MAHKOTA WANITA

MAHKOTA WANITA
Esok


__ADS_3

menikmati sensasi tak setabil atas efek minuman yg baru saja ku kenal, rasa getir yang sedianya awal meneguknya kini berbuah manis tubuhku mulai hilang keseimbangan, memilih keluar dan meraih ponsel untuk menghubungi seseorang, entahlah nama yang muncul hanya nama suami siriku.


Membuatku hanya berhenti tanpa melakukan lebih menekannya, "mas bantu aku"gumamku sendiri, dengan melangkah kembali mencari taksi mungkin lebih baik, masih bersama sempoyonganku akibat kesadaran berkurang makin lama makin terasa berat tengkukku seakan kepalaku diberikan beban hingga tak bisa membuka mata dengan nyaman, melihat sosok mas Herdi diujung pandangan yang sudah menjadi beberapa fokus, hanya diam akan ketidak yakinanku dan benar itu mas herdi yang menghampiriku


Disitulah tubuhku yang semula sok kuat akan alkohol akhirnya tumbang, ------------------ Esok paginya


Bukankah hari ini libur, dan benar malas sekali aku membuka mata,karena aku berfikir masih pagi, dan ternyata sudah hampir jam sepuluh pagi, rasa nyaman ini beda dengan yang biasa aku rasakan pantulan lembut tempat tidur saat aku bergerakpun berbeda, aku mulai merasakan ada yang tidak nyaman memaksaku membuka pandanganku yang sedianya tersembunyikan rasa malas karena liburan, tempat asing ini.... ini seperti hotel, siapa yang semalam ? oh... jangan sampai ini pria lain lagi, bu sibak selimutku melihat tubuhku sudah tak lagi utuh seperti semalam, hanya pedalaman transparan, jangan bilang kembali aku melakukan hal itu tanpa kesadaran, buliran kristal beningku mulai mengalir hatiku hancur kembali  "Mungkin, Tuhan mempertemukan kita hanya sebatas untuk saling mengenal bukan untuk saling memiliki."kataku lirih dan isak tangisku kembali hadir seperti malam setelah valentine dulu.

__ADS_1


Tubuhku meringkuk untuk memberikan kekuatan atas kenyataan hidupku, hanya itu yang bisa aku lakukan, mendekap lututku merapatkannya dalam dekapanku sendiri menunduk dengan isakan yang tertahan meski masih terdengar


"kamu kenapa ?"suara itu, aku mengenalnya dengan sedikit penasaran aku tengadahkan wajahku untuk melihat dan benar itu Fadil lelaki yang telah merubah seluruh dihidupku.


Kenapa harus seperti ini, kenapa aku harus kembali terjerembab dengannya kembali pikiranku semakin membuatku sakit hati, hingga aku tak sadarkan diri seakan merasakan pukulan hebat seketika dadaku sesak hingga duniaku gelap.


"Ris, kamu sudah sadar, syukurlah"pandangan itu sangat syahdu menyejukkan meski sakit ini tak mungkin dielakkan "minumlah"dengan menyodorkan air putih untukku, meski ragu aku kembali menerimanya dan membuat lega rasa dahagaku

__ADS_1


"terimakasih"jawabku


kekakuan kami seakan menjadi sosok baru pertama kali bertemu "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia."batinku kembali tersakiti mengingat bayang masalalu berharap cintaku sejalan dengan inginku mas Herdi tak pantaskan aku untukmu ?


"Mas Herdi mencintaimu adalah ketika kamu masih bahagia walaupun kita tidak bersama"batinku kembali mengingatnya meaki aku kini dengan sosok lama yang membuatku terpenjara lama hingga kini


Tanpa kata hanya diam tak saling bersuara, dengan pikiran kami sendiri.

__ADS_1


Hidup ini tidak seperti novel, yang kita bisa mengulang halaman pertama kapanpun kita mau. Dalam kehidupan nyata, saat sebuah kisah tidak lagi asyik, mulai menyakitkan, kita tidak bisa mengulanginya dari halaman pertama lagi. Tapi tidak mengapa, karena kita selalu bisa membuat bab baru, halaman baru. Selalu bisa mungkin itu akan aku lakukan pergi dari mas Herdi, aku yakin aku tidak akan pantas bersamamu dan melihat keluar


__ADS_2