MAHKOTA WANITA

MAHKOTA WANITA
Mengaduh


__ADS_3

"sudah ikuti permintaan papamu" dengan anggun juga lembutnya mama mertua menjawabnya


"ma, pasti aku" kata mas Hendra masih belum selesai terkunci dengan tatapan papa mertua yang menajam.


"Pa, bisakah kita pulang sekarang," entah begitu manjanya aku pada sosok Pak Wijaya sosok kaya pakai raya itu mertuaku.


Tampa menunggu lama semua sudah dikondisikan pulang. Dalam perjalanan kami dalam mobil yang sama cuman didudukkan terpisah, mas Hendrawan di depan sebelah kiri.

__ADS_1


Seakan menang taruhan melihat suamiku tersudut, tapi yang didalam tidak begitu inginnya menempel mungkin ? karena reaksi mereka sangat stabil saat bersama papanya.


Acara pindahan sudah begitu tersusun rapi, segala fasilitas terpenuhi cuman satu hal yang hilang kebebasanku seakan tergadai. Pernikahan kami disusun ulang sesuai apa kata mertuaku seperti itu juga mas hendrawan lakukan apapun yang terbaik buatku juga mereka anak anaknya.


Hampir sebulan perubahan aktifitas hanya di kondisikan di rumah mertua, sungguh bahagia juga membosankan aktifitas yang dibatasi. Kini usia kehamilanku memasuki bulan ke delapan makin membuncit dan makin terasa aktifitas didalam, kebetulan kamar ada di lantai atas, saat ingin kebawah ada telp masuk dari mas Hendra mengabarkan pulangnya di tunda beberapa minggu sekalian ambil cuti panjang nanti, berharap urusan dilakukan dirumah dengan menunggu persalinan, persetujuanku menjadi penting karena itu akan membuatnya tenang.


Harapan kini senantiasa terpanjatkan hingga nanti datang saatnya menguji sebuah keyakinan dan garisan hidup, pagi ini mas Hendrawan datang disitulah rasa rindu yang tersimpan tercurah baik fisik batinku juga menikmati segala macam bentuk kasih sayang yang terskema itu.

__ADS_1


Pagi berikutnya Papa mertua mengatakan ingin mwngumpulkan semua keluarga dan mengadakan tasyakuran atas segala nikmat swrta minta do'a keselamatan buatku juga sikembar. Lagi enak Papa mertua melakukan skema akan acara tiba tiba perut yang semula baik baik saja tiba tiba ada rasa yang kurang nyaman.


Mencoba mendengarkan apa yang direncanakan bukan berkurang tapi mulai berulang, "kenapa sayang ?" tanya mas Hendra "entahlah terasa kurang nyaman"jawabku.


Dengan berusaha senyaman mungkin, sampai sarapanpun selesai dinikmati, hanya merasa kurang nyaman pikir hati karena aktifitas malam bersama yang terkasih. Memilih ijin untuk istirahat di kamar tapi, bukan berkurang makin menjadi lebih sering tak elak akupun sering mengaduh tanpa alasan yang bisa di mengerti.


Mungkin orang tua akan jauh lebih bisa mengerti proses ini, karena pengalaman dan banyak hal yang telah merela lalui, Sebaiknya di buat rileks dan jalan jalan itu sebuah saran yang mudah dikatakan susah dilakukan, karena apa ? saat mendekati garis start melakukan proses melahirkan sangatlah tidak mudah untuk melakukan itu.

__ADS_1


"sayang Mama tahu, kamu bisa dan kalian bantu mamamu ya" kata kata mama mertua begitu menyejukkan dan membuat sebuah tambahan kekuatan, as Hendrawan selalu bersamaku membimbingku dalam do'a juga melakukan banyak hal hinhha mengesampingkan kekawatiran juga sekidit rasa sakitku. Dengan kata yang direncanakan mampu membawaku berjalan di taman belakang dan benar saja sakit itu menjadi hingga akupun mengaduh.


__ADS_2