
Aku pacu mobil ini dengan sangat kencang. Mereka yang marah karna aku melajukan mobilku dengan sangat cepat, tidak aku hiraukan lagi. Yang penting bagi aku adalah, segera sampai kerumah dan membawakan Vannya kerumah sakit.
Ku buka pintu rumah tanpa ada basa basi lagi. Aku lihat, Vannya sedang berada di pangkuan bibik.
"Apa yang terjadi bik?"
"Saya juga tidak tahu Tuan, Nyonya muda tiba-tiba saja pingsan."
Aku tidak mendengarkan apa yang bibik jelaskan lagi. Aku segera mengangkat tubuh Vannya yang mungil itu. Lalu membawanya masuk kedalam mobil.
Saat sampai di rumah sakit, aku membaringkan tubuh Vannya keatas tempat yang suster suruh.
Aku ingin menemaninya, namun, suster itu tidak mengizinkan aku tetap tinggal di dalam. Suster itu mengusir aku keluar dari kamar rawat.
"Mas tunggu di luar saja, serahkan saja semuanya pada kami," kata suster itu.
"Tapi suster, saya ...."
"Mas, mohon patuhi prosedur rumah sakit. Kami akan melakukan pekerjaan kami dengan baik," kata suster itu memotong perkataanku.
Aku tidak bisa bicara apa-apa lagi. Hanya bisa melepaskan napas berat, karna apa yang aku inginkan tidak bisa aku penuhi.
Dua puluh menit lamanya, aku dan bibik menunggu di kursi tunggu yang tertata di depan kamar rawat inap ini, barulah pintu kamar rawat inap itu terbuka. Dokter pun keluar dari kamar itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter? Apa yang sedang ia alami? Apa ia baik-baik saja?" Aku memberikan dokter itu banyak pertanyaan.
"Bisakah anda ikut dengan saya, untuk membahas semua pertanyaan yang anda berikan pada saya ini?" kata dokter itu dengan santai.
"Baiklah dokter," kataku pada akhirnya.
"Bibik, titip Vannya sebentar. Aku gak akan lama," kataku sebelum pergi dengan dokter itu.
"Mas Adelio, sebelumnya, saya ucapkan selama pada mas," kata dokter itu sambil mengulurkan tangannya.
Aku sangat bingung dengan apa yang dokter ini katakan. Aku yang sangat cemas dengan kondisi Vannya saat ini, ia malah memberikan selamat padaku.
Aku yang tidak mengerti ini, mau tidak mau, tetap menyambut uluran tangan dokter yang memberikan selamat padaku.
__ADS_1
"Selamat ya mas, sebentar lagi, mas akan menjadi seorang papa."
"Ma ... maksudnya dokter," kataku tiba-tiba jadi gelagapan seketika.
"Istri anda tidak mengalami penyakit apapun. Hanya saja, istri anda sedang hamil dan sedang beradaptasi dengan kehamilannya," kata dokter itu.
Seketika, aku yang sedari tadi bingung dan cemas, merubah raut wajahku dengan kebahagiaan.
Aku sangat bahagia dengan kabar yang dokter ini berikan. Bagaikan terbang di atas awan, itulah yang aku rasakan saat ini.
"Apakah yang saya dengar ini benar-benar nyata dokter? Apa saya sedang tidak bermimpi saat ini?" kataku dengan sangat bahagia. Aku pastikan sekali lagi, kabar yang dokter katakan.
"Tidak mas, mas tidak sedang bermimpi. apa yang saya katakan adalah sebuah kenyataan yang mas alami saat ini," kata dokter itu sambil senyum manis.
Aku yang sangat bahagia saat ini, tidak sadar menjatuhkan air mataku. Lalu mengambil tangan dokter untuk bersalaman sekali lagi.
"Terima kasih banyak dokter, terima kasih banyak," kataku sangat amat bahagia.
"Sama-sama. Tapi mas harus menjaga kandungan istri mas dengan sangat baik. Jangan biarkan ia kecapean," ucap dokter itu.
"Baik dokter, saya akan menjaganya dengan sepenuh hati saya."
Aku ambil ponsel yang ada dalam saku celanaku. Aku pencet salah satu kontak yang ada dalam ponsel ini.
"Hallo," kata seseorang di seberang sana dengan dinginnya.
"Hallo mama, apa kabar mama," ucapku dengan penuh semangat.
"Baik saja, ada apa kamu menelfon mama sekarang. Tumben banget," kata wanita paruh baya itu dengan sangat datar.
Aku sadari, sikap datar mama saat ini, semua itu karna aku. Aku yang membuat hubungan kami menjauh setelah aku menikahi Venessa.
Mama tidak suka dengan Venessa, ia tidak pernah setuju saat aku menikahi Venessa waktu itu.
Tapi, karna aku adalah anak laki-laki yang keras kepala. Mau tidak mau, mama merestui pernikahan aku dan Venessa, walau ia merestuinya dengan terpaksa.
"Mama, apakah aku tidak boleh menelfon mama lagi," ucapku dengan nada memelas.
__ADS_1
"Apakah mama masih punya anak Adelio, selama ini, mama rasa mama hanya hidup sendiri. Kamu tidak pernah datang untuk menjenguk mama," kata mama dengan nada kesalnya.
"Aku tahu aku salah mama, Lio bukan tidak ingin ketemu mama. Tapi saat bertemu, Lio dan mama akan berakhir dengan sebuah pertengkaran saja."
"Pertengkaran itu kamu yang buat Adelio, bukan mama."
"Mama, Lio minta maad sekarang. Dan Lio menelfon mama saat ini, karna Lio punya kabar bahagia buat mama."
"Kabar apa yang kamu punya buat mama. Sebahagia apa sampai kamu berani menelfon mama saat ini."
"Sangat bahagia mama. Mama tahu, saat ini Lio sudah punya apa yang mama mahu selama ini ma," kataku dengan sangat bahagia.
"Apakah benar yang kamu katakan, jangan bercanda dengan mama Lio. Mama tahu, minggu depan adalah hari ulang tahun mama. Tapi kamu tidak bisa bercanda dengan mama sekarang."
"Lio gak bercanda mama, sekarang Vannya sedang hamil."
"Apa!"
"Iya, Vannya sedang hamil mama."
"Hamil berapa bulan, kalian di mana? Kirimkan alamat kalian, mama ingin kesana sekarang juga."
"Nanti Lio kirimkan alamatnya ma, saat ini Lio sedang berada di rumah sakit. Tunggu Lio sampai kerumah saja ya."
"Tidak mau, kirimkan alamat rumah sakitnya sekarang juga, Adelio!" teriak mama sangat keras.
Aku menutup kupingku, rasanya sangat sakit. Mama selalu saja tidak sabaran jadi orang. Apa yang ia inginkan selalu saja ingin segera terpenuhi.
"Baiklah, baiklah, Lio akan kirimkan alamatnya. Mama tidak perlu teriak-teriak juga dong ma, sakit ini kuping."
"Mama tunggu!" kata mama sambil menutup telfonnya.
Ya ampun, mama akan selalu seperti itu. Ia tidak akan mendengarkan apa yang aku katakan. Ia hanya mendengarkan apa yang ia mau.
Mama sudah menginginkan cucu dari aku, anak satu-satunya sejak lama. Tapi sayangnya, aku belum bisa memberikan apa yang mama inginkan.
Setiap kali aku dan mama bertemu, mama akan membahas soal cucu padaku. Hingga kami akan berakhir dengan pertengkaran setiap kalinya.
__ADS_1
Hal itu yang membuat aku dan mama semakin hari semakin menjauh. Karna mama tidak akan pernah bisa menerima setiap alasan yang aku berikan.
Mama tidak merestui aku menikahi Venessa. Di tambah lagi, Venessa tidak bisa memberikan aku anak selama lebih dari setahun kami menikah. Hal itu membuat mama bertambah membenci Venessa lagi dan lagi.