MAHKOTA WANITA

MAHKOTA WANITA
Bermimpi


__ADS_3

Langkahku terhenti seakan tak ingin pergi, tapi semua harus terjadi mencoba belajarlah kepada senja, karena dia mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat


indah sebagian hanya sementara, karena tak ada yang abadi.


Memilih segera ke kantor merapikan berkas juga tugas serta pengajuan pengunduran diri, memberikan akses ini tertutup dan pergi sebisa mungkin dimana aku harus tinggal, menyusun dengan rapi kepulanganku tanpa banyak orang tahu, tidak langsung menggunakan penerbangan melainkan keluar kota dan merubah nama panggilanku menjadi nama akhirku semua berjalan baik.


Beban yang ada seakan sedikit berkurang saat mata ini mulai bisa merasakan kantuk dan terpejam dalam penerbangan itu, hingga membuatku kembali bermimpi bertemu Kedua orang tuaku dan memberikan sebuah benda tak ubahnya anak kecil yang begitu lucu menggemaskan tidak hanya satu melainkan dua dipangkuanku, ingin protes kepada ibu tapi tak sempat kulakukan saat sebuah sentuhan "mbak kita telah sampai" pramugari itu cantik dan sopan, anggukanku dan ucapan maaf juga terimakasih


Biksum juga nak perempuanya menjemputku sedangkan bisnis yang kecil ku upayakan kini juga telah berkembang, paling tidak tidak harus takut kekurangan untuk makan.

__ADS_1


Hidupku terus berjalan Tuhan, jangan ajarkan aku takut kehilangan. Ajarkan aku melepas tanpa penyesalan. Hanya berusaha bahagia menemani adik kecilku kuliah sembari mencari supir untuk keperluan rumah juga bisnis baruku di bidang properti.


Sadarkah kalau semua itu terhubung dengan takdir. Tak ada yang bisa mengatur takdir, jadi nikmatilah setiap detik yang kau punya untuk bersamanya selagi itu bisa, siang ini kepalaku terasa pusing dan berlebih memilih memeriksakan diri dan ada kejuta setelah ini beberapa bulan berlalu kumpulan hari hariku aku mendapatkan detak janin di perutku tak lagi satu tapi dua, tumbuh dengan baik disana, ucaoan syukur atas semua itu membawaku pulang terlwbih dulu kepusaran orang tuaku. menceritakan semua keluh kesahku dan kembali air mataku seakan banjir menggenangi kisahku.


Usai sudah menangis kini saatnya kembali kekenyataan dengan harapan mampu menjadi sosok orang tua tinggal.


Toh Senja mengajarkan kita menerima sebuah perpisahan dengan jaminan pertemuan yang hangat pada esok hari.


"Nyonya ?!" Roland melihatku tak cukup gesit aku mengelak untuk tak terlihat, dan terpaksa menoleh dengan tarikan tangan Roland.

__ADS_1


Nyonya segeralah pulang Tuan, tak lagi seperti dulu menikmati hari dengan mabuk juga beberapa wanita hampir menjadi korban. penjelasan Rolang untukku menyakitkan tapi mencoba merelakan bukankah itu pilihanku.


"nyonya, saya mohon kembalilah berharap penjelasan" Roland membuat ambigu wajak adik kecilku, "sini, jangan salah paham, Roland sepertimu tangan kanan sosok ayah dari" jelasku dengan menunjuk perutku yang kusamarkan.


"Mbak dengan berkaca kaca, aku rela asalkan Mbak bahagia" dengan memelukku.


"sayang belajarlah melihat sesuatu secara bijak, melihat dua arah bahkan dua siai, jika sisi lain itu belum kau ketahui tanyakanlah"jelasku


"Roland aku telah menjelaskan lewat suratku pagi itu"kembali pernyataan atas kejelasan tindakanku tempo itu.

__ADS_1


"tapi nyonya, Tuan tak pernah menceritakan itu" sanggahnya


"Baik nanti, ku buka galeriku dan biarkan adiku mengirim gambarnya untukmu" jelasku dan berlalu


__ADS_2