
Vannya POV
Aku terbangun saat hari sudah mulai terang. Meskipun matahari belum menampakkan dirinya, namun hari sudah terang. Aku melihat disampingku, tidak ada kak Lio lagi disana. Apakah kak Lio memang tidak tidur bersamaku tadi malam? Atau ia sudah bangun lebih dulu dari pada aku.
Aku seperti orang yang sedang kebingungan sesaat lamanya. Namun, aku putuskan untuk tidak memikirkan hal itu. Yang penting, tidak terjadi apapun pada aku tadi malam. Aku bisa bernapas lega saat bangun. Jelas saja tidak terjadi apapun, aku dan kak Lio kan sama-sama tidak saling suka. Mana bisa terjadi apa-apa pada kami.
Aku menepuk kepalaku pelan, apa yang aku pikirkan sebenarnya. Apa yang aku harapkan sih. Aku dan kak Lio hanyalah mengikuti keinginan kak Nessa.
"Stop Vanny, apa yang kamu pikirkan sebenarnya. Kenapa kamu jadi orang naif banget sih," kataku bicara pada diri sendiri.
Aku pun bangun dan menuju kamar mandi. Namun, perutku terasa sangat amat lapar sekarang. Aku belum makan dari kemarin sore. Aku juga tidak jajan sedikit pun seharian kemarin. Biasanya, aku selalu jajan dengan berbagi cemilan enak disetiap sore. Dan malamnya, aku akan jajan lagi. Tapi kemarin, jangankan jajan, makan malam aja aku tidak.
Aku suka ngemil, namun tububku tidak terlihat gendut karna suka ngemil. Bahkan, tubuhku terlihat sangat langsing walau sebanyak manapun aku ngemil. Itulah istimewanya aku, bisa makan sesuka hati tanpa takut berat badanku naik akibat terlalu banyak ngemil.
Tapi, kata mama, aku tidak gendut karna aku kebanyakan jajan. Mama sering marah padaku, karna aku tidak kenyang jika tidak makan jajan.
Lupakanlah soal itu, aku tidak bisa menahan perutku yang sangat lapar. Niat untuk kekamar mandi, terpaksa aku urungkan. Karna perutku yang minta segera diisi membuat aku harus turun kebawah.
Aku segera menuruni anak tangga dengan cepat. Saat aku hampir saja sampai di dapur, kak Nessa dan kak Lio sedang sarapan bersama.
Aku terdiam saat melihat mereka berdua sedang melihat kearah aku. Mau putar balik juga sudah tidak sempat lagi. Karna aku sudah terlihat jelas dimata mereka berdua. Aku yang tidak suka hadir disaat mereka sedang berdua ini, rasanya ingin menggali lonbang agar aku bisa ngumpet dan menghilang dari pandangan mereka.
"Udah bangun kamu Vann?" kata kak Nessa.
"Ud ... udah kak."
__ADS_1
Dalam hatiku berkata, 'aku udah bangun, makanya aku ada disini. Kalau belum bangun mah aku masih baring dikamar kali kak.'
"Ayo sarapan bersama," kata kak Nessa padaku.
"Aku udah kenyang," ucap kak Lio yang meletakkan sendoknya diatas piring yang masih terdapat banyak nasi goreng.
"Aku kekantor duluan," katanya lagi.
Kak Lio pun beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan kak Nessa tanpa menunggu kak Nessa menjawab apa yang ia katakan terlebih dahulu.
Hatiku jadi tidak enak pada kak Lio. Ia berhenti sarapan karna kak Nessa ajak aku sarapan bersama. Kak Lio terlalu menunjukkan, kalau ia tidak suka aku ada diantara ia dan kak Nessa. Ia bahkan meninggalkan kak Nessa bersama aku saat belum selesai sarapan.
"Tunggu apa lagi Vanny, sarapan sekarang!" kata kak Nessa dengan kesalnya.
"Aku gak bisa sarapan sekarang kak, aku mau cemilan aja dulu," kataku menolak.
"Iya kak, aku tahu. Tapi saat ini, aku hanya butuh cemilan. Aku gak bisa makan sekarang," kataku terus menolak.
"Ya udah, lihat di kulkas apa yang ada. Kamu bisa makan buah atau keripik yang ada di kulkas itu. Tapi jangan makan coklat, karna coklat punya mas Lio."
"Iya kak."
Aku pun pergi menghampiri kulkas yang berada tak jauh dari meja makan. Aku membuka kulkas ini. Lumayan banyak makanan didalam kulkas ini. Ada buah-buahan dan masih banyak jajan yang bisa aku makan. Mataku terfokus pada berbagai macam coklat yang ada dikulkas atas.
"Kak Nessa, apa semua coklat ini miliknya kak Lio?" kataku penasaran. Karna coklat yang ada didalam kulkas ini tidak hanya satu mereka.
__ADS_1
"Iya, semua coklat itu milik mas Lio."
Aku terdiam, makanan favorit aku adalah coklat. Tapi saat ini, ada banyak coklat yang berada didalam kulkas, namun satu pun tidak bisa aku makan.
Tapi tunggu, coklat ini adalah milik kak Lio. Berarti kak Lio sangat suka sama coklat dong. Masa iya, kak Lio itu sama dengan aku, sukanya sama coklat.
"Vanny, apa yang kamu lihat lagi. Sudah ambil jajannya, tutup kulkas itu. Ngapain harus membeku disana sih," ucap kak Nessa membuat aku sadar dari lamunanku.
"Iya kak," kataku sambil melakukan apa yang kak Nessa katakan.
Aku berjalan menuju meja makan. Disana, kak Nessa sedang sibuk dengan ponselnya. Gak tahu apa yang ia lihat di ponsel itu.
"Kak, apa boleh aku minta satu aja dari coklat yang ada didalam kulkas itu?" kataku pelan.
"Vanny, bukan kakak gak mau kasih. Tapi itu milik mas Lio. Nanti ia nanya lagi kemana coklatnya. Kamukan tahu kalau kakak gak suka sama coklat," kata kak Nessa.
Aku terdiam dengan wajah putus asaku, seperti biasa saat aku tidak dapat apa yang aku inginkan. Aku akan melakukan hal seperti itu. Mengubah wajah manisku menjadi wajah menyedihkan untuk dilihat.
"Vanny, kak mau berangkat kerja dulu. Wajah kamu itu jangan gitu dong hanya karna coklat," kata kak Nessa.
"Aku sama siapa dirumah kak?"
"Kamu sama bibiklah, sama siapa lagi. Kakak berangkat dulu ya," kata kak Nessa sambil berjalan menuju pintu rumah.
Aku hanya mengangguk saja sambil melihat kak Nessa menghilang dibalik pintu keluar rumah itu. Aku berpikir sedikit kemasa lalu, saat dimana kak Nessa menjadi kakak terbaik buat aku. Ia selalu memberikan apa yang aku mau, bahkan ia pernah mengorbankan apa yang ia suka demi apa yang aku mahu.
__ADS_1
Aku rasanya sudah sangat jahat sekarang. Aku menjadi wanita kedua buat rumah tangga kak Nessa. Tapi ini juga karna permintaan kak Nessa, kalau tidak aku tidak akan melakukannya.