MAHKOTA WANITA

MAHKOTA WANITA
Bersama


__ADS_3

Seperti janjiku akupun membuka file dan mengulirkan recaman beberapa bulan lalu dan mengirimkan sesuai apa yang kukatakan beberapa waktu lalu.


Entah berikutnya bagaimana ? bukankah perpisahan adalah ucapan menyambut hari-hari penuh rindu, atau perpisahan itu kadang dapat kembali. dan kadang pula selamanya tak akan kembali.


Menjalani hidup sesuai jadwalnya, hingga hal hal yang membuatku geram muncul saat peresmian kerjasama untuk properti dengan perusahaan yang tak ku ingat jelas harus ku hadiri dengan membawa dua penyemangat hati yang ku tau jenisnya kini.


Meski marah tapi inilah tangung jawab karena apa ? pemilik usaha ini adalah aku bukan sewajarnya menjadi tangung jawabku, dan menghadirinya sebagai pemilik juga pemegang otoritas tertinggi.


Meski berat saat semua kulakukan dengan kehamilan yang semakin sulit untuk ditutupi, dengan beratpun kenyataan ini harus dijalani dan bergerak demi masa depan si kembar, iya sesuai mimpi itu kehamilanku kali ini tidak satu tapi dua sekaligus jadi perut yang sedianya masih belum trimester akhir telah nampak dari kebanyakan.

__ADS_1


Ternyata acara dilaksanakan digedung berbintang berlebel hotel, langkahku hampir terhenti melihat sekilas sosok lelaki itu Hendrawan ayah dari bayi dalam perutku.


Ah mungkin hanya rindu, dan kembali langkahku menapati Hotel memasuki ruangan mewah itu, tanpa ragu mengesampingkan bisikan hatiku dan pergolakan sosok itu dalam pikiranku. hanya ada kata maju masuklah dan lihatlah dunia luar yang sekian bulan kau tinggalkan, meski ada ragu langkahku tetap tak tertahan sebelum cengkraman lenganku yang kubiarkan bebas tanpa pelapis itu.


"Sungguh kau wanita tak tahu malu, masih berani kamu muncul di acaraku" Suara itu tak asing Dokter Herdi mencengkeramku dan banyak mata memandangku dan dia, sungguh rasaku antara malu juga kaget akan situasi ini.


Mengikuti cengkraman itu pergi, "bukankah sudah baik kamu pergi, kenapa kembali hah! "bentakan dokter herdi sosok mantan suami siriku itu menyakitiku juga bayiku mulai beraksi, mungkin ingin melindungiku tapi itu menyakitiku lagi "au, seketika akupun memegang perutku" di luar terdengar suara IO memanggil namaku yang tengah berganti menjadi Putri.


Dan munculah sosok Hendrawan disitu, mengambil pena dan berbuah tepuk tangan akan aktifitasnya barusan.

__ADS_1


Mata ini nanar ingin menangis meski tertahan, gejolak didalam bersinergi seakan tahu itu ayah yang mereka rindukan, hingga tanganku mengusapnyapun tak mampu menahanya untuk terus berebut ruang untuk unjuk gigi kepada ayahnya.


Tubuhku tak kuat menahan semua ini, hampir terhuyung dan sigapnya ayah calon bayi memegangku dengan sebuah kecupan yang aku rindukan.


"sudah puas bermainnya sayang, saatnya pulang"ungkapan itu selayaknya minuman di saat kita tengah digurun pasir. Tak menunggu jawaban meraih pengeras suara dan menyatakan hal diluar nalar dalam sebuah pidato singkatnya.


"Selamat malam" Hendrawan mengatakan dengan wibawanya dan semua yang semula gaduh kini menjadi senyap sedikit sunyi.


Malam ini menjadi saksi atas jawaban kenapa sulit untuk menjadi sosok wanita yang kusayangi. Karena harus seperti wanita yang saat ini tengah ada di hadapan kalian, inilah Nyonya Hendrawan Bramantyo Wijaya.

__ADS_1


Sikian terimakasih untuk semuanya.


"Pidato apaan hanya menambah banyak bahan pergunjingan" dalam benakku mengatakan itu


__ADS_2