
Vannya POV
Baru lewat beberapa menit, kak Lio menutup telfonnya. Eh, sekarang ia malah sudah sampai di rumah ini.
Ia tersenyum manis saat melihat aku menyambutnya saat ia turun dari mobil. Lalu membawa kak Lio masuk kedalam rumah, dengan kebiasaanku selama ini.
"Gimana rapatnya kak? Apa udah selesai secepat ini?" ucapku agak penasaran sambil berjalan beriringan dengan kak Lio.
"Aku menunda rapatnya Vannya. Untung saja, orang yang ingin rapat dengan ku itu, juga sedang ada kesibukan mendadak," kata kak Lio penuh semangat.
"Pantas saja," ucapku menganggantung kalimat.
"Pantas apanya?"
"Pantas, sampainya lebih cepat dari dugaanku."
Aku pun menghidangkan makanan buat kak Lio. Lalu meminta ia segera makan makanan yang telah aku sediakan.
Aku duduk menemaninya makan siang, walaupun aku dan bibik sudah makan dari dua jam yang lalu.
Tidak ada pembicaraan saat aku dan kak Lio di meja makan. Hanya terdengar bunyi sendok yang sesekali menghantam piring kaca yang kak Lio gunakan.
Aku bahagia bisa menemani suamiku makan seperti ini. Meskipun, dia bukan hanya suami milik aku seutuhnya. Tapi, ia selalu ada buat aku selama ini.
"Vannya, berhentilah menatap wajahku. Aku tidak akan kenyang makan, jika kamu terus melihat aku seperti itu."
"Aku tahu, aku adalah suami yang paling tampan di jagat raya ini. Tapi tidakkah kamu merasa, itu adalah cara berlebihan untuk mengagumi aku," kata kak Lio dengan percaya dirinya yang setinggi langit.
"Ih, kamu terlalu percaya diri kak Lio. Siapa yang mengagumi kamu. Aku hanya melihat ...."
"Bohong itu dosa Vannya," kata kak Lio memotong perkataanku.
"Ih, dasar kak Lio ke PD an," ucapku sedikiylt kesal. Namun, wajahku memperlihatkan hal yang lain.
Kak Lio terus melanjutkan menghabiskan makanannya. Sesekali, ia tersenyum geli saat melihat aku yang berpindah duduk, dari menghadap kak Lio, berubah posisi agak sedikit menjauh dari kak Lio.
.....
Pagi yang cerah, aku sedang sibuk menyiram dan merawat taman di samping rumahku.
__ADS_1
Setelah kak Lio berangkat kerja, aku akan melakukan kegiatan yang tidak membuat aku bosan di rumah.
Aku akan melakukan apa saja yang aku inginkan. Tapi, dengan batas kak Lio izinkan padaku. Jika tidak, aku tidak akan diizinkan untuk mengerjakan sedikitpun pekerjaan rumah ini.
Aku sibuk dengan tamanku, saat sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumah ini.
Bibik yang berada tak jaub dari aku, bangun dan mendekat kesampingku. Ia melihat aku, seolah bertanya, siapa yang datang kerumah ini.
"Nyonya Nessa?" ucap bibik sedikit tak percaya.
"Selamat pagi Vannya, kalian lagi apa sih pagi-pagi sudah ada di luar rumah?" kata kak Nessa sambil tersenyum manis.
"Kak Nessa, ayo masuk kedalam kak," ucapku tidak menjawab apa yang kak Nessa katakan. Aku malah mempersilakan ia masuk kedalam.
"Gak usah Vannya, kak hanya ingin melihat kamu. Apakah kamu baik-baik aja di rumah baru kamu?" kata kak Nessa.
"Aku baik-baik aja kak, seperti yang kakak lihat saat ini," kataku dengan bahagia.
"Oh, bagus deh. Kalau kamu baik-baik saja, kakak mau berangkat kerja sekarang."
"Lho, kok gak masuk kedalam dulu kak," kataku dengan rasa bingung yang setinggi langit.
Aku merasa sedikit tidak mengerti dengan kakakku sekarang. Ia seperti bukan kak Nessa, dengan cara bicaranya padaku barusan. Ia lebih mirip orang asing, yang punya amarah padaku.
"Ya udah Vannya, kakak berangkat kekantor dulu."
"Kakak beneran gak mau masuk kedalam ya?"
"Iya, aku sudah melihat kamu di sini. Untuk apa masuk kedalam lagi."
"Lagian, aku ada rapat penting pagi ini. Tidak bisa lama-lama melihat kamu di sini," kata kak Nessa lagi. Ia pun berjalan menjauh, meninggalkan aku dan bibik.
"Nyonya muda, apa ada yang salah ya dengan Nyonya Nessa? Kenapa sikapnya sangat amat aneh sekali," kata bibik yang terlihat juga tidak mengerti dengan kak Nessa pagi ini.
"Gak tahu bik, mungkin kak Nessa kesini itu mencari kak Lio. Tapi ia melihat kita sedang di luar, ia tidak mungkin bertanya soal kak Lio pada kita, makanya ia bilang seperti itu."
Aku berusaha membuat kesimpulan untuk hatiku sendiri sebenarnya. Walaupun apa yang aku katakan itu sedikit tidak aku pahami.
"Ayo masuk saja bik, hari sudah siang. Kita masak saja yuk," kataku pada bibik.
__ADS_1
Aku masih memikirkan apa yang kak Nessa katakan barusan. Sikapnya yang aneh tadi pagi, hingga kini aku pikirkan.
Semua itu membuat aku tidak fokus dengan apa yang aku kerjakan. Karna pikiranku masih saja memikirkan tentang kak Nessa yang aneh padaku tadi pagi.
Tiba-tiba saja, kepalaku terasa sangat berat. Aku benar-benar tidak bisa menguasai diriku lagi, saat pandanganku tiba-tiba kabur seketika.
Masih aku dengan walau samar-samar, bibik yang panik memanggil namaku dan membantu aku menopang tubuhku.
Adelio POV
Aku sedang bersama Venessa di sebuah cafe tak jauh dari kantorku, saat ponselku bergetar di dalam saku celanaku.
Aku mengambil ponsel itu, melihat siapakah yang telah menelfon.
"Mas, bisakah kita bahas soal bisnis kita dulu, baru kamu jawab telfon itu," kata Nessa saat melihat aku mengambil ponsel.
"Sabar Nessa, aku takut ada yang penting," kataku sambi menjawab telfon itu.
"Hallo," ucapku datar.
"Hallo Tuan, Nyonya muda, Nyonya muda Tuan."
Terdengar suara panik bibik di seberang sana. Membuat aku tidak sabar lagi untuk mendengarkan sambungan dari perkataan bibik.
"Ada apa sih bik! Katakan saja dengan jelas, ada apa dengan Vannya," kataku sambil bangun dari duduk.
"Nyonya muda, Nyonya muda pingsan Tuan. Saya akan membawa Nyonya muda kerumah sakit," ucap bibik masih gelagapan karna terlalu panik mungkin.
"Apa! Kenapa bisa pingsan sih bik. Tunggu saya saja, saya akan segera kesana sekarang juga."
Aku akhiri panggilan itu, lalu segera mengambil jas yang aku letakkan di atas meja.
"Kamu mau kemana mas Lio?" kata Nessa.
Aku hampir melupakan keberadaan Nessa yang sedari tadi ada di sini. Karna aku terlalu panik, saat mendapat kabar dari bibik soal Vannya yang pingsan.
"Aku akan pulang kerumah Nessa, lain kali kita bicarakan lagi soal pekerjaan kita," ucapku sambik bergegas keluar dari cafe.
Aku tidak memikirkan apa tanggapan Nessa lagi sekarang. Yang terpenting bagi aku saat ini adalah, keselamatan Vannya saja.
__ADS_1
Aku tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan pada Vannya. Semoga ia baik-baik saja. Aku terlalu cemas saat ini.