
"Hahahahah ... aku memang tidak bisa menyentuh kamu. Dari itu, sekarang akan aku rebut lagi kamu dari Adelio."
"Jangan mimpi kamu, tidak ada yang bisa berebut sesuatu denganku," ucap kak Lio sangat marah.
"Aku tidak mimpi Adelio, tapi aku akan buktikan, apa yang bisa aku lakukan," kata Ramon sambil bangun dari duduknya.
"Oh ya, satu lagi. Yang aku bilang bekas barusan itu memang bukan Vannya, karna aku memang tidak bisa menyentuhnya. Tapi tidak dengan Venessa, aku bisa menyentuhnya sebelum kamu menyentuh dia," ucap Ramon sambil berjalan menuju pintu keluar.
Aku melihat kak Lio sangat marah saat mendengarkan apa yang Ramon katakan. Wajahnya memerah, menahan amarah yang ingin meledak.
"Kak Lio, jangan dengarkan apa yang Ramin katakan. Anggap saja ia orang gila yang bicara sembarangan," kataku mencoba mendinginkan kak Lio.
"Orang gila apanya, dia jelas-jelas bilang kalau Venessa itu pernah ia sentuh," kata mama kak Lio tiba-tiba.
"Tante, aku yakin kok, kak Nessa gak akan kayak gitu. Ia adalah gadis baik-baik kok tante," kataku hati-hati dengan nada yang sangat lembut.
"Kamu gak akan tahu seperti apa kakak kamu Vannya. Kamu dan kakak kamu itu, walaupun satu rumah, gak akan bisa tahu juga apa yang ia lakukan di luar rumah."
"Mama, sudahlah. Tujuan mama kesini kan hanya untuk melihat Vannya kan?" kata kak Lio mengubah pokok pembicaraan.
"Oh iya yah, mama hampir lupa tujuan awal mama. Maafkan mama ya Vannya, mama gak maksud buat suasana jadi tambah panas kok," kata mama sambil duduk di sampingku.
"Oh iya satu lagi, jangan panggil tante ya sayang. Kamu itukan istrinya Adelio, kamu harus panggil mama dengan sebutan mamam dong," kata mama sambil menepuk dadanya.
"Oh, maafkan Vannya tante, eh mama. Vannya gak papa kok," ucapku.
"Beneran kamu gak papa Vannya, laki-laki berengsek itu tidak membuat kamu terlukakan?" kata kak Lio sambil melihat setiap inci tubuhku yang bisa ia lihat dari luar.
__ADS_1
"Gak papa kok kak, jangan terlalu cemas. Aku baik-baik saja."
"Untung saja kita cepat, kalau ngak, mungkin dia sudah menculik Vannya, Adelio," kata mama.
"Iya ma, untung saja tidak terjadi apa-apa sama Vannya."
"Lain kali, kamu harus extra menjaga istri kamu, Adelio. Jangan sampai ada orang jahat mendekati istri kamu. Termasuk, Venessa itu."
"Jangan bawa Venessa ma, dia tidak tahu apa-apa kok. Dan dia juga tidak akan melukai adiknya," kata kak Lio.
"Kamu tidak akan tahu apa yang bisa orang lakukan Adelio. Jangan terlalu polos sama orang lain. Istri kamu sedang hamil, ingat itu."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak bisa membela kak Nessa sekarang. Karna hal itu bukan akan bertambah baik, melainkan akan menambah keruh suasana.
Aku tahu, mama kak Lio sangat tidak suka dengan kak Nessa. Apapun yang kak Nessa lakukan, semuanya akan salah di mata mama mertuanya ini.
Mungkin, karna itulah mama kak Lio tidak suka kak Nessa. Karna seorang mama pasti tidak suka jika anaknya dikuasai sesuka hati.
Yang namanya orang tua, ia pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Orang tua akan selalu waspada. Apalagi pada menantu yang belum ia kenali sifatnya.
Sebenarnya, tergantung kita semua itu. Tergantung bagaimana cara kita mengambil hati mertua kita saja.
Orang tua itu, semakin kita keras, maka semakin keras pula mereka. Coba kita menghadapi mereka dengan lembut. Maka lama-lama, mereka akan lembut juga pada kita.
Ibarat kata pepatah, jangan melawan kekerasan dengan kekerasan juga. Tapi lawanlah kekerasan dengan kelembutan.
Karang yang keras di lautan saja bisa terkikis karna ombak yang setiap hari menyapanya. Apalagi hati manusia yang lembut dan selalu berubah-rubah.
__ADS_1
Pintu ruang rawat inap terbuka lebar. Memunculkan dua orang yang aku rindukan, siapa lagi kalau bukan mama dan papaku.
"Vannya, bagaimana kabar kamu nak?" ucap papa langsung menghampiri aku.
"Iya sayang, apa yang sakit sekarang. Apa maag kamu kambuh lagi?" kata mamaku sambil membelai kepalaku.
Ternyata mama dan papa belum tahu alasan kenapa aku masuk rumah sakit. Aku kira, mama dan papa sudah kak Lio kasih tau soal kehamilan aku.
Aku melihat kearah kak Lio dan mamanya. Meminta kak Lio bicara apa yang terjadi padaku pada mama dan papaku.
"Jeng Anita, jangan cemas jeng. Menantuku tidak sakit apa-apa, melainkan, ia sedang hamil sekarang," kata mama mertuaku sambil menghampiri mama.
"Apa! Kalian sedang tidak bercandakan!" kata papa sangat kaget.
"Ya ampun, aku gak akan bercanda soal kabar bahagia ini," kata mama mertuaku.
"Benarkah apa yang mama mertua kamu katakan itu nak?" kata papa.
"Iya papa, apa yang mama katakan itu memang benar. Vannya gak sakit apa-apa kok."
"Alhamdulillah, ini kabar yang sangat luar biasa. Kenapa kalian tidak langsung mengatakannya kewat telfon sih?" kata mama.
"Iya, kalian ini sangat membuat papa dan mama cemas, tahu gak sih," kata papa.
"Maafkan Lio pa, ini salahnya Lio. Lio yang tidak memberikan kabar kehamilan Vannya pada papa dan mama. Lio tidak bermaksud membuat papa dan mama cemas kok, Lio hanya berniat memberikan kalian kejutan saja."
"Sudahlah nak, jangan bahas soal itu lagi. Papa tidak menyalahkan kamu atau siapapun," kata papa sambil menepuk pundak kak Lio.
__ADS_1
Aku tersenyum saat melihat wajah bersalah kak Lio. Aku tahu, sebenarnya, kak Lio bukan ingin membuat mama dan papa cemas. Juga bukan untuk memberikan kejutan pada mama dan papa. Melainkan, kak Lio lupa memberitahukan tentang kehamilanku pada mama dan papa. Ia terlalu bahagai saat tahu kabar kalau aku sedang hamil. Hal itu membuat ia lupa akan segalanya.