
"Nyonya"Batinku aneh mendengarnya
Pelayan itu segera bergegas keluar, dan benar saja sosok Pria gagah itu keluar dari balik pintu, "bagaimana keadaanmu ?" tanyanya dengan menyentuh pucuk kepalaku "baik, terimakasih"timpalku dengan pergeseran ingin menyandarkan tubuhku tak lagi posisi tidur, dengan sigap membantuku bangun.
"aku harus melakuka sesuatu, istirahatlah dan makan makananmu" sosok itu kembali meninggalkanku keluar.
Pelayan membawa begitu banyak makanan, lembut "makanlah nyonya"pintanya, tidak banyak perdebatan kata Nyonya, masih membingungkan buatku. mencoba menelan sebisaku "mari aku bantu"sebuah pergerakan diluar kesadaranku dan membuatku kaget dari lamunanku.
Begitu baik dan istimewa menyuapiku tanpa diminta apalagi ini Tuhan ? dalam hidup telah dua kali aku mencintai pria dan hasil akhirnya terluka bukan hanya itu aku kehilangan bayiku.
__ADS_1
"Mulai saat ini, kamu milikku"batin Lelaki yang belum dikenal Riska,
"Istirahatlah sore nanti dokter akan memastikan keadaanmu" dan kembali beranjak pergi, entahlah tubuhku terlalu lelah untuk menyari tahu itu, memilih membaringkan tubuhku tanpa meminta banyak hal, menikmati segala rasa hingga kembali terlelap dan mengikuti segalanya tanpa banyak pilihan, badanku mulai pulih efek obat bius yang kurasakan berangsung angsur hilang sedikit lagi akan kembali normal, sampai disuatu sore kamipun bersama memulai dari awal.
"bagaimana kabarmu ? sudah lebih baikkan ?"pertanyaan sore itu setelah sekian lama bersama tanpa penolakan sebutan Nyonya, aturan yang diberlakukannya seminggu itu berlalu begitu saja, sedangkan awalnya inginku liburan tapi mendapatkan kejutan, kejutan kehamilanku dengan mas Herdian, hatiku ngilu mengingat itu, setelah menikmatiku akupun di campakkan.
"kita mulai dari awal"kata selanjutnya mengunciku, "baik kita mulai, kenalkan Riska Prameswari, statusku tidak sejalan dengan kenyataanku"meski sakit harus kukatakan tanpa ada yang musti tertutupi lagi.
Senyumannya membuatku makin keki, "Hendrawan Bramantyo, aku duda sempat punya anak satu"Penjelasan menohok berikutnya.
__ADS_1
Aku hanya diam dan mendengar, "kebetulan ada kerjaan di bali selama dua minggu ini, setelahnya kembali ke pusat"Hendrawan mengatakan itu dengan tenang, hanya anggukanku tanda mengerti "baiklah seminggu lagi dia kembali aku masih ada waktu sendiri disini" gumamku berikutnya dalam hati seakan ia juga tahu, "minggu berikutnya aku akan menemanimu" kata kata itu menusukku tanpa sebilah pisau, hanya menatapnya tanpa kata "jadilah wanitaku, kita menikah sabtu depan"Hendrawan mengunciku dengan kenyataan diluar nalar, ambiguku mengunci semua keberanian dan suaraku seakan habis hingga tak kuat bersuara, "lupakan masalalumu, hiduplah bersamaku dan belajarlah mencintaiku, aku menunggu saat itu" Kata kata apa ini membuatku semakin pusing tidak mengerti.
"bersiaplah aku tunggu di depan kita ke jimbaran untuk makan malam"Kembali sebuah perintah bukan permintaa
Apa ini yang namanya takdir ? bertemu sosok misterius ini, entahlah hanya anggukan dan menyiapkan sebuah makan malam dengan span pendek dengan atasan kombinasi bolero, itu membuat nyaman dan tidak formal.
"mari," dengan santai aku keluar "nyonya, phonsel anda bunyi" pelayan rumah yang juga mulai akrab denganku "baik"dan menerima telp dari Vina, "ya Vin,"jawabku "maaf menganggu liburannya mbak, ini ada permintaan sketsa baru dari perusahaan Wijaya,"Vina "hem kapan target akhirnya ?" tanyaku "Lusa,"Vian "baik nanti malam ku kerjakan besok kalian cek di email kantor "perintahku "baik mbak terimakasih"suara Vina diujung penuh bahagia dan percakapan kami berakhir.
"mari Mas, ups maaf Tuan"kataku
__ADS_1