Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
41


__ADS_3

"Iya Lio, ada apa kamu mau bicara sama mama."


"Mama, Venessa kecelakaan."


"Apa!"


Mama terdengar sangat amat kaget. Aku juga mendengarkan bunyi sesuatu yang jatuh sangat keras.


"Ada apa mama?"


Suara Vannya juga terdengar jelas. Suaranya sangat panik saat ini.


"Hallo kak Lio. Ada apa sih kak?"


"Jangan panik Vannya, ingat kandungan kamu yang masih lemah itu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa sama anak kita."


"Lho, ada apa sih kak. Kak Lio ini bikin aku cemas saja. Aku tidak akan kenapa-napa kok."


"Venessa kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit Karang Agung."


"Apa!"


"Vannya, kuasai diri kamu. Aku udah bilangkan, jangan kaget dan pikirkan anak kita yah. Jangan cemas oke," kataku berusaha membuat Vannya tidak merasa cemas dan kaget.


"Kami akan kesana," ucap Vannya dengan nada lemahnya.


Sambungan telfon ini pun putus. Aku menelan ludah dengan sangat sulit rasanya.


Pikiranku kembali berjalan, memikirkan tentang hubungan Venessa dengan Ramon. Ada apakah dibalik kecelakaan mereka. Apa hubungan Nessa dengan Ramon?

__ADS_1


Oh ya, aku melupakan satu orang lagi yang juga mengalami kecelakaan. Mungkinkah orang itu adalah Pandu? Siapa lagi kalau bukan Pandu. Selama ini, Pandu akan selalu berada di samping Nessa. Lebih dekat dari aku sebagai suami Nessa.


"Maaf mas, apakah nama mas Lio?" kata suster yang baru keluar dari dalam kamar rawat.


"Iya Sus, saya Lio. Tepatnya, AdeLio."


"Pasien ingin bertemu dengan mas. Silahkan temui pasien sekarang," ucap suster itu.


Aku mengikuti langkah kaki suster itu. Berjalan tepat di belakang suster.


"Silahkan mas, saya tinggal dulu," kata suster itu.


"Mas Lio ...." ucap Nessa sangat lemah dan suaranya bergetar.


"Iya Nessa, ini aku."


"Aku minta maaf mas. Selama ini, aku susah banyak menyakiti hati kamu dan membuat kamu menikahi Vannya."


"Maafkan aku mas, aku rasa aku tidak akan lama lagi. Kamu berbahagialah bersama Vanny."


"Mas aku minta maaf, aku tidak cinta padamu awalnya. Tapi pada akhirnya, aku sadar, kalau kata tidak cinta itu adalah kata bohong. Aku sadar, aku tidak bisa menutupinya lebih lama. Aku cinta sama kamu, tapi itu sudah terlambat."


"Tidak ada kata terlambat Nessa, aku juga tidak mencintai Vannya awalnya. Tapi pada akhirnya, aku sangat mencintai Vannya. Tapi aku tidak menggeserkan kamu dari hatiku. Kamu masih tetap ada dalam hatiku, walaupun kau mencintai orang lain."


"Terima kasih mas Lio, tapi bagi aku sudah terlambat. Aku tidak akan mungkin bisa memperbaiki semua kesalahan aku pada Vannya. Aku mengambil pacarnya dan membuat Vannya mati rasa dalam cinta."


"Aku minta maaf soal hubungan aku dengan Pandu. Aku dan Pandu bukan hanya sebatas sopir dan bos. Tapi aku punya hubungan yang lebih dari itu mas. Aku juga minta maaf, hanya memanfaatkan kamu sebagai suamiku saja selama ini. Aku juga bukan wanita mandul dan tidak bisa hamil sebenarnya, aku hanya meminum pil penunda kehamilan sejak aku masih remaja. Hal itu membuat aku tidak bisa hamil hingga saat ini."


Berhentilah bicara omong kosong Nessa. Aku tidak ingin kamu terus ngerocos saat kamu sakit seperti ini. Kamu bisa bicarakan semua omong kosong ini, setelah kamu sembuh nanti."

__ADS_1


"Aku tidak bicara omong kosong mas Lio. Aku bicara yang sebenarnya. Maafkan aku membuat kamu meminum pil perangsang di malam pertama kita. Itu aku lakukan, agar kamu tidak tahu, kalau aku sudah tidak murni lagi. Aku sudah pernah melakukannya dengan laki-laki lain sebelum kita menikah."


Wajahku tiba-tiba memerah saat ini. Aku sangat marah, tapi tidak bisa aku tunjukkan kalau aku sedang marah. Melihat konsisi Nessa yang sedang sekarat. Tidak mungkin aku menyakitinya.


"Jangan marah mas Lio, aku menceritakan semua ini. Karna aku hanta ingin pergi dengan tenang saja. Aku tidak ingin membawa pergi semua rahasia tentang aku."


"Aku mohon, jagalah Vannya dengan baik. Ia adalah gadis yang sangat baik. Aku punya hutang yang sulit aku lunasi. Untungnya, kamu membantu aku meringankan hutangku pada Vannya."


"Hutang apa yang kamu punya pada Vannya selama ini Nessa. Sehingga kamu berjuang untuk membuat ia bahagia dengan menjadikan aku sebagai landasannya."


"Sebenarnya, aku mendapatkan dua hal sekaligus mas. Dengan menikahi kamu, aku mendapatkan dukungan penuh dari perusahaan kamu. Aku juga bisa menjadikan kamu sebagai suami adikku. Karna aku telah membuat Vannya terluka waktu itu. Aku membuat dia kehilangan pacar yang ia sayangi. Aku juga telah membuat neneknya meninggal karna aku."


"Hahahaha, aku benar-benar wanita gila. Apa yang aku lakukan sangat banyak membuat Vannya terluka. Padahal, dia adalah gadis kecil yang rela berbagi apa saja dengan aku."


Venessa terlihat sangat menyedihkan. Ia tertawa dengan suaranya yang bergetar. Tapi disudut matanya, ia mengeluarkan air mata yang sangat deras.


Kini, tubuhnya bergetar hebat. Ia terlihat sangat kesakitan sekarang. Aku sangat kaget melihat hal ini.


"Ma ... mas Lio, aku ti ... tidak kuat la ... gi."


Suara Nessa terputus-putus, perkataannya tidak bisa aku dengarkan dengan jelas lagi saat ini.


Aku bergegas memanggil dokter, untuk memeriksa kondisi Nessa. Aku tidak ingin Nessa pergi secepat ini.


Walau banyak kesalahan yang ia lakukan pada aku selama ini. Tapi rasanya, ini terlalu cepat buat Nessa pergi.


"Kak Lio, kenapa terlihat sangat panik?" kata Vannya yang tiba-tiba saja ada dihadapanku saat ini.


"Di mana Nessa, Lio?" kata mama tak kalah cemasnya.

__ADS_1


"Nessa sedang berada di dalam ma," kataku sambil mengarahkan telunjuk kearah kamar rawat ini.


Pintu kamar rawat itu terbuka seketika. Dokter yang berada di dalam sana keluar dengan wajah yang sulit untuj di jelaskan.


__ADS_2