Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
18


__ADS_3

Vannya POV


Ntah apa yang telah terjadi kemarin malam, sehingga saat aku bangun, aku sangat amat kaget. Aku tidak tahu, aku sekarang berada di kamar siapa. Tapi yang pastinya, ini bukan kamar aku. Karna gorden dan warna cat kamar ini sangat amat berbeda. Warna cat kamarku beserta gordennya, semua hijau. Sedangkan ini, cat dan gordennya berwarna ungu. Tunggu, warna ungu itu adalah warna favorit kak Nessa kan?


Dengan cepat, aku bangun dari baringku. Aku segera menuju pintu kamar, agar bisa aku pastikan, di mana aku berada saat ini.


Saat aku membuka pintu kamar ini, aku baru tahu, kalau ini memang benar-benar kamarnya kak Nessa. Semalaman, aku tidur di kamar kak Nessa. Ntah bagaimana aku bisa sampai di kamarnya, aku juga tidak ingat sama sekali.


Aku berjalan menuju anak tangga, agar aku bisa segera kekamarku. Tapi, belum juga aku naik dua anak tangga. Seseorang memanggil namaku, yang membuat aku terpaksa menghentikan langkah kakiku.


Aku pun melihat asal suara orang yang memanggil namaku. Saat aku membalikkan badanku, aku lihat kak Lio sedang berdiri tegak dibelakangku. Ia masih menggunakan baju tidurnya saat ini.


"Ada apa kak?" ucapku dengan berat.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Pertanyaan itu terdengar sangat aneh di telingaku. Seperti telah terjadi sesuatu tadi malam, sehingga ia harus bertanya, apa aku baik-baik saja atau tidak.


"Aku baik-baik saja kok kak. Ada apa memangnya?"


"Tidak ada, aku hanya ingin memastikan, kalau kamu baik-baik saja."


"Oh, iya aku baik-baik saja."


Ia menganggukan kepalanya, sedangkan aku kembali melangkahkan kakiku untuk naik keatas. Aku ingin segera mandi, karna aku tidak nyaman dengan bau yang melekat di bajuku saat ini. Bau yang sepertinya tidak asing lagi bagi aku, namun aku tidak ingat, di mana aku pernah mencium bau ini.


"Vanny tunggu!"

__ADS_1


Sekali lagi, kak Lio membuat langkah kakiku terhenti. Apa yang sebenarnya ia inginkan dari aku, sehingga ia selalu menghalangi langkah kakiku berulang kali.


"Ada apa lagi kak?" kataku sedikit kesal.


"Orang tuamu akan datang nanti siang. Bisakah kamu ikut aku keluar sebentar?"


Seketika, rasa kesal yang ada dalam hatiku tiba-tiba sirna saat mendengar kata orang tuaku akan datang. Aku sangat bahagia saat kak Lio bilang, mama papa akan datang nanti siang. Aku tersenyum penuh semangat sambil menuruni anak tangga dan menghampiri kak Lio.


"Benarkah mama dan papaku akan datang kesini kak?" kataku penuh semangat.


"Iya, orang tua kamu akan datang saat makan siang nanti. Aku ingin kita menyambut orang tuamu dengan hidangan lezat nantinya. Apa kamu setuju?"


"Iya, aku setuju."


"Kalau begitu, ayo ikut aku keluar sekarang juga."


Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berjalan meninggalkan kak Lio setelah mengatakan hal itu. Aku tidak memperdulikan ekspresi kak Lio yang melihat aku saat ini. Biarlah jika ia mau berkata aku aneh atau lain sebagainya. Yang aku tahu, aku sangat bahagia saat ini. Aku juga lupa, apa yang terjadi tadi malam itu seperti apa. Saat dapat kabar bahagia, tak jarang, orang akan lupa pada kesedihan yang ia rasakan. Bahkan, juga terkadang lupa bersyukur atas kebahagiaan yang telah diberikan.


.....


Selesai bersiap-siap ala kadarnya, aku segera turun untuk bertemu kak Lio. Aku lihat, kak Lio sudah rapi dengan kaos hitam dan celana jinsnya. Sangat tampan jika dilihat lebih dekat. Ia lebih mirip anak muda yang belum punya keluarga, dibandingkan saat ia berpakaian jaz saat mau berangkat kerja.


Sesaat lamanya, aku terdiam diatas anak tangga. Aku melihat wajah tampan yang tak biasa aku lihat ini. Ia sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia tidak melihat aku, makanya aku bisa melihat ia lama-lama.


Oh tuhan, jangan selipkan rasa cinta itu lagi padaku. Aku tidak ingin mencintai dia sekarang atau pun nanti. Karna ia adalah suami dari kakak yang sangat aku sayangi dan sangat menyayangi aku. Aku tidak bisa merebut orang yang kakakku punya.


Jantung ini juga rasanya sedikit aneh, masa berdetak lebih cepat saat aku melihat kak Lio dengan dandanan yang berbeda saat ini. Bukankah ia adalah lelaki yang sama, yang selalu ada di rumah ini.

__ADS_1


Aku memegang dadaku, mencoba untuk membuat detak jantungku kembali normal. Aku tutup mataku agar aku bisa fokus dengan niatku untuk membuat detak jantung ini normal.


"Vanny, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah diam di sana."


Aku kaget bukan kepalang, aku mengira kalau kak Lio tidak melihat apa yang aku lakukan. Eh, tapi malah sebaliknya, aku semakin membuat dadaku berdebar-debar, lebih dari yang awalnya terjadi.


"Gak ... gak papa kok kak. Aku ... aku hanya berdoa sebelum keluar rumah. Iya aku sedang berdoa," ucapku sambil gelagapan tidak menentu.


"Ada-ada aja kamu ini, masa berdoanya diatas tangga. Ya sudah, kamu udah selesaikan doanya, kalo udah, kita berangkat sekarang."


"Udah kok kak," ucapku sambil turun dengan cepat.


Aku melihat kak Lio senyum tipis saat ia membalikkan badannya. Ya tuhan, senyum tipis yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, tapi sekarang sangat jelas aku lihat. Itu terlihat sangat amat tampan dan sangat membuat aku melayang.


'Sadar Vanny, sadar. Kamu jangan malu-maluin, itukan kakak ipar kamu, yang gak sengaja juga jadi suami kamu, ucapku dalam hati sambil memukul kepalaku perlan.


Aku mengikuti kak Lio dari belakang. Ntah sejak kapan, aku dan kak Lio bisa sedekat ini. Ini bahkan tidak pernah berani aku banyangkan sebelumnya. Tapi sekarang, malah kenyataan yang sebenarnya.


"Ayo masuk," ucap kak Lio singkat.


Kak Lio juga membukakan pintu mobil buat aku. Ya ampun, jika ini mimpi, aku bahkan tidak ingin bangun dari mimpi indah ini.


Apa yang aku pikirkan, aku mulai gila dengan pikiranku yang aneh ini. 'Jangan, jangan mikir yang ngak-ngak Vanny. Kamu inikan bukan gadis yang suka berpikiran tidak baik,' kataku dalam hati.


Aku dan kak Lio pun meninggalkan rumah dengan mobil kak Lio. Kak Lio tidak bicara sedikitpun saat kami berada dalam mobil. Sama halnya dengan aku, aku tidak berani untuk memulai pembicaraan kami. Hasilnya, aku dan kak Lio sama-sama memikirkan hal masing-masing.


Kami melewati pasar, dan sampai akhirnya, kami sampai disebuah mall yang besar. Kak Lio menghentikan mobilnya. Aku pun keluar disusul kak Lio.

__ADS_1


Kami berdua masuk kedalam mall itu tanpa bicara sepatah katapun satu sama lain.


__ADS_2