
"Bagaimana keadaan Venessa dokter?" ucapku dengan rasa cemas.
"Maafkan kami, kami sudah melakukan yang terbaik sebisa kami. Tapi tuhan jugalah yang menentukan segalanya."
"Ma ... maksud dokter?" kata mama.
"Pasien sudah meninggal. Kami tidak bisa menolong pasien lagi," kata dokter dengan wajah menyesal.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Nessa tidak mungkin pergi secepat ini!"
Tanpa pikir panjang lagi, aku menerobos pintu kamar yang sedang berdiri dokter dan susternya ini.
Aku melihat Nessa yang terbaring tanpa membuka matanya lagi. Wajah Nessa sangat pucat dan tidak bernapas lagi saat ini.
"Tidaaaaakkk!" kataku berteriak dengan sangat keras.
Vannya menghampiri aku, mencoba membuat aku merasa tenang. Aku jatuh kedalam pelukan Vannya yang rasanya sangat hangat, tapi tidak bisa membuat tenang hatiku.
Mama memeluk tubuh anak angkatnya sambil menangis dengan suara isakan tangais yang sangat kuat.
Suasana terdengar sangat memilikan. Kehilangan seseorang itu sangat menyedihkan hati.
.....
Ntah kenapa, aku tiba-tiba berubah menjadi laki-laki yang lemah. Aku memeluk erat tubuh Vannya yang mampu membuat aku merasa sedikit hangat, walau tidak bisa membuat hati merasa tenang.
Pemakaman Venessa telah berakhir bersama hujan yang turun perlahan tapi mampu membasahi badan setiap orang yang menghadiri pemakaman ini.
Setelah doa terakhir dibacakan, bunga ditaburkan. Semua orang membubarkan diri dari pemakaman itu.
Sekarang, hanya tinggal aku, mama, papa, dan Vannya. Mama dan papa sibuk menaburkan bunga di atas pusara Nessa. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu, aku hanya bisa diam sambil memeluk Vannya.
Menumpahkan segala kesedihan di bahu Vannya saat ini. Melepaskan segala rasa sedih yang sepertinya, sangat sulit aku cerna.
__ADS_1
.....
5 tahun kemudian.
Seorang anak kecil yang berumur hampir lima tahun, sedang bermain di halaman mewah rumah megah.
"Kaila, mainnya jangan jauh-jauh ya sayang," teriak mama dari anak itu.
"Gak jauh-jauh kok mama, hanya sekitar rumah aja," jawab anak kecil manja dan menggemaskan itu.
"Baiklah sayang, mainnya jangan lama-lama yah. Nanti, sebelum papa pulang, kamu harusnya udah cantik yah."
"Iya mama," kata anak itu sambil tersenyum.
"Mbak Srik, setengah jam lagi. Mandikan Kalila ya bik, karna satu jam lagi, mas Lio akan pulang," kata Vannya.
"Baik Buk, saya akan mandikan non Kaila setengan jam lagi."
Lima tahun sudah berlalu dari kepergian kak Nessa dari kehidupan kami semua. Tidak ada yang berubah setelah kepergian kak Nessa. Hanya saja, mas Lio terkadang selalu termenung dan selalu menyendiri.
Sesekali, kami akan mengunjungi makam kak Nessa. Bahkan, kami rutin datang untuk membacakan doa buat kak Nessa, setiap tanggal ulang tahunnya.
Aku memang sudah tahu semua yang kak Nessa lakukan padaku sejak lama. Tapi aku tidak pernah memikirkan hal itu.
Aku sudah memaafkan kesalahan kak Nessa. Tidak ada dendam sedikitpun yang aku simpan untuk kak Nessa.
Aku masih menganggapnya sebagai kakak yang sama sejak kecil. Walaupun ia telah mengambil hal-hal yang paling aku sayangi.
Ia membuat nenek meninggal dengan tangannya sendiri. Ia mendorong nenek kedalam kolam, hingga nenek tenggelam dan pergi. Saat itu aku sangat terluka, tapi aku tidak menganggap ini salahnya kak Nessa. Aku anggap ini hanya kecelakaan semata.
Kak Nessa juga mengambil pacarku dengan sengaja. Itu juga aku tahu, tapi tidak pernah mengungkapkan kekesalanku padanya.
"Nyonya Vanny, kenapa Nyonya melamun di sini," ucap seseorang yang duduk di atas kursi rodanya.
__ADS_1
"Mas Pandu, sejak kapan ada di sana?" ucapku balik bertanya.
"Udah dari lima menit yang lalu Nyonya. Hanya saja, Nyonya terlihat diam dan memikirkan hal yang jauh kayaknya."
"Tidak ada yang aku pikurkan kok mas Pandu. Hanya mengingat sedikit masalalu saja."
"Jangan diingat jika hanya membuat beban Nyonya. Lihatlah yang sedang bermain-main itu, bukankah ia sangat lucu," kata mas Pandu sambil menunjuk Kaila yang sedang bermain riang di halaman rumah.
Aku tersenyum manis sambil melihat kearah Kaila yang begitu riang bermain di halaman rumah ini.
"Mas Pandu benar, Kaila adalah anugrah terindah buat kami semua," kataku sambil tersenyum.
"Iya Nyonya. Kalia memang anugrah terindah buat kita semua. Termasuk buat saya juga Nyonya," ucap mas Pandu.
Mas Lio adalah laki-laki yang berhati sangat lembut. Tanpa rasa benci sedikitpun, mas Lio mengizinkan mas Pandu untuk tetap tinggal bersama kami.
Mas Pandu memang cacat akibat kecelakaan itu. Ia tidak bisa bekerja apapun di rumah ini. Ia hanya bisa duduk di kursi roda setiap harinya.
Tapu mas Lio tidak memikirkan soal kecacatan mas Pandu. Ia juga telah memaafkan mas Pandu, atas kesalahan yang mas Pandu lakukan di masalalu.
....
Wajib bagi kita, untuk saling memaafkan setiap kesalahan orang yang berbuat salah pada kita. Agar hidup yang kita jalani, tidak ada rasa dendam dan rasa saling membenci.
Sabar dalam hidup adalah hal yang paling kita butuhkan. Karna dengan sabar, seberat apapun cobaan yang kita hadapi, akan terasa ringan dan hasilnya sangat manis.
Hubungan aku dengan mas Lio, tidak ada yang berubah. Mas Lio sangat menyayangi aku dari dulu hingga saat ini. Apalagi sejak kelahiran buah hati yang kami beri nama Kaila.
Mas Lio benar-benar sangat menyayangi aku. Dan kami adalah keluarga yang harmonis dan bahagia.
***S E K I A N***
__ADS_1