
"Kak Lio, aku kok bisa ada di rumah sakit sih?" kata Vannya saat aku masuk kedalam kamar rawatnya.
"Kamu tadi pingsan di rumah Vanny. Makanya, sekarang kamu ada di rumah sakit," kataku menjelaskan sambil membelai rambut Vannya.
"Aku kenapa kak? Apa ada sakit yang membuat aku pinsan? Aku rasa, maag yang aku derita tidak akan kambuh kok, karna aku sangat menjaga pola makan," kata Vanny dengan sedihnya.
"Jangan sedih sayang, kamu gak sakit apa-apa kok. Kamu hanya ...."
Aku terpaksa menghentikan perkataanku karna bunyi ponsel yang begitu kuat.
"Tunggu sebentar ya Vannya," ucapku sambil mengklik, untuk menjawab panggilan itu.
"Hallo ma."
"Adelio! Kamu di mana sih, mama udah sampai kerumah sakit. Udah munda mandir sekarang, tapi gak ketemu-ketemu juga sama kamu," ucap mama sangat keras sehingga membuat kupingku berdenging.
"Ya ampun mama, tunggu sebentar yah. Aku akan cari mama."
"Buruan, mama tunggu!" mama langsung menutup panggilannya, tanpa kata penutup lagi.
Aku melepas napas berat, sangat berat. Saat bicara sama mama, aku harus siap-siap dengan omelan dan kata-kata keras yang akan ia ucapkan.
"Ada apa sih kak Lio? Kayaknya ada masalah," ucap Vannya dengan nada beratnya.
"Gak ada masalah apa-apa kok Vannya. Hanya saja, mama ingin melihat kamu sekarang. Ia sudah sampai kerumah sakit ini. Tapi belum menemukan kamar rawat kamu," kataku menjelaskan.
"Tumben banget mama kak Lio mau lihat aku kak. Biasanya, kamu gak mau ketemu sama mama," kata Vannya merasa aneh.
Wajar kalau Vannya merasa aneh. Ia tahu bagaimana hubungan aku dengan mama. Hubungan kami memang sedang tidak baik sejak lama.
"Vannya, aku ingin bilang satu hal. Sekarang, kamu tidak sakit apa-apa. Melainkan, kamu sekarang sedang hamil."
"Apa? Kak Lio gak bercandakan dengan perkataan hamil itu."
"Gak kok Vannya, kamu benar-benar hamil. Dan aku memberitahukan pada mama, soal kehamilan kamu. Makanya, mama langsung datang setelah tahu."
"Maafkan aku yah, aku memberitahukan pada mama dahulu. Aku tidak bisa menutupi rasa bahagiaku soalnya," kataku menjelaskan.
Aku sangat berharap, Vannya tidak marah padaku soal ini. Aku memberitahukan mama, tapi tidak memberitahukan pada Vannya dahulu.
__ADS_1
"Aku gak marah kok kak, aku hanya terlalu senang saja."
Aku melihat dengan jelas, Vannya menjatuhkan buliran bening di samping matanya secara perlahan.
Sama seperti aku, Vannya juga merasa sangat bahagia. Walaupun tanggapannya seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi matanya berkata lain, dan sangat menunjukkan kebahagiaan.
"Vannya, aku jemput mama duluan yah. Kamu gak papa aku tinggal sendiri?"
"Gak papa kok kak."
Aku meninggalkan Vannya sendirian di kamar rawat inapnya. Sebelum pergi, aku meminta suster untuk menjaganya sebentar.
Ntah kenapa, hatiku sedikit ragu untuk meninggalkan Vannya di kamar ini sendirian. Seperti ada sesuatu yang aku takutkan, saat ingin meninggalkan Vannya. Padahal, aku pergi tidak akan lama juga.
Untung saja, suster itu bersedia menjaga Vannya di kamarnya, selama aku mencari mamaku.
Vannya Pov
Kak Lio pergi meninggalkan aku di kamar ini. Tapi ia tidak meninggalkan aku sendirian, ia meminta seorang suster untuk menemani aku di kamar ini.
Kenapa kak Lio begitu takut untuk meninggalkan aku. Ada apa senenarnya, apakah karna aku sedang hamil sekarang? Karna itu, kak Lio memperlakukan aku dengan sangat istimewah.
Aku senang saat mendengarkan kabar bahagia tentang kehamilanku. Tapi aku juga sedih, bagaimana perasaan kak Nessa jika ia tahu kalau aku sedang hamil sekarang?
Dokter itu menggunakan masker, sehingga wajahnya tidak terlihat oleh aku dan suster di samping aku saat ini.
"Maaf Dok, dokter mana yang ingin bertemu dengan saya?" kata suster itu penasaran.
Dokter itu terlihat bingung, ia seperti memikirkan sesuatu. Ntah apa yang ia pikirkan, tapi jelas terlihat sangat mencurigakan.
"Temui saja, aku lupa namanya. Dia sedang ada di ruang ganti sekarang," kata dokter itu lagi.
"Suster temui saja dulu, saya gak papa kok di sini," ucapku sedikit tidak enak.
Suster yang penasaran sama siapa yang memanggilnya saat ini. Akhirnya memilih untuk keluar dari ruanganku, setelah aku suruh.
Dokter yang membawakan kabar buat suster itu pun masuk setelah melihat sang suster pergi menjauh.
"Apa kabar Vannya?" kata dokter itu menyapa aku.
__ADS_1
Aku yang merasa suara itu tidak asing lagi di pendengaranku, merasa tidak enak hati.
"Siapa kamu? Kemana tahu namaku?"
"Jangan lupakan aku Vannya sayang, aku tidak ingin kamu lupakan," kata dokter itu sambil membukakan masker yang ia gunakan.
"Ramon!"
"Iya sayang, aku Ramon. Kenapa? Kamu kangen sama aku ya?" kata Ramon sambil memperlihatkan gigi putihnya.
"Mau apa kamu kesini Ramon? Aku tidak ingin melihat kamu lagi, pergi kamu dari sini."
"Aku akan pergi Vannya sayang, tapi dengan membawa kamu pergi bersama aku," kata Ramon sambil tersenyum manis.
"Tidak, jangan dekat-dekat dengan aku. Pergi kamu, pergi! Aku tidak ingin melihat kamu."
Aku berteriak keras, berharap di luar ada orang yang mendengarkan teriakan aku saat ini. Aku benar-benar tidak ingin Ramon ada di sini. Apa lagi membawa aku pergi bersamanya.
"Tidak perlu berteriak keras seperti itu, tidak akan ada yang mendengarkan teriakan kamu," ucap Ramon mendekat.
"Siapa yang tidak akan mendengarkan teriakan Vannya," kata kak Lio tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Kak Lio, tolong aku kak. Aku tidak ingin dekat-dekat dengan laki-laki ini," ucapku sangat ketakutan.
"Dasar jahanam kamu!"
Brukk
Sebuah pukulan menempel di samping pipi Ramon. Membuat ia jatuh dan memberikan darah di sudut bibirnya.
"Sudah aku katakan, jangan pernah dekat dengan Vannya lagi. Vannya adalah istri aku, jangan pernag ganggu apa yang aku punya," kata kak Lio sangat marah.
"Jauh sebelum ia mengenal kamu, akulah yang ia kenal dahulu. Kamu tidak tahu apa yang kami lewati dahulu," kata Ramon.
"Jangan pernah ungkin masalalu, aku tidak akan pernah terpancing oleh kata-kata yang keluar dari mulut busuk kamu itu," kata kak Lio.
"Hahahaha ... benarkah kamu tidak percaya apa yang aku katakan itu benar adanya. Kamu itu mendapatkan bekas dari aku, kamu tahu Adelio," kata Ramon.
"Apa maksud kamu?" kata mama.
__ADS_1
"Hahaha ... kalian semua itu bodoh, bisa-bisanya kalian menerima wanita yang sudah aku miliki."
"Cukup, aku tidak pernah bisa kau sentuh. Maka dari itu, kau membuat aku terluka hingga aku tidak bisa bangkit lagi," ucapku sangat emosi.