Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
21


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan kak Nessa dari pekerjaannya diluar kota. Setelat dua minggu lamanya, kak Nessa akhirnya selesai juga mengerjakan proyeknya diluar kota.


Aku menunggu kakak ku pulang kerumah ini dengan penuh semangat. Dia kakakku yang sangat aku sayangi, walaupun tidak pernah bisa aku bahagiakan.


Sepuluh menit lamanya aku menunggu kak Nessa di ruang tamu rumah ini. Dan akhirnya, mobil kak Nessa sampai di halaman rumah ini dengan selamat.


"Kakak ...." ucapku sambil menyambut kak Nessa didepan pintu rumah.


"Vanny, kamu nungguin kakak ya?" kata kak Nessa.


"Iya kak, aku nungguin kak Nessa pulang."


"Kamu kayak anak kecil saja Vann, pakai nungguin kakak pulang segala."


"Oh ya, kamu tolong bantuin Pandu keluarin barang-barang kakak yah. Kakak mau langsung istirahat di kamar. Soalnya, kakak capek banget."


"Iya kak," ucap aku dengan semangat.


Aku segera menghampiri mobil kak Nessa. Di sana, mas Pandu sedang sibuk mengeluarkan barang-barang kak Nessa dari dalam mobil.


"Mas Pandu!" ucapku sambil menepuk bahunya mas Pandu.


"Eh, non Vanny ternyata. Seneng banget bikin orang kaget yah," ucap mas Pandu sambil mengelus dadanya.


"Alah, gitu aja mas Pandu kaget sih ma."


"Ya jelas dong non, saya kan sedang fokus sama pekerjaan saya, eh non Vanny datang dan bikin kaget. Untung jantung saya gak copot non," ucap mas Pandu sambil tersenyum.


"Apaan sih mas Pandu, gak akan copot itu jantung kalau aku kagetin."


"Oh ya, apa yang bisa aku bantu nih sekarang?" kataku lagi.

__ADS_1


"Kayaknya, non Vanny hanya bisa bantu lihatin saya aja sekarang," kata mas Pandu.


"Wah, dekat banget kalian berdua ternyata yah."


Sontak saja, aku dan mas Pandu sangat kaget dengan suara seseorang yang tidak asing lagi bagi aku. Mas Pandu dan aku sama-sama melihat asal dari suara yang menegur kami.


Di sana, kak Lio berdiri tegak sambil melipat tangannya. Ia terlihat sangat tidak suka dengan apa yang telah ia lihat. Ntah sejak kapan, ia berada di sana, aku juga tidak tahu dan tidak menyadarinya.


"Kak Lio," ucapku.


"Tuan Lio, ini gak seperti yang Tuan pikirkan kok," ucap mas Pandu berusaha menjelaskan.


"Apa yang aku pikirkan, memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan sekarang."


"Bukan seperti itu Tuan, saya dan non Vanny ...."


"Sudah, tidak perlu kamu jelaskan. Aku tidak mempermasalahankan apa yang kalian lakukan. Bagi aku, tidak penting apa yang kalian lakukan," kata kak Lio sambil mengangkat tangannya.


Ada yang salah dengan hati ini sekarang. Aku merasa hati ini berubah rasanya. Hati ini terasa sakit saat mendengarkan perkataan kak Lio barusan. Air mata ini tiba-tiba mengalir perlahan dan tidak bisa aku tahan lagi.


Tanpa bicara apapun, aku memilih untuk meninggalkan mas Pandu sendirian. Aku tidak ingin mas Pandu melihat kalau aku sedang menangis hanya karna perkataan kak Lio barusan.


Harusnya aku tahu diri, aku ini tidak punya tempat di hati kak Lio. Aku hanyalah seseorang yang tiba-tiba datang dan menyela di antara mereka berdua. Aku tidak boleh lupa siapa aku dan siapa kak Lio.


Aku naik kekamar dengan cepat, lalu menutup pintu kamarku agar aku bisa berdiam diri di kamar ini.


....


Adelio POV


Aku pulang kerumah dengan tergesa-gesa, saat mendapat kabar dari bibik, kalau Nessa sudah pulang.

__ADS_1


Aku kesal saat tahu, kalau Nessa pulang tapi tidak memberi kabar padaku. Apakah aku sangat tidak penting buat Nessa sekarang? Sampai-sampai, ia tidak ingin aku tahu kalau ia sudah pulang kerumah.


Aku sangat kesal dengan hal ini. Namun, aku tetap mencoba berpikir positif dengan Nessa. Mungikin sekarang Nessa sedang sangat capek dan sangat sibuk, sehingga ia tidak sempat memberi kabar padaku.


Saat aku masih dalam rasa kesal, tanpa sengaja, aku melihat hal yang bikin hatiku merasa tidak enak. Hatiku yang pada dasarnya sudah sangat kesal, kini semakin menjadi-jadi rasa kesalnya, saat melihat Vanny sangat akrab dengan Pandu.


Ntah rasa apa yang aku rasakan, tapi ketika melihat Vanny berdekatakan dengan pandu, rasanya, hatiku seperti sedang terbakar saja, aku sangat marah dan makin kesal saja.


Tanpa sengaja, aku mengeluarkan peekataan yang tidak enak dari mulutku. Ntah mengapa, aku tiba-tiba saja mengatakan hal yang mungkin menyakiti hati Vanny. Tapi aku tidak bisa menahan mulutku untuk bicara. Selesai bicara apa yang aku mahu, aku pun meninggalkan Vanny dan Pandu.


Sebenarnya aku sangat marah ketika melihat Vanny begitu dekat dengan Pandu. Tapi, aku berusaha menutupi amarah itu dengan berkata apa saja yang ingin aku katakan tanpa memikirkan perasaan Vanny yang terlihat sangat sedih dengan perkataanku barusan.


Bahkan, selang beberapa saat saja aku masuk kedalam rumah. Belum sampai aku di depan pintu kamar kami. Vanny sudah berlari menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar.


Aku merasa sangat bersalah sekali sekarang. Tapi rasa kesal ini, membuat aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku memilih untuk masuk kedalam kamar menemui Nessa.


"Ness, kamu pulang kok gak bilang sama aku sih," ucaoku saat melihat Nessa sedang berbaring di kasur.


"Kalau aku bilang juga gak akan ada untungnyakan mas," ucap Nessa ketus.


"Nessa, kamu kok ngomongnya gitu sih sama aku. Aku itu suami kamu, kenapa kamu selalu berkata ketus seperti itu," ucapku.


"Mas Lio, aku capek sekarang, kamu gak usah banyak omong yah. Mungkin nanti malam kita bisa bicara panjang lebar kalau kamu mahu."


Pada akhirnya, aku harus diam lagi dan lagi. Mengalah terus dan terus saja mengalah. Menjadi budak cinta dan tidak bisa berkutik.


Aku terlalu cinta pada Nessa, sehingga tidak bisa mengatakan tidak pada apa yang ia katakan. Bahkan sama apa yang mama katakan, aku juga tidak bisa memilih antara mama dan Nessa. Aku selalu memilih Nessa yang paling utama dan paling penting bagi aku.


Aku sangat berharap, kalau saja bisa diubah, bisakah, Nessa itu berubah sifatnya menjadi Vanny. Gadis itu sangat lembut dan selalu membuat hati tenang dan sejuk saat bersama.


Tapi tunggu, kenapa aku malah memikirkan Vanny di saat aku bersama Nessa. Apakah sekarang aku telah terbiasa bersama Vanny? Tidak, tidak mungkin seperti itu. Bukankah aku dan Vanny awalnya hanya hubungan antara kakak ipar dan adik ipar. Apakah sekarang sudah berubah?

__ADS_1


__ADS_2