Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
34


__ADS_3

Ku lihat jam di tangan kiriku, sudah lewat jam satu siang. Aku sudah duduk di sini hampir satu setengah jam untuk menunggu Nessa. Tapi ia tidak juga datang, bahkan tidak mengangkat telfon dariku juga.


Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk tetap menunggu Nessa di cafe ini. Ku simpan ponselku, lalu bangun dan berjalan keluar cafe.


Wanita itu memang sudah sangat menguji kesabaran aku selama ini. Jika bukan istriku, maka aku tidak akan menunggu Nessa selama ini.


Aku adalah laki-laki yang tidak suka menunggu terlalu lama. Menunggu adalah hal yang paling membosankan bagiku.


Ponselku bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ku keluarkan ponsel itu dari saku celanaku.


"Hallo," ucapku sedikit malas.


"Hallo mas Lio, di mana kamu sekarang?"


"Aku sudah berada di kantor. Kenapa memangnya?" kataku dengan nada yang masih kesal.


"Maafkan aku mas, aku lupa jika aku punya janji sama kamu. Aku akan langsung datang kekantor kamu aja yah," kata Nessa diseberang sana.


"Gak usah, aku ada pertemuan penting. Kita akan bicara besok saja," kataku sambil mematikan ponselku.


Aku sangat kesal sama Venessa. Ia adalah wanita yang paling aku sayangi, dulunya. Tapi karna aku sangat menyayanginya dulu, ia malah bersikap seenaknya padaku.


Untuk mengusir rasa kesalku, aku nemilih untuk menelfon obat hati yang akhir-akhir ini mampu membuat aku tenang.


"Hallo," ucapku dengan lembut.


"Iya kak," ucap seseorang tak kalah lembutnya di seberang sana.


"Kamu udah makan belum, Vannya?" kataku dengan penuh semangat.


"Aku udah makan kok kak, kak Lio makan di mana tadi. Kok gak pulang kerumah?"

__ADS_1


Hanya perkataan seperti itu yang Vannya keluarkan, tapi mampu membuat hatiku sejuk, bak tersiram air dingin.


"Aku belum makan Vannya, aku mau pulang. Tapi ada rapat penting setengah jam lagi," kataku jujur.


Ntah kenapa, aku malah jujur bicara sama Vannya. Tidak tahu apa yang hatiku pikirkan, aku hanya bisa bicara sesui dengan apa yang hatiku inginkan.


"Lho, kok kak Lio belum makan sih. Inikan udah lewat waktu makan siang kak," kata Vannya terdengar cemas.


"Aku banyak kerjaan tadi Vannya, kamu gak usah cemas yah. Aku gak maag kayak kamu kok."


"Dasar kak Lio, gak maag kayak aku gak perlu makan gitu yah. Ya udah, tunggu aku di sana. Aku akan antarkan makanan buat kak Lio."


"Gak usah Vannya, kamu gak perlu datang antar aku makanan. Selesai rapat, aku janii akan pulang yah."


Pembicaraan lewat telfon itu pun berakhir, saat Vannya setuju untuk menunggu aku di rumah saja.


Ternyata, obat yang aku miliki benar-benar mujarab. Saat aku bicara sama Vannya, hatiku akan tenang kembali.


Vennessa POV


Aku tahu betul siapa mas Lio, dia tidak suka menunggu terlalu lama. Tapi aku bukan sengaja ingin membuat ia menunggu. Aku hanya lupa sama waktu saja.


Mas Lio tidak menerima aku untuk bicara di kantornya. Mungkin ia sangat kesal, atau juga punya hal lain karna tidak bisa menerima aku kekantionya.


Ia juga menutup telfon tanpa ada kata putusab dariku lagi. Aku merasa sangat marah dengan perlakuan mas Lio barusan.


Aku sudah sampai di depan cafe yang bersebelahan dengan kantor mas Lio. Tapi mau bagaimana lagi, kalau susah tidak diterima.


"Apa kita kembali kekantor aja Ness?" kata Pandu.


"Gak usah, kita kembali kerumah aja. Pikiranku lagi kacau sekarang, aku ingin istirahat di rumah saja."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau gitu kita pulang sekarang."


Belum juga Pandu menjalankan mobil, aku melihat mas Lio keluar dari kantor. Ia terlihat tergesa-gesa saat keluar.


Mas Lio menjalankan mobilnya, meninggalkan kantor dengan tergesa-gesa.


"Pandu, kita ikuti saja mobil mas Lio. Mungkin aku bisa bicara dengan mas Lio jika ia punya waktu," ucapku pada Pandu.


Tanpa menjawab, pandu menjalankan mobil mengikuti mas Lio.


Mibil mas Lio berhenti di sebuah rumah mewah yang sangat indah. Aku kagum dengan rumah ini, desainnya sangat luar biasa.


'Bukannya mas Lio bilang ada rapat penting hari ini. Kenapa ia datang kerumah ini sekarang? Apakah rapatnya akan diadakan di rumah ini?' aku bicara sendiri dalam hati.


Seseorang keluar dari rumah itu, menyambut kedatangan mas Lio dengan hangat. Mataku membulat saat melihat siapa wanita yang menyambut mas Lio saat ini.


"Vannya?"


Aku seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Ternyata, ini adalah rumah Vannya yang mas Lio berikan.


Tiga bulan lamanya Vannya tinggal di rumah baru. Tapi aku tidak pernah tahu di mana rumah baru Vannya itu.


Saat aku bertanya pada mas Lio tentang rumah baru Vannya. Ia tidak pernah mengatakan apa-apa.


"Nessa, ini rumah non Vannya!" kata Pandu sedikit kaget.


"Ternyata, rapat pentingnya di sini Ness."


"Kita pulang Pandu, aku sangat lelah hari ini," ucapku tidak ingin berkata apa-apa tentang Vannya dan mas Lio.


"Jangan sedih Nessa, bukankah inu yang kamu inginkan selama ini. Harusnya, kamu itu bahagia, karna kamu sudah berhasil menyatukan mereka," kata Pandu seakan tidak mengindahkan rasa hatiku.

__ADS_1


"Jalankan mobilnya Pandu! Kamu mau jalankan, atau aku yang akan menjalakan mobil ini," kataku dengan emosi.


"Iya, iya, aku yang jalankan mobilnya. Gak perlu nge gas juga kok," kata Pandu sambil melakukan apa yang aku katakan.


__ADS_2