
Kakiku seakan berat fokusku yang semula berjalan pulang kini tak lagi mendapatkan tujuannya, sungguh begitu menyakitkan sayatan sembilu yang sangat dalam karena berulang
^^^Kriiing kring^^^
Ponselku berbunyi nyaring memecah keheningan saat menuju parkiran mobil khusus itu
Dengan segera akupun mengangkat telp itu
"iya Bik, "jawabku
"Non segera pulang, Bapak kambuh non"Bibik
"Baik Bik"jawabku segera, "Mas Herdi, bisa minta antarkan aku pulang cepat, Bapak kambuh Mas" pertama kali panggilan itu menerobos pertahananku membuat Herdi sejenak terdiam dan segera "Ayo, "timpalnya
Perjalan kami berkategori diluar kata biasa hingga sampai di rumah sudah dengan banyak tetangga yang seperti saudara
__ADS_1
"Nak, segeralah Bapakmu sudah menunggu"salah satu tetangga baiku
Dengan bergegas berlari masuk kamar Bapak dengan diikuti Sosok Herdi "Pak, bapak baik baik sajakan ?"kataku sudah bertautan dengan air mataku "Pak, bangunlah ada mas Herdi disini ?"kembali ungkapan kekawatiranku
Dokter yang sedianya tahu kondisi pasiennya Herdi membiarkanku, dan sosok Bapak kini mulai membuka mata "sayang anak Bapak, Bapak baik baik saja, Nak Herdi titip putriku" dengan penuh harap juga bahagia Bapak menatap Mas Herdi "baik Pak, terimaksih mempercayai saya"Herdi "kalian bisakah mengabulkan permintaaku" Bapak masih dengan lemas "Iya Pak semampu kami"Herdi , aku hanya bisa mengangguk saja
"Bisakah kalian menjadi sepasang kekasih dan menikah ?, maukah nak herdi menikahi Putriku ?"pertanyaan pernyataan itu membuatku seperti tertampar ribuan kali, kepalaku tertunduk harus seperti apa ini ?, "iya, saya bersedia"Herdi memberikan jawabannya "Bapak, lekas sembuh, bapak istirahat dulu biar lekas pulih"pintaku
Anggukan dan senyuman Bapak membuatku makin teriris iris, mana mungkin, apa aku sanggup juga pantas ? untuknya
Malam malam berikutnya semakin membuatku gelisah saat hardi kembali datang dan meminta jawaban atas pernyataannya saat itu
sedangkan bapak akan melakukan permintaannya menghimpitku, "Ris, aku akan menikahimu secepatnya"Herdi sebagai permintaan Bapak "jika perasaanmu bukan untukku, aku akan menunggu" kembali hal yang menyakitkan, andaikan aku boleh mengatakan jujur aku bahagia akan itu, jawabanku tak dibutuhkan sepertinya "Nak,"Suara Bapak "iya Pak,"jawabku "bersiaplah, habis magrib kalian bapak nikahkan siri dulu"Bapak kuatir kata orang melihat kalian sering bersama "Bisakan sayang ? , Bapak hanya minta itu ?"
__ADS_1
"Kami siap,"Hendi dengan melingkarkan tangan itu merangkulku
"Iya, Pak sesuai keinginan Bapak "timpalku saat bersamaan ku turunkan tangan itu
baiklah acara segera dimulai kalian bersiap - siaplah
Kurang dari seminggu setelah pernikahan siriku yang tercatat tapi belum dilegalkan kondisi Bapak bukan membaik melainkan sebaliknya hingga membuatnya berpulang ke sangpencipta.
Kini aku hanya seorang diri, Mas Herdi mendapatkan tugas luar kota selama satu bulan untuk baksos IDI, mungkin jahat aku tidak memberikan ia kabar tentang ini, karena aku tetaplah aku yang merasa hina rendah dan tidak pantas untuknya, karena orang tuanya juga belum tahu hubungan ini, hubungan kami seakan hanya untuk menyenangkan bapak tidak lebih.
Malam Itu setelah pemakanan dan hari berikutnya aku hanya sendirian, mungkin sibuk mas Herdi dua hari ini juga tidak memberiku kabar dan akupun tidak keberatan
Dua minggu berlalu dengan rutinitasku dengan sedihku tanpa suami siriku, hampir tiga minggu tidak bertemu ada banyak yang hilang dalam hidupku, begitu memilukan dan aku butuh hiburan atas penatku, akupun memilih ke moll untuk sekedar menikmati malam ini
__ADS_1
"malam Ris, bagaimana kabarmu"