinya, aku terbangun dan melihat sekelilingku. Masih ditempat yang sama, cuma tidak ada orang di kamar ini selain aku. Aku melihat dipojokan sana, tidak ada kak Lio lagi. Ternyata, aku bisa tidur juga walaupun aku berada di rumah sakit.
Aku melihat disampingku, ada secarik kertas berwarna putih. Aku mengambil kertas itu dan melihat pesan singkat yang tertulis diatas kertas itu.
Maaf Vanny, aku harus pergi dulu. Kamu tunggu bibik datang menjemputmu pulang. Aku tidak bisa menjemput kamu, karna ada rapat penting.
Adelio
"Tadi malamkan sudah bilang padaku kalau ia tidak bisa membawa aku pulang. Kenapa harus meninggalkan aku pesan lagi," ucapku sambil melihat kertas itu.
__ADS_1