Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
12


__ADS_3

Saat pintu telah berhasil aku dobrak. Aku sangat kaget ketika melihat siapa yang sedang terbaring kesakitan dilantai kamar itu.


"Vanny!" ucapku kaget.


Vanny sepertinya tidak sadarkan diri lagi. Tangan yang awalnya terus memegang perut itu terlepas dari perutnya. Ia seolah-olah tidak sangup untuk menahan rasa sakit yang sedang ia rasakan.


Aku mengangkat tubuh mungil itu, lalu membawanya keluar dari kamar. Aku yakin, Vanny saat ini sedang pingsan dan harus segera dilarikan kerumah sakit.


"Ya ampun Tuan, apa yang terjadi dengan Nyonya muda?" kata bibik padaku saat melihat aku keluar dari kamar.


"Gak tahu bik, saat sampai di kamarnya, Vanny sudah kesakitan dan sekarang ia sudah pingsan."


Bibik membantu aku membuka pintu mobil. Saat ini, aku hanya bisa membawa mobil sendiri, tanpa sopir. Karna Pandu, sedang tidak ada di rumah. Pandu ikut bersama Nessa keluar kota.


Sebisa mungkin aku berusaha cepat, agar bisa mengobati Vanny secepat mungkin kerumah sakit. Aku tidak peduli jalanan yang terlihat ramai itu, jika ada celah, maka akan aku lalui saja.


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung membawa Vanny masuk kedalam dan meminta suster untuk memanggil dokter. Aku sanggap gugup sehingga aku ingin ikut dokter kedalam kamar untuk tahu keadaan Vanny.


"Maaf mas, sebaiknya mas tunggu diluar, biar dokter yang memeriksa istri mas," kata salah satu suster yang sedang berada didalam kamar itu.


"Baik Sus, tolong lakukan yang terbaik buat dia."

__ADS_1


"Iya mas, jangan cemas. Kami akan melakukan yang terbaik buat istri mas. Mas tenang saja, sambil berdoa, semoga istri mas baik-baik saja."


Suster itupun kembali masuk kedalam kamar rawat setelah menenangkan aku. Entah kenapa, aku sangat amat panik saat ini. Tidak sama seperti saat aku melihat Nessa jatuh dari kamar mandi waktu itu. Aku bisa sedikit tenang saat Nessa berada di kamar rawat rumah sakit. Tapi saat Vanny yang berada didalamnya, aku seperti orang yang sedang takut kehilangan. Apakah ini efek dari rasa takut yang aku rasakan, atau aku sedang merasakan hal lain saat ini. Ah, mana mungkin aku punya perasaan lain. Mungkin ini karna aku sedang merasakan rasa cemas dan takut saja.


Beberapa saat lamanya dokter berada didalam. Aku sudah berkali-kali pindah temoat duduk dari satu kursi kekursi yang lain. Bukan hanya pindah tempat duduk, aku juga berkali-kali munda mandir dan berdiri duduk. Rasanya, dokter itu sangat lama berada didalam. Padahal saat aku lihat jam tanganku, baru beberapa menit berlalu.


Akhirnya, pintu kamar itu terbuka. Dokter yang ada didalam keluar bersama susternya. Tidak ada raut cemas yang dokter itu perlihatkan padaku.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok? Apa yang sedang terjadi padanya?" kataku bertanya bertubi-tubi.


"Istri anda baik-baik saja mas, ia hanya kelaparan yang membuat asam lambungnya tinggi. Ia sepertinya belum makan selama dua hari. Dan ia terlalu banyak mengkonsumsi makanan ringan. Tapi, jangan cemas, saat ini, istri mas sudah baik-baik saja."


"Terima kasih banyak dokter. Apakah saya boleh masuk sekarang?"


Aku sekarang bisa bernapas lega. Rasanya, beban berat yang menindih aku, baru saja terangkat. Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung saja masuk kedalam kamar itu. Aku lihat Vanny sedang terlelap sambil tangannya terpasang selang infus yang terus mengalir.


"Maafkan aku Vanny, jika saja aku tidak banyak bicara, mungkin kamu tidak akan masuk rumah sakit hari ini."


"Aku gak papa, gak perlu minta maaf padaku," ucap Vanny.


Aku sangat kaget saat mendengarkan Vanny mengatakan hal itu. Aku tidak menyangka kalau Vanny sudah sadar dari tadi. Aku mengira Vanny masih pingsan.

__ADS_1


"Eee ... aku ... aku keluar sebentar," kataku tidak tahu mau bilang apa.


Aku pun meninggalkan kamar Vanny dan pergi menuju toilet rumah sakit itu. Aku ingin menenangkan diriku saat ini. Entah kenapa, rasanya ada yang salah padaku.


.....


Vannya POV


Aku kaget saat aku berada di rumah sakit. Yang aku ingat, beberapa saat yang lalu. Aku masih berada didalam rumah dan masih merintih kesakitan. Hingga seseorang mengetuk pintu kamarku, namun aku tidak bisa membukakan pintu kamarku. Karna saat itu, aku sudah tidak bisa bergerak lagi. Perutku yang sakit membuat aku terjatuh dilantai dan tidak bisa apa-apa selain merintih kesakitan.


Tapi saat itu, aku dengar seseorang mendobrak pintu kamarku. Aku tidak bisa melihat lagi siapa yang telah mendobrak pintu kamarku. Karna saat itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.


Saat aku sadar, aku sudah berada didalam kamar yang serba berwarna putih dan berbau khas obat-obatan. Dan aku tahu betul tempat apa ini sebenarnya. Apa lagi kalau bukan rumah sakit.


Aku mendengar seseorang sedang panik diluar. Seseorang itu terlihat sangat cemas saat ia bertanya keadaan aku dengan dokter yang baru saja keluar. Aku dengan jelas mendengar siapa orang yang sedang berbicara dengan dokter.


Sebenarnya, aku tidak ingin bertemu orang ini. Namun bagaimana lagi, yang membawa aku kerumah sakit tidak ada orang lain selain dia.


Saat pintu terbuka, aku menutup mataku kembali. Benar saja, orang yang membawa aku kerumah sakit ini adalah kak Lio. Bearti yang mendobrak pintu kamarku memanglah kak Lio. Ternyata aku tidak salah melihat orang, sebelum aku kehilangan kesadaranku.


Kak Lio masuk kedalam kamarku, ia terlihat baru sadar lepas dari beban berat. Ia mengucapkan kata-kata yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kak Lio bilang, ia minta maaf padaku dan ia menyalahkan dirinya sendiri. Ia mengatakan, aku masuk rumah sakit karna ia. Aku tidak tega melihatnya, niat aku ingin tetap menutup mata, aku batalkan. Aku bilang kalau aku baik-baik saja dan ia tidak perlu minta maaf. Ternyata, reaksi kak Lio sangat tidak bisa aku tebak. Ia seperti orang yang sedang ketahuan maling dan tertangkap warga. Ia gelagapan dan pergi keluar untuk meninggalkan aku.

__ADS_1


Aku sebenarnya tahu, kak Lio cemas padaku hanya karna ia takut kak Nessa menyalahkannya kalau terjadi sesuatu padaku. Iakan hanya takut jika kak Nessa marah padanya dan mereka bertengkar. Ia sangat menyanyangi kak Nessa sehingga ia mau berbuat apa saja demi membahagiakan kak Nessa.


Sebenarnya, kalau aku menjadi kak Nessa. Mungkin aku adalah orang yang paling bahagia, karna bisa mempunyai suami yang seperti kak Lio. Ia baik dan selalu mengalah pada kak Nessa. Berbeda halnya kak Nessa, ia selalu membuat kak Lio tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan dan kemauannya.


__ADS_2