
Aku duduk disalah satu kursi yang berada di meja makan ini. Pikiranku kembali menerawang jauh kemasalalu. Tapi belum sampai kemasa lalu, aku malah dikagetkan oleh sebuah suara yang lumayan keras.
"Non Vanny!" kata suara itu berteriak di telinggaku.
"Astaufirullah ... mas Pandu bikin kaget aku aja sih," kataku sambil mengelus dada.
"Maaf non, niatnya gak bikin non Vanny kaget. Tapi non Vanny nya malah melamun, sampai saya masuk aja gak sadar."
"Ih ... mas Pandu ini. Kalau saya jantungan mau tangung jawab gak?"
"Ya gak sanguplah saya bikin non Vanny jantungan. Saya juga tahu batas mengagetkan non Vanny itu sebatas apa," kata mas Pandu ngeles aja.
Mas Pandu pun duduk di kursu yang berada disamping aku. Ia mengambil nasi goreng dan makan dengan lahap. Sesekali, ia bercanda padaku. Tapi, saat bibik yang baru pulang dari pasar itu melihat kedekatan kami. Wajah bibik itu berubah menjadi aneh dan sulit untuk aku pahami.
"Pandu!" kata bibik memanggil mas Pandu dengan keras.
Mas Pandu yang sedang makan itu pun tersedak akibat teriakan kerasa dari bibik. Aku memberikan mas Pandu minum, supaya membantu ia kembali pulih dari tersedaknya.
"Ya ampun bibik, bisakah bibik gak bikin aku cepat mati. Setiap hari bisanya cuma ngagetin mulu deh," ucap mas Pandu.
__ADS_1
"Pandu, kamukan tahu ini adalah istrinya Tuan Lio. Masa kamu mesraan sama istri majikan kamu sih," kata bibik.
Aku melihat kearah mas Pandu yang juga melihat aku. Iya, mungkin aku yang salah, karna aku tidak bilang siapa aku sekarang pada mas Pandu.
"Bibik, aku tahu dia siapa. Tapi apa salahnya dekat dengan istri muda si bos. Kan si bos udah punya istri tuanya," kata mas Pandu masih bercanda.
"Ah, terserah kamulah Pandu. Bibik capek memperingati Pandu, karna Pandu gak bisa diberi nasehat sama bibik. Pandu jangan ulangi kesalahan yang telah terjadi," kata bibik.
Ternyata aku salah tanggap, rupanya mas Pandu sudah tahu kalau aku adalah istri keduanya kak Lio. Aku pikir ia belum tahu siapa aku. Duh, aku yang gak jelas kayaknya. Yang pastilah mas Pandu tahu siapa aku. Orang dia selalu ada disamping kak Nessa atau pun kak Lio. Dia jugakan tinggal satu rumah sama mereka berdua. Apa yang mereka kerjakan pasti tahulah mas Pandunya.
"Mas Pandu, Vanny naik keatas duluan," kataku.
"Iya non," ucap mas Pandu singkat sambil melihat kepergian aku.
Walaupun sudah meninggalkan ruang makan. Namun aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka berdua bicarakan. Bukan maksud untuk mengupingbpembicaraan mereka. Namun aku sangat penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Bibik sih, kan jadi pergi non Vanny nya."
"Pandu, jangan bikin masalah lagi sama istrinya Tuan Lio. Kamu akan dapat masalah berat nantinya. Kamu gak ingat bagaimana kamu dapat peringatan karna selalu dekat dengan nyonya Venessa waktu itu?"
__ADS_1
"Aku ingat bibik, itu juga bukan salah aku tahu gak. Bos Lio nya aja yang terlalu posesif sama non Nessa. Masa aku yang udah lama dekat sama non Nessa dibilangin mau selingkuh sama non Nessa. Padahalkan aku gak ada niat apa-apa buat non Nessa," kata mas Pandu panjang lebar.
"Itu kamu tahu bagaimana sifatnya Tuan Lio. Kamu juga harus jaga jarak sama non Vanny. Biar kamu gak dapat masalah yang sama," ucap bibik.
"Kalau non Vanny kan bos gak sayang. Apa salahnya aku dekat sama non Vanny. Lagian, aku sama non Vanny juga udah dekat lho bik, sejak aku kerja di rumah mereka dulu."
"Kamu tahu gak, apa yang Tuan muda miliki, walau gak sayang. Dia gak akan pernah melepaskannya pada orang lain. Jangankan melepaskannya, membuarkan didekati orang lain aja gak akan pernah. Tuan Lio itu punya sifat yang berbeda dari yang lain. Sayang gak sayang, yang namanya milik dia, kamu gak akan dapat ampunan lagi, tahu gak."
"Kasihan non Vanny ya bik, dia adalah gadis yang cantik dam baik. Ia adalah gadis lembut yang pernah aku temui. Tapi kisah hidupnya harus berakhir jadi istri kedua yang tidak disayangi oleh si bos yang dingin itu," kata mas Pandu.
Aku seakan ingin menangis saat mas Pandu mengeluarkan kata-kata sedih itu. Rasanya, hatiku ingin sekali menjerit dan bilang. Dunia ini tidak adil padaku. Begitu banyak lelaki yang berada diluar sana, kenapa suami orang yang menikahi aku. Ini semua karna Brama, jika ia tidak menyakiti hatiku, mungkin aku sudah bahagia bersamanya.
Aku memutuskan untuk naik keatas dengan cepat. Tidak ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan lagi. Rasanya, air mata ingin ingin sekali jatuh dan membanjiri pipiku.
Sampai dikamar, aku melihat wajahku didepan cermin. Kenapa nasib ini begitu buruk. Aku tidak berniat untuk menyakiti siapapun, tapi kenapa aku yang selalu disakiti. Memang dunia ini selalu tidak adil padaku.
Apa yang mas Pandu katakan, masih terasa jelas di telingaku. Ia kasihan akan nasibku yang malang. Nasib malang yang menjadi wanita kedua dalam rumah tangga kakaknya sendiri. Aku benci hal itu, aku sangat amat benci dengan diriku sendiri. Kenapa aku bisa sanggup menjadi orang kedua, padahal itu sangat sakit rasanya.
Aku membaringkan tubuhku sambil menangis diatas ranjang. Rasanya terlalu berat untuk aku. Aku sedih, sakit hati dan marah, semua berkumpul dalam hatiku menjadi satu.
__ADS_1