
Pada akhirnya, aku dan bibik memasak bersama. Untungnya, kak Lio sudah mengisi kulkas dengan berbagai sayuran dan bahan makan lainnya. Kulkas penuh dengan bahan makan yang belum dimasak. Ntah kapan ia belanja semua bahan makan ini, tau-taunya udah penuh aja saat aku membuka pintu kulkasnya.
Bukan hanya itu, dalam lemari juga sangat banyak jajan. Mungkin ia sudah tahu apa yang aku butuhkan. Cemilan dan cokelat juga banyak didalam kulkas. Hatiku bertanya, apakah ini semua ia siapkan untuk aku.
Ya ampun, aku jadi sedikit berbahagia sekarang. Walaupun aku tidak sangup untuk berharap banyak. Karna aku sangat takut, harapan yang aku punya hanya akan terbuang sia-sia dan membuat hatiku sakit saja pada ujungnya.
"Nyonya, kayaknya, Tuan Lio sekarang sangat perhatian pada Nyonya."
"Maksud bibik?"
"Lihat saja kulkasnya, lihat saja semua yang ada di rumah ini. Semuanya terlihat sangat sempurna. Kita tidak perlu kepasar lagi, bahan makanannya sudah Tuan Lio sediakan dalam kulkas. Semuanya terlihat sudah dipertimbangkan oleh Tuan Lio, Nyonya."
"Bibik, itu tidak bisa dikatakan perhatian padaku. Mungkin ia berpikir, kalau ia mau makan siang di rumah barunya. Makanya ia sediakan semua bahan makanan, agar kita bisa masak."
"Apakah Nyonya tidak berpikir yang lain Nyonya?"
"Berpikir soal apa bibik? Aku rasa tidak ada yang lain kayaknya."
"Ada Nyonya, aku rasa, sekarang Tuan muda sudah punya rasa cinta pada Nyonya," kata bibik dengan sangat bahagia.
"Lanjutkan masaknya bik, aku mau kekamar mandi sebentar," ucapku sambil meninggalkan bibik.
__ADS_1
Bukan apa-apa, aku hanya tidak sangup mendengarkan perkataan bibik yang terus mengatakan hal yang tidak mungkin tentang aku dan kak Lio.
Aku hanya tidak ingin berharap saja, soalnya, aku tiak ingin kecewa lagi dan lagi. Apa yang kak Nessa ucapkan padaku, masih terdengar sangat jelas di telingaku. Bagaikan rekaman yang terus memutar di benakku. Aku tidaj yakin, kalau kak Nessa itu menikah dengan kak Lio tidak karna cintanya. Buktinya saja, pernikahan mereka sudah bertahan lebih dari satu tahun. Kalau gak cinta, gimana bisa kak Nessa bertahan dengan kak Lio selama itu.
Sudahlah, ini terlalu rumit buat aku pikirkan. Makin dipikir, makin ribet dan tambah rumit saja, yang membuat kepalaku tambah sakit saja sekarang. Lebih baik jalani saja apa yang telah terjadi. Karna tidak mungkin tidak ada jalan penyelesaiannya nanti.
Aku mencoba berpikir positif sajalah sekarang tidak ingin memikirkan hal yang berat. Yang membuat pusing kepalaku, dan tidak akan membuat aku nyaman.
.....
Apa yang bibik katakan ternyata benar. Kak Lio ternyata kembali kerumahku saat waktu makan siang. Kebiasaan kak Lio adalah, makan siang di rumah. Karna ia sedikit alergi dengan makanan diluar rumah. Ia tidak suka makan di restoran terbuka dan tempat-tempat umum. Apalagi makan dipingiran jalan, lebih tidak pernah lagi kak Lio lakukan. Katanya, sejak kecil, ia sudah tidak terbiasa makan ditempat umum. Karna ia tidak tahu, siapa yang memasak makanan ditemoat umum itu. Makanya, ia tidak pernah makan di sana. Aku tahu itu semua dari bibik. Karna bibik adalah orang yang paling lama kenal dengan kak Lio.
......
Aku hanya diam saja, hingga ia pergi meninggalkan aku, aku masih diam tanpa sepatah katapun. Aku mencoba mencerna apa yang ia katakan padaku barusan, sebelum ia pergi. Kak Lio bilang, ia akan mengajak aku jalan-jalan setelah pulang kerja. Itu artinya, ia akan kembali kerumah ini.
Ya ampun, aku itu kesini ingin menghindar darinya. Tapi sekarang kenapa malah aku malah menciptakan lebih banyak waktu untuk kami berdua. Ya ampun, apakah ini salah aku atau bagaimana ini? Aku jadi pusing sendiri.
"Bibik, apa bibik mendengarkan apa yang kak Lio katakan sebelum berangkat kerja barusan."
"Iya Nyonya, bibik dengar apa yang Tuan Lio katakan. Ia bilang, ia ingin ajak Nyonya jalan-jalan setelah pulang kerja."
__ADS_1
"Apa bibik yakin, kalau itu yang kak Lio katakan."
"Iya Nyonya, bibik masih punya pendengaran yang baik kok Nyonya. Bibik gak salah dengar, apa yang Tuan Lio katakan tadi, bibik dengar dengan jelas."
"Ya ampun, kenapa aku jadi gak jelas gini yah."
"Maksudnya Nyonya?"
"Gak ada apa-apa bik. Apa itu artinya, kak Lio akan tinggal di rumah ini yah."
"Mungkin saja iya, mungkin juga tidak Nyonya. Karna Tuan Lio memberikan wakti yang banyak buat Nyonya, mungkin ia akan tidur di rumah Nyonya Nessa malam ini. Atau, bisa jadi, ia juga akan tinggal di sini bersama Nyonya malam ini."
Aku diam mendengarkan perkataan bibik. Aku tidak tahu mau bilang apa. Entah kenapa, aku jadi wanita yang aneh begini. Hatiku sangat menginginkan kak Lio itu selalu ada di sini bersamaku. Tapi di sisi lain, aku merasa tidak nyaman dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua ini membuat aku menjadi bingung sendiri.
Dasar hati gak bisa bersahabat, lain yang aku pikirkan, lain yang ia mahukan. Kenapa hati dan pikiranku ini selalu tidak sejalan sih. Hati ini bahkan sangat tidak rela, kalau kak Lio itu jauh dari aku. Tapi pikirin ini masih sehat ternyata, ia masih bisa berpikir hal yang baik. Ia tidak menerima kak Lio kalau selalu berada disekitaku. Karna aku masih memikirkan, bagaimana dengan kak Nessa nantinya. Walaupun kak Nessa bilang ia tidak cinta pada kak Lio. Tapi aku yakin, ia pasti punya perasaan ingin bersama kak Lio sebagai suaminya.
.....
Sore ini, kak Lio pulang dengan wajah capeknya. Tapi ia masih ingin mengajak aku jalan-jalan seperti yang ia katakan saat ia ingin berangkat kerja tadi siang.
Awalnya aku menolak untuk pergi jalan-jalan bersama kak Lio. Tapi, ia malah bilang, kalau aku harus menemaninya jalan-jalan karna ia merasa lelah seharian bekerja. Jadinya, bukan ia yang menemani aku jalan-jalan. Melainkan, aku yang menemaninya jalan-jalan sekarang.
__ADS_1
Kami pun berangkat dengan mobil kak Lio. Berjalan melihat-lihat pemandangan disekita tempat tinggal baruku. Menikmati suasana sore hari ditempat yang baru.
Kak Lio juga terlihat sangat menikmati suasana sore hari ditempat ini. Wajah capeknya jadi tidak terlihat lagi sekarang. Ia dengan baju kemeja biru yang ia pakai buat pergi kerja tadi itu, masih terlihat tampan dan gagahnya. Baunya juga masih harus saat aku berada disekitarnya. Ia masih segar, walaupun belum mandi.