MAHKOTA WANITA

MAHKOTA WANITA
Rumahmu


__ADS_3

Pagi datang tanpa diundang sinarnya membuatku silau untuk tetap terpejam, beranjak sepelan mungkin agar sang tuan tak terbangun dan menerima gempuran pagi ini, entahlah mungkin jika ini buatan manusia sudah seperti apa, sungguh perkasa dan mempesona setiap hal yang dilakukannya membuatku melayang lupa akan bimbang terpatri dalam nikmat penyatuan.


Merindukan seseorang yang pernah mengisi hatiku adalah hal yang wajar, tapi tergantung pula dari bagaimana situasinya sekarang. Jika kini belum mendapatkan penggantinya, namum sekarang berbeda aku telah resmi menikah terlebih lagi aku sudah berhubungan dan berulang melakukan penyatuan diluar kata wajar.


Kesuksesanku membawa aku dalam senyuman melihat sosok rupawan tetap terjaga dengan nyaman segera menguyur kesegaran pagi, berganti dengan span kegemaran kaos tanpa lengan memberikan sentuhan saat dada bidang itu terlihat begitu menawan, memilih keluar menyiapkan sarapan dengan menyapa mereka dengan ucapan "selamat pagi" spontan jawaban serempak "pagi nyonya"

__ADS_1


Masih penasaran melihat bahan makanan yang tersimpan rapi "Tuan biasanya sarapan apa ?" tanyaku ingin tahu


"kebetulan nyonya kami lagi bingung menentukan"pelayan itu sedikit ragu mengatakan itu "baiklah coba kita siapkan"pintaku sembari mengambil beberapa bahan makanan.


Memilih memasak sub sehat dan juga ikan dibikin crispy sedikit sambal kecab yang telah usai disiapkan, mungkin kembali kembali kebetulan yang Tuhan ciptakan, semua siap suamiku datang "harum sayang, masakan siapa ?" nampak segar dengan celana pendek juga kaos oblong meski semua itu ternama barang barang brended semua meski iseng asal menyiapkan karena juga bosan melihat jas warna hitam seakan tidak pernah ganti hampir tiap hari ia gunakan.

__ADS_1


"mas cobain, sapa tahu pas n mereka bantu juga kook " memcoba menjelaskan keinginanku dan mengurangi intimidasi darinya untuk pelayan


hemmm sembari duduk dimeja makan, "kalian makanlah di belakang, biarkan kami berdua saja"pintaku melihat wajak mereka pucat pasi, "mas nasinya cukup segini ? " tanyaku dengan sedikit gerogi dilihatinnya, tanpa komentar hanya sekilas anggukan dan tetap memandangiku "baiklah mau disuapi ? jawabku sendiri "cobain sayur ini biar makin kuat" asal bunyi "maksudnya ? baiklah ku buktikan disini" sedikit ada emosi terpancar Hendrawan terkobar merasa disangsikan kekuatannya dengan gerakan diluar nalar "mas mas" pintaku menerima serangan "iya mas yang terbaik, ampun mas "pintaku berulang hingga penolongkupun datang Roland "permisi tuan, penerbangan pagi ini sudah siap" Roland tanpa merasa bersalah


"baik, kita berangkat sesuai jadwal"timpal mas Hendrawan

__ADS_1


"mas" kataku dengan menyodorkan nasi berserta kuah sob sehat, memandang setelahnya menikmati "jaga kesehatan ya mas, untukku juga mereka kelak" mencoba menggoda agar tak ada amarah atau kesalah pahaman, "coba sambalnya pedas ndak" pintanya "ndak juga, kan belum tahu mas sukanya pedas atau ndak ?" jelasku "suja aja cuman bukan yang ekstra pedas"jelasnya "nik mas cobain"dengan sesuap nasi lagi "beneran masak sendiri ?" tanya Hendrawan penuh ketidak yakinan, "Mereka yang masak tadi," kata kataku berjeda dan melanjutkan "cuman mereka bantu saja" sembari ketawa kecil dengan sesuap penuh nasi berkuah dengan lahab menikmati makan serta membaca berita terkini di koran, "sayang nanti setelah dirumah mau dimasakin tiap hari apa boleh ? pintanya tiba tiba "diusahakan mas, itu kewajibanku"jawabku meski sedikit ragu. Senyum bahagianya membuat hatiku kembali teriris dalam bimbang.


__ADS_2