
Malam datang tidak diundang Papa mertua seakan berat meninggalkan kami seakan tak ingin pulang, beberapa bujukan mama mertua demi kesehatan juga akhirnya menyerah dan beranjak pergi meninggalkan kami dirumah sakit, semua jadi hening dan sunyi tapi tidak hati kami yang mulai berbunga akan satu rasa itu mungkin cinta.
"Ma, maafkan papa ya ?" pinta mas Hendrawan, hanya aggukan menandakan sebuah jawaban.
Aku senang melihat semua hari ini, "sayang kemana saja beberapa bulan ini membawa separuh hatiku pergi," Hendrawan mulai menghakimi atas sikapku. "badanku terasa kurang baik, bolehkan aku tidur"Pintaku tidak ingin memperpanjang cerita lalu.
Sebuah senyuman yang mengembang, meminta pergeseran tangan dengan jari nampak panjang menawan itu menempel diperutku. "berbincanglah, tanyakan pada mereka siapa ayahnya ? jika masih mau betanya hal yang berbau masalalu." ku katakan dengan tenang dan mulai memejamkan mata sembari mendengar percakapan mereka kadang sebuah respon gerakan mereka tapi berbeda tidak menyakitkanku, semua itu membuatku bahagia dan terlelap.
__ADS_1
Hingga pagi datang tanpa diminta masih menikmati penjagaan suamiku, dan tangan itu memeluk posesif perutku, "Pa, bangunlah bukannya ada rapat pagi ini batinku, Mas sudah siang waktunya mencari nafkah untuk kami" kataku dengan sedikit pergerakan "sayang, mama perlu apa ?" tanyanya di sela mengumpulkan segenap nyawanya.
Gelenganku mewakili jawaban akan itu "waktunya kerja buat kami, bukankah itu tugas suami" Sedikit candaku "tanpa diminta Ma, kalian prioritasku, dan sebentar lagi Roland datang buat nyiapkan rapat pagi ini" penjelasan yang panjang.
"Baiklah, aku ingin mandi "pintaku "nanti setelah sarapan pagi sayang" timpalnya tanpa sanggahan karena itu peringatan keras dari sang suami.
Hampir satu jam semua terselesaikan, dan Roland sumber dari kebenaran ini, tatapanku membuatnya takut dan tertunduk, "Mam waktunya makan" suara itu memberiku ruang untuk tidak lagi melihat Roland dengan kesal, empunya suara sudah menyodorkanku makanan versi rumah sakit, "tapi pingin makan makanan padang tanpa sayur hanya ikan dan kuahnya saja" pintaku dengan lancar "saya belikan Tuan, permisi" Roland gerak cepat untuk menghindar.
__ADS_1
Anggukan Hendrawan membawanya pergi sedikit berlari, "sambil menunggu bisa mencoba ini dulu" Sebuah suapan yang diberikan suamiku tak membuatku mual sama sekali, sunggu aneh penuh keajaiban. Dengan lahap menikmati makanan hingga tandas Roland ter enggah enggah tengah datang. "Terimakasih, aku makan setelah mandi" pintaku "mas bantu, " kata itu sebuah keputusan final.
"Baiklah mandi ya mandi saja" gumamku, dengan begitu akan cepat makan padang. Dan benar semua tengah memerlukan bantuan ada slang infus yang harus stabil pas ada suami yang membantuku mandi, sesuai jadwal usai mandi langsung kembali makan tapi meminta suami menyuapiku hingga tandas. "Pa, aku pingin pulang" pintaku bukan untuk suami tapi mertuaku yang sudah datang dari depan pintu, ada yang salah tangkap dong menjawab tapi terhenti saat mendengar suara mertuaku alias ayahnya itu bersuara "pulang kerumah papa ya" pak wijaya dan anggukanku penuh semangat.
"pagi Pa, "Hendrawan semakin geram atas keputusan sepihakku. "kemanapun kalian pasti ada aku" Mas Hendra "eit, siapa bilang kamu boleh ikut" Papa wijaya "tapikan pa"Hendra "tidak ada tapi tapi, ngurus dirimu saja belum bisa mau ngurus istrimu"Pak wijaya dengan penekanan.
"ma, "rengek an mas hendra
__ADS_1