Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
17


__ADS_3

Samar-samar aku mendengarkan suara seseorang disamping ranjang. Aku pum segera menghampiri sisi ranjang itu. Ternyata, di sana sedang tertunduk wanita yang sedang aku cari dari tadi. Ia, Vanny berada disudut ranjang sambil menangis dan menutupi wajahnya dibalik lengannya sendiri.


"Vanny, kamu kenapa?" ucapku sambil menyentuh bahu Vanny.


Vanny terlihat sangat kaget saat tanganku menyentuh bahunya. Ia menganggkat wajahnya untuk melihat aku. Vanny tidak menjawab apa yang aku tanyakan, ia malah segera memeluk aku sambil terus menangis.


"Kenapa kamu?" ucapku semakin tidak mengerti.


Sementara itu, aku membalas pelukan Vanny. Ia terlihat sangat takut saat ini. Guntur kembali menggelegar membuat bunyi yang memekakkan telingga, disertai hujan yang sangat deras sekali. Saat guntur berbunyi keras, Vanny memeluk tubuhku semakin kuat sampai-sampai aku kaget karna cengkraman tangannya sangat kuat.


Aku tidak tahu apa yang Vanny rasakan. Ntah apa yang terjadi pada Vanny sebenarnya, aku juga tidak tahu. Tapi yang aku tahu, Vanny saat ini sangat ketakutan. Ia bahkan tidak sanggup menggendalikan dirinya sendiri.


Vanny tidak menjawab saat aku tanyakan, ia hanya menyembunyikan wajahnya di dadaku. Aku cemas dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ingin menenangkan Vanny, tapi saat guntur kembali berbunyi, maka Vanny akan terlihat semakin ketakutan. Aku bisa menarik kesimpulan, Vanny saat ini sedang takut dengan suara guntur yang sangat kuat ini.


"Vanny, gak papa, tenangkan hati kamu. Bunyi itu tidak akan menyakiti kamu," ucapku berusaha melonggarkan dekapannya yang sangat kuat sehingga aku agak sulit untuk bernapas.

__ADS_1


"Aku takut ... tolong aku. Mama ...."


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis ini sebenarnya. Ia terlihat seperti bukan dia lagi sekarang. Ia bahkan tidak berani membuka matanya sedikitpun.


Aku angkat tubuh Vanny dan aku bawa keluar dari kamarnya. Aku membawa Vanny kekamarku, karna aku yakin, dilantai bawah, bunyi guntur akan sedikit lebih berbeda dari lantai atas.


Vanny tidak bicara sepatah katapun. Ia terus menutup matanya sambil memegang bahuku. Aku rasa, gadis ini sangat takut pada guntur yang berbunyi sangat kuat ini.


Sampai di kamarku, aku baringkan Vanny. Vanny tidak melepaskan aku sedikit pun. Tangan dan kaki gadis itu terasa gemetaran dan sangat dingin.


"Tidak, dia pernah membunuh orang yang aku sayang," ucao Vanny tanpa membuka matanya.


Saat kata-kata itu aku dengar, pikiranku tiba-tiba terhubung dengan perkataan Nessa tentang adiknya. Dulu, sebelum aku menikahi Nessa. Aku sering mendengar Nessa bercerita tentang adiknya yang sangat lemah dalam segala hal. Nessa mengatakan, adiknya itu butuh penjagaan yang khusus dan harus ekstra. Nessa sangat sayang pada adiknya, ia akan menjaga adiknya hingga ia tiada. Nessa pernah bilang, dia akan memberikan segala yang ia punya untuk adiknya. Karna, saat ia tidak punya apa-apa dan siapapun, adiknyalah yang membuat ia bertahan dan rela membagikan orang tuanya pada Nessa.


Aku ingat sekarang, Nessa juga pernah mengatakan, kalau adiknya pernah menderita astraphobia. Adiknya sangat takut pada guntur dan kilat.

__ADS_1


Nessa juga bilang alasan kenapa adiknya sampai takut pada guntur dan kilat. Saat itu, adiknya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia punya teman yang sama-sama duduk di bangku yang sama. Adiknya ini sangat suka dengan hujan. Bahkan, ia selalu bermain air hujan, saat hujan turun deras. Adiknya bermain bersama teman baiknya, saat itu, tidak ada guntur dan kilat. Tapi, saat mereka asik bermain hujan, tiba-tiba saja, kilat menyambar dan guntur sekaligus membakar tubuh temannya yang berada tak jauh dari adiknya.


Nessa bilang, sejak itulah, adiknya tidak pernah bermain hujan lagi. Bahkan, ia tidak pernah berada diluar rumah saat hujan turun. Dan, yang paling menkhawatirkan lagi, efek dari tragedi itu sangat fatal buat adiknya. Adiknya tidak pernah bisa tenang saat guntur dan kilat ada. Bahkan, ia akan menangis ketakutan saat ia sendirian.


Bukan hanya itu yang aku ingat, Nessa pernah bilang, dia akan memberikan apa yang ia punya untuk adik kesayangannya. Karna, bagaimanapun, semau yang terjadi pasa adiknya, adalah karna dia. Nessa selalu menyalahkan dirinya ketika terjadi sesuatu pada adiknya. Ia selalu bilang, kalau dia tidak mengambil apa yang seharusnya adiknya miliki, maka adiknya tidak akan terlihat lemah dari segi apapun.


Dulunya, aku tidak tahu apa maksud dari Nessa yang selalu menceritakan adiknya padaku. Tapi saat ini, makin hari aku makin tahu, apa tujuan Nessa menceritakan semua kisah adiknya.


Aku lihat Vanny yang masih menutup matanya disampingku. Aku rasa, saat ini, Vanny sudah terlelap. Karna bunyi guntur tidak terdengar lagi.


Aku lihat wajah yang terlelap disampingku. Apakah ini adik yang Nessa selalu jaga selama ini. Dan apakah ini niat Nessa yang sesungguhnya, saat meminta aku menikahi Vanny.


Aku harus bertanya pada Nessa, apa yang sebenarnya ia inginkan dari niatnya menikahkan aku dengan adiknya. Aku ingin tahu dengan jelas, apakah yang aku pikirkan ini benar. Nessa rela membagi semua yang ia punya, karna adiknya telah berbagi apa yang seharusnya tidak ia bagi.


Tapi, apakah ini adil buat adiknya. Apakah Nessa sudah memikirkan apa yang terjadi pada adiknya jika menjadi istri kedua. Apakah Nessa tahu, jika aku menyakiti adiknya, itu akan lebih membuat adiknya merasa tersiksa.

__ADS_1


Aku tidak ingin salah menebak. Lebih baik, aku tunggu Nessa pulang dan bertanya semua kebenarannya langsung pada Nessa. Jangan berpikir sendiri, karna apa yang aku pikirkan ini, belum tentu benar adanya.


__ADS_2