Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
31


__ADS_3

Sesekali, aku tersenyum bahagia, saat melihat wajah laki-laki yang ada di sampingku saat ini.


Suasana taman yang ramai, saat sore hari menjelang. Tidak mampu membuat mataku berpindah dari pada wajah tampan kak Lio yang ada di sampingku saat ini.


"Kamu gak bosan ya Vann?" kata kak Lio tiba-tiba.


"Bosan? Bosan kenapa kak?" kataku tidak mengerti.


"Kamu gak bosen lihat aku melulu? Apa aku segitu mempersonanya sampai kamu harus terus menatapku sejak tadi," kata kak Lio sambil senyum manis sesaat.


Aku tersipu malu, wajahku tiba-tiba terasa sangat panas. Ternyata, apa yang aku lakukan, kak Lio mengetahuinya.


Ternyata, mata kak Lio itu sangat tajam. Meskipun ia tidak melihat secara langsung kalau aku terus melihatnya, tapi ia tahu, kalau aku sudah melihatnya sejak tadi.


"Vanny, apa kamu mau air mineral?"


"Gak usah kak, aku gak haus kok."


"Kalo kamu gak mau, aku gak belikan kamu air mineral. Tapi kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau belikan jus buah naga, kamu mahu?" kata kak Lio sambil bangun dari duduknya.


"Aku rasa, boleh kalo kak Lio gak keberatan," ucapku sambil agak malu-malu.


"Ya sudah, tunggu sebentar yah."


Aku melihat kak Lio yang bergerak mendekati penjual jus tak jauh dari bundaran taman ini.


Di taman ini, mau beli jajan apa saja ada. Semuanya sudah tersedia. Penjual lumayan ramai berserakan di setiap sudut taman yang luas ini.


Sambil menunggu kak Lio kembali. Aku memilih untuk berjalan memainkan ponselku di kursi ini.


Ku lunjurkan kaki ku lurus kedepan. Tanpa berpikir, akan ada orang yang tersandung karna pose kaki ku yang seperti ini.


Aku mengira, semua orang di taman ini pasti akan menggunakan mata mereka ketika berjalan. Tidak akan ada yang jatuh hanya karna kaki yang menjulur lurus kedepan ini. Lagian, di sekita tempat yang aku duduki ini lumayan sepi.


"Hoi! Ini taman bukan punya bapak lu, ngapain kakinya di giniin," kata seseorang sambil menendang pelan kakiku.


"Apaan sih, gak sopan banget," ucapku sambil bagun dan melihat siapa laki-laki yang bermulut kasar itu.


"Ramon!"

__ADS_1


"Vannya?"


"Kamu Vannya?" kata Ramon mengulangi pertanyaannya.


"Ya ampun Vannya, kamu cantik banget sekarang ya. Beda jauh sama yang dulu," kata Ramon lagi.


Manusia yang ada dihadapan aku ini, adalah manusia yang tidak pernah ingin aku temui selama-lamanya.


"Maaf, aku ada urusan. Harus pergi sekarang Ramon," ucapku ingin menghindar.


"Vannya, tunggu dulu. Kamu mau buru-buru kemana sih?" kata Ramon menahan tanganku dengan satu tangannya.


"Lepaskan aku Ramon. Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara lama-lama sama kamu."


Aku berusaha untuk melepaskan tanganku yang ada dalam cengkraman tangan Ramon. Sayangnya, itu sangat sulit bagi aku. Karna cengkraman itu sangat erat.


"Kamu gak kangen sama aku Vannya? Kita udah lama gak bertemu, kenapa kita gak saling memberi ruang untuk kita bicara."


"Aku tidak perlu bicara lagi sama kamu. Tidak ada hal yang bisa dibicarakan. Lepaskan aku!"


Aku membentak Ramon dengan nada tinggi. Semua orang yang mendengarkan perkataanku barusan, secara reflek langsung melihat kearah kami.


"Lepaskan tangan kamu dari istriku," ucap kak Lio yang baru saja datang.


Ramon tidak melepaskan tanganku. Ia malah membuka kaca mata yang ia pakai, untuk melihat kak Lio lebih jelas.


"Istri?"


"Iya, dia istriku. Jangan buat aku mengulagi perkataanku sekali lagi. Aku tidak suka hal itu," kata kak Lio.


"Hahahah ... kalau aku tidak salah ingat. Kau adalah suaminya Venessa bukan? Sejak kapan kamu bisa menjadi suaminya Vannya."


"Sejak kapan kalian bisa bertukar seperti ini. Apakah kamu tidak punya laki-laki lain, selain menjadikan kakak ipar kamu sebagai suami kamu,Vannya?"


Perkataan itu mampu membuat hatiku terasa sakit. Ntah kenapa, perkataan itu seperti sebuah jarum yang kecil tapi mampu menusuk.


Aku tidak bisa menjawab apa yang Ramon katakan. Aku hanya bisa menahan sakit hati ini. Juga menahan agar air mataku tidak jatuh.


Apa kata orang-orang yang mendengarkan perkataan Ramon barusan. Mungkinkah mereka akan menilai yang tidak-tidak tentang aku.

__ADS_1


"Sekali lagi aku katakan, lepaskan tanganmu dari istriku. Atau ...."


"Atau apa? Apa yang bisa kamu lakukan padaku Tuan Adelio?" kata Ramon memotong perkataan kak Lio.


"Jangan buat aku marah!"


Brukk


Bunyi sebuah pukulan terdengar dengan jelas di telinggaku.


Cengkraman tangan Ramon sudah tidak terasa lagi. Sedangkan Ramon, ia tersungkur di tanah, sambil memegang wajahnya.


"Sudah aku bilang, jangan sentuh apa yang aku miliki. Dan jangan buat aku bicara terlalu banyak," kata kak Lio sambil merangkul bajuku membawa kepelukannya.


Orang-orang yang tidak bisa melihat tanpa bergosip pun sibuk berkerumunan dan berbisik-bisik. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.


"Asal kamu tahu, dia adalah istri sah yang telah istri pertamaku setujui. Bukan hanya setujui, dia adalah istri yang Venessa minta aku nikahi menjadi istri kedua."


"Dia bukan wanita perusak rumah tangga orang. Dia adalah wanita baik-baik, yang datang dalam keluarga ku, tanpa menggeserkan dan menyakiti siapapun."


"Sekali lagi aku dengar kamu bicara omong kosong tentang Vannya, kamu akan tahu akibatnya."


"Ayo Vannya, kita pergi dari sini. Kamu terlalu berharga untuk berhadapan dengan sampah seperti dia," kata kak Lio sambil membawa aku pergi dari keramaian itu.


"Vannya, kamu gak papakan. Apa ada yang sakit?" kata kak Lio sambil melihat tanganku.


"Tidak ada yang sakit kok kak, aku baik-baik saja."


"Siapa dia Vannya, apa kamu sudah siap untuk bercerita padaku. Aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap," ucap kak Lio sambil memperhatikan arah jalan mobil.


"Dia adalah Ramon, orang yang tidak ingin aku temui sama sekali di dunia ini," ucapku datar.


"Ramon? Apakah ada hubungannya dengan masalalu kamu yang suram itu Vannya?"


Aku terdiam, niat untuk menjawab apa yang kak Lio katakan tiba-tiba menghilang bagai ditelan alam saja.


Hatiku sangat sedih ketika mengenang saat itu. Saat di mana Ramon hampir saja merengut hal yang paling berharga dalam hidupku. Saat di mana Ramon merubah pandangan baikku pada laki-laki.


Ramon juga membuat harga diruku hancur. Setelah berselingkuh, ia malah membuat aku malu di tempat umum.

__ADS_1


Dia yang membuat hatiku hancur berkeping-keping, hingga tidak tersisa lagi. Sampai aku bertemu kak Lio, yang mampu menyatukan kembali, puing hatiku menjadi bangunan hati yang utuh.


__ADS_2