
Satu bulan berlalu, tanpa seorang yang membantu mengobati rinduku, entah kemana suamiku, apa yang iya kerjakan sekarang, hanya lamunanku dengan kesendirianku
"non, makan malam sudah siap"Bibik
"iya, bik"jawabku seperti biasa menikmati malamku sendiri, ingin segera menelponnya, tapi aku tak sanggup melakukannya atas nama dilema, sampai jam istirahatku mrmbawa kepada kenyataan bahwa aku tidak lagi menjadi prioritasnya.
"Vin, istirahat ke cafe yuk"Ajakku karena terlalu lama sendiri setelah Bapak kembali ke sang pemberi hidup
__ADS_1
"baik mbak, kita ajak yang lain sekalian gimana"Vina
"baleh, aku yang traktir" timpalku
"baiklah, ayo kita makan makan gratis kawan"Vina serta merta membawa yang lain satu devisiku, janya perlu berjalan kaki sepuluh menit sampai di salah satu resto yang mewah, kamipun memesan makanan masing masing, sungguh harus bahagia atau inikah bencana saat mas herdi, tengah asik dengan teman temannya yang pasti tidak ku kenal sama sekali apalagi wanita, mataku tiba tiba panas serasa nanar melihatnya bercanda bahagia tanpa aku,
Pandangan yang sekilas terkait kulepaskan begitu saja, memilih melangkah pergi ke tulisan toilet, belum sempat hasratku terpenuhi sudah "Ris, aku kecewa padamu!! "Mas Herdi, dengan mencengkeram pundakku sedikit kasar berbalut emosi "sebegitu tidak berartikah aku buatmu"kembali vonis mas Herdi untukku.
__ADS_1
Harusnya aku bahagia akan itu, tapi apa air mataku tidak mau bekerjasama, Tuhan, jangan ajarkan aku takut kehilangan. Ajarkan aku melepas tanpa penyesalan dalam benakku mengatakan itu, karena selebihnya aku hanya bisa diam, "Baik, maaf menggangumu "mas Herdi berlalu sedikit menjauh dan mengatakan lagi "terimakasih untuk itu" apa maksudnya, butiran kristal termahal diduniapun tumpah membanjiri pipiku yang mulai kurus memikirkan banyak hal dengan bungkus masalalu
Dengan melihat Suami siriku berlalu itu membuat lukaku sendiri, Sadarkah kalau semua itu terhubung dengan takdir. Tak ada yang bisa mengatur takdir, jadi nikmatilah setiap detik yang kau punya untuk bersamanya. dan waktuku telah habis, memilih merapikan semua dalam toilet dan kembali dengan sedikit sembab, duduk dan menikmati sajian yang mulai datang tanpa perduli dengan obrolan mereka sampai ada kata-kata muncul membuatku beralih fokusku
"Sekuat apapun kamu menjaga, yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apapun kamu menolak, yang datang akan tetap datang."Kevin membuatku melihatnya sejak kapan kepala devisi keuangan hadir batinku, penuh canda mereka yang tak ku mengerti awalnya
"Perpisahaan selalu mengajarkan kita untuk menghargai, bahwa setiap detik bersama orang yang kita cintai adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan."Vina yang mengidolankan kevin itu ambil bagian, jangan tanyakan aku, aku hanya menyimak dengan diam dan mengatakan "Dan suatu hari nanti aku hanya akan menjadi bagian dari masa lalu, tetapi akan terus kulanjutkan langkah ini."
__ADS_1
Giliran Ibu melanjutkan kata katanya serempak mereka menekanku, "hemm .... Tak mungkin lagi ku memaksamu disini, lupakan aku bila tak cinta lagi. doakan saja ku mendapatkan pengganti yang lebih baik darimu."kata kataku saat bersamaan mas Herdi berlalu melewati gerombolan makan siangku, sakit iya, rindu iya "Perpisahan kadang dapat kembali. dan kadang pula selamanya tak akan kembali."pergolakan batinku akan status palsu tanpa legalitas ini, aku merindukanmu mas, melihatnya berlalu memilih menyelesaikan makan siang kami dan kembali kerutinitas masing masing