
Babak baru tengah dimulai, bertiga dengan kedua malaikat kecil semangat terbesarku. Keluar tanpa menunggu perintah yang akan berulang dan itulah penghinaan terbesar dalam hidupku, saat kesalahan itu tidak bisa disangkal bahkan dapat dipastikan benar atau salah.
Entah harus Diam atau menyangkal saat itu hanya mencoba memberikan ketenangan untuk mereka kesanganku, sikembar menyaksikan itu dan dipastikan ada guratan cerita dalam memori mereka kelak, bahkan makin buruk saat sebuah kata kata kasar keluar akan makin banyak mereka dengar dengan sangkalanku. itulah akupun memilih diam tanpa harus mengiyakan bahkan menyangkal.
Memilih memeluk mereka serta memungut barang yang sudah di lempar keluar, senyumku pun mewakili sakit yang bernanah kembali.
"Bunda, "
"iya sayang, ayo kita jalan-jalan"
"kenapa papa marah ?"
"kita diusir ya Bunda ?"
"hemm, Kita lagi di beri tugas dan kita harus kompak ya, bantu bunda bawa barang kalian terus kita jalan-jalan"
"nyonya, saya ikut, Den Non mana simbok bantu"
"tapi, bik"
"sudah non, sebaiknya ikut bibik ke gubuk bibik sudah lama juga bibik ndak pulang"
__ADS_1
"Yang dekat laut ?"
Anggukan sekaligus ajakan itu adalah solusi terbaik karena tidak cukup banyak uang ditabunganKu saat itu sudah menipis bahkan bisa dikatakan habis buat modal usaha properti ku, mencoba kuat dan tabah meski didalam hancur lebur tidaklagi beraturan.
Perjalanan yang lumayan membuatku sedikit merasa lelah karena bebanku kini makin bertambah, saat yang dinanti telah tiba mobil yang kami sewa sampai dipelataran sebuah hunian minimalis yang cantik dengan kesederhanaannya, "mari Non, anggaplah rumah sendiri" biar anak-anak dibantu Ian, Non masuk sebelah kiri ada kamar Non sekarang" mencoba menerima sedikit tidak masuk akal begitu cepat semua berubah.
Malam seakan lama sekali berganti, hari berikutnya pasti ada tapi begitu lama seakan jarum jam enggan untuk berbagi kecepatan berputarnya. rasa haus membawaku keluar mencari air sebagai obat dahagaku, bukan itu yang kudapatkan tapi, seakan tertimbun tanah berair serta ada balok kayu menimpa kepalaku semua menjadi gelap tidak lagi bisa mengingat jelas akhir malam panjangku.
Saat kembali mataku terbuka, saat terdengar sebuah panggilan yang tengah ramai mengitari ku, memanggil bergantian itulah mereka buah hatiku memanggil sebutan ku dengan kecemasannya.
"Bunda "
"Hay sayang, maafkan bunda ya bunda kecapekan, sudah makan ?"
"baiklah, mari bunda bantu siapkan makan"
"bunda baik-baik saja, bunda sehatkan?"
Perhatian malaikat kecilku menjadi kekuatan berlebih yang tidak akan habis oleh apapun itu, mencoba menseimbangkan antara dunia mimpi ilusi bahkan apapun itu tentang semalam, dengan kembali hidup dalam sebuah kenyataan sebagai ibu tunggal.
Kaki kecil itu tengah berlari penuh riang, seakan memberikan kabar pada dunia bundaku tengah kembali sadar menemanimu.
__ADS_1
langkah Kecil mereka membuka tabir yang menyelimuti ku semalam, sosok itu tidak mungkin ? kakiku berat mendapati sosok lama itu hadir,
"Tuhan sebegitu bercandakah kisahku ?"
"Non, !? "
"Bunda ini paman Ian,"
"iya sayang, ayo bunda ambilkan makan pagi"
Suasana cangung pasti, simbok yang selama ini aku kenal tidak tahunya adalah ibu dari sosok lelaki malam Valentine itu, sampai sebuah kata terdengar jelas dan menjadi terjemahan akan sesuatu
"Bu, sudahlah semuanya telah terjadi"
"Beri ibu waktu"
"tidak kali ini, biarkan Fadlian yang memutuskan"
Terkunci dengan perdebatan orang yang dikenal tapi susah melakukan sesuatu itulah saat itu yg kurasakan.
"Non Biar simbok yang nyuapin kembar"
__ADS_1
"Bu, maafkan aku, sebenarnya ibu siapa ?"