Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
30


__ADS_3

Kami duduk di salah satu tempat duduk di taman bunga yang indah ini. Letak taman berada tak jauh dari jalan raya. Tapi udaranya sangat segar dan tidak ada polusi di sini.


Aku yang sedari tadi asik melihat wajah kak Lio. Sesekali harus kaget saat ia melihat kearah aku. Pikiran ini selalu kalah dengan hati yang selalu ingin menganggumi kak Lio. Aku menikmati jalan-jalan bersama kak Lio sore ini. Angin yang berhembus perlahan, terkadang menerbangkan bauh harum parfum yang kak Lio gunakan.


"Vanny, boleh aku tahu apa kesukaan kamu," ucap kak Lio tiba-tiba.


"Ke ... kesukaan? Kesuakan apa?"


Aku benar-benar terlihat seperti orang yang bod*oh sekarang. Masa aku malah bertanya balik pada kak Lio. Bahkan, aku bicaranya saja dengan gelagapan. Bikin malu saja aku ini, seperti orang yang baru pernah kencan. Tapi, inikan bukan kencan namanya.


"Oh maaf, maksudku, makanan kesukaan kamu, minuman kesuakaan kamu dan apa saja yang kamu suka," kata kak Lio dengan tatapan mata yang sulit untuk aku jelaskan.


"Aku ... aku suka makan ... apa saja yang bisa dimakan sih kak. Kalau minuman, aku suka selain yang terbuat dari buah-buahan."


Kak Lio tertawa kecil saat mendengarkan perkataanku. Mungkin, ia merasa lucu saat mendengarkan apa yang aku katakan. Tapi, yang aku jawab barusan adalah kenyataan dari aku. Aku akan minun, semua yang tidak mengandung serat buah-buahan. Aku akan makan, apa saja yang aku suka dan bisa dimakan. Aku tidak punya makanan favorit, karna aku akan bosan jika, sering memakan apa yang aku suka. Makanya, aku tidak punya makanan atau minuman favorit.


"Ada yang salah ya kak?"


"Tidak, tidak, tidak ada yang salah Vanny."


"Tapi kenapa kak Lio tertawa, jika tidak ada yang salah."


"Aku hanya sedikit merasa lucu dengan jawaban kamu barusan. Masa iya, kamu tidak suka minuman yang mengandung perisa buah, atau minuman yang terbuat dari buah-buahan. Terus makanan kesukaan, malah semua yang bisa dimakan."


"Ada yang salah ya kak dengan semua itu?"


"Tidak ada yang salah sih, hanya saja sedikit aneh bagi aku. Aku baru pertama kali lho Vanny, bertemu orang seperti kamu. Polos banget kamunya ini," kata kak Lio sambil menahan tawanya.

__ADS_1


Aku hanya diam saja saat mendengarkan perkataan kak Lio barusan. Ia bilang aku begitu polos, padahal aku hanya bilang apa yang sebenarnya. Apa yang kak Lio tanya, ya aku jawab dengan jujur. Salahkah sebuah kejujur? Harusnya, mereka itu bahagia jika pertanyaan yang mereka lontarkan, dapat jawaban yang jujur. Ini malah sebaliknya, ia malah meremeh dan menertawai. Dasar manusia aneh.


Aku terus mengerutu dalam hatiku, aku tidak bicara apapun, melainkan hanya diam dan mengerutu kesal pada kak Lio. Makin aku kesal, kak Lio ternyata makin bahagia. Ia semakin semangat menertawai aku. Tawanya semakin keras saja sekarang, ia benar-benar merasa senang mungkin saat ini.


"Kak Lio, jika tawanya sudah selesai. Aku ingin pulang dan mandi di rumah. Jika kak Lio sudah puas mentertawai aku, segeralah bawa aku pulang," ucapku tanpa tawa sedikitpun.


Saat melihat aku yang serius dengan perkataanku. Kak Lio menghentikan tawanya, dan melihat aku dengan tatapan serius pula.


"Kamu marah ya Vanny?" kata kak Lio.


"Tidak, aku tidak marah. Untuk apa marah, jika aku bisa membuat orang tertawa, maka aku harus bahagai, bukannya marah."


"Kamu beneran marah ya?" katanya dengan senyum menggoda.


"Tidak, aku hanya sadar satu hal, jika bisa membuat orang tertawa hari ini. Maka biarkan mereka tertawa, walaupun mereka sedang tertawa diatas luka yang kita dapatkan."


"Aku minta maaf, aku hanya sedang bahagia saja sekarang. Aku tidak bermaksud buat tertawa atas luka kamu."


"Ayo kita pulang," ucap kak Lio sambil bangun dari duduknya.


Tiba-tiba saja, suasananya terasa sangat dingin, sedingin es di kutub utara. Aku mengikuti kak Lio dari belakang. Tidak sangup untuk bicara apapun lagi sekarang. Aku rasa, aku sudah membuat ia tersingung dengan kata-kataku tadi.


Kami berjalan pulang, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi aku hanya bisa memilih diam saja, tanpa bicara sepatah katapun. Sama halnya kak Lio, ia juga diam tanpa kata. Intinya, suasana sekarang sedang tidak enak sekali. Hingga sampai di rumah, kami hanya diam juga.


"Aku pulang dulu Vanny, kamu gak papakan, tinggal sama bibik malam ini?" kata kak Lio saat aku ingin turun dari mobil.


"Gak papa kok kak, aku gak masalah kalo harus tinggal sama bibik."

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu, aku pulang dulu. Kalo ada apa-apa, langsung kabari aku yah."


"Iya kak."


....


Semakin lama, hubungan aku dan kak Lio semakin dekat saja. Ntah apa yang salah dengan hatiku sebenarnya. Aku selalu merasa nyaman jika berada disamping kak Lio.


Waktu bisa membuat hati manusia berubah. Dari benci jadi cinta, bahkan sebaliknya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


Sama halnya dengan perasaan aku. Ntah kapan aku merasakan rasa yang berbeda dari yang biasanya ini. Yaitu sebuah rasa cinta sebagai sepasang laki-laki dan perempuan yang terikat dalam suatu pernikahan.


"Nyonya, Tuan Lio sudah menunggu di bawah," kata bibik padaku dari balik pintu kamar.


"Iya bik, bilang sama kak Lio. Tunggu sebentar yah. Aku mau siap-siap dulu," ucapku sambil bangun dari duduk.


Aku tersenyum lebar saat bibik mengatakan kalau kak Lio sudah ada di bawah. Orang yang aku tunggu, sedang menunggu aku di bawah sana. Bagaimana bisa aku tidak merasa bahagia.


Aku segera mengenakan pakaian terbaikku untuk berjalan bersama kak Lio. Semuanya sudah aku siapkan dari sebelum aku duduk melamun sambil menunggu kak Lio sampai.


"Maaf ya kak, udah bikin kak Lio nunggu lama," ucapku sambil berjalan mendekati kak Lio.


"Gak papa, aku juga belum lama kok nyampainya," ucap kak Lio sambil memperlihatkan senyum manisnya.


"Ayo berangkat sekarang," kata kak Lio lagi.


Aku hanya tersenyum dan mengikuti langkah kak Lio keluar dari rumah.

__ADS_1


__ADS_2