
Bersamaan serangan kudapati, "Au, " dengan bergerak menuruni panggung itu tanpa ia lagi karena ku tinggalkan tanpa kata.
"Mbak," suara keterkejutan sosok adik angkatku "biarkan ada Tuan disana," timpal Roland sepertinya itu percakapan mereka terlihat olehku, "Au," kembali ada gejolak dua kesayanganku disitulah ada yang tengah mensejajarkan tubuhnya dengan perut itu, "sayang baik baik didalam ya Papa disini" seakan pas sudah mendapat apa yang diingin yang semula mengencang kini berangsul mengendur dan sedikit rasa nyaman. itu membuatku lega menahannya.
"anak papa pinter, jagain mama ya untuk papa " dengan akhir kecupan diperutku itu menimbulkan rasa geli yang tak tertahan hingga membuatku sedikit mundur, "ayo pulang," pintanya kemudian membuatku tertawan sebuah tangan yang selama ini mulai kutemukan artinya.
"ayo," seakan tak ingin lagi jawaban "mas, aku sudah terbiasa sendiri"Kataku mungkin pahit tapi itulah kenyataan, tak ingin lagi merasakan pahit masalalu juga kesedihan yang membelengguku karena masalalu yang tak bisa aku hindari.
__ADS_1
Hatiku bimbang lagi kali ini kenapa mesti begini, cinta itu dicintai dan mencintai adalah dua hal yang selalu diinginkan banyak orang, akan tetapi selalu tanggapilah dengan bijak agar tidak kelewat batas.
Mencoba menyikapi secara bijak, agar tidak terlalu sakit hati apabila suatu hari cintaku bertepuk sebelah tangan atau harus bubar di tengah jalan.
Tidak mudah menghadapi semua ini, terkadang memang sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata ada apa dengan hatiku, karena saat aku jatuh cinta, perasaan ku akan terasa campur aduk tak keruan.
Satu jam yang aku nikmati untuk sekedar bersantai menikmati aroma terapi agar ketenangan itu aku dapati, sunggu tidak bisa membuat wajahnya hilang kilasan masalalu itu terulang semuanya tanpa terkecuali, memilih menyudahi dan menggunakan baju transparan menampakkan sebuah benjolan besar diperutku sunggu nampak seperti tujuh bulan lebih padahan masih mau setengah tahun mereka di dalam, memantau perkembangan secara rutin dan menikmati setiap fasenya.
__ADS_1
Rambutku yang panjang ku putuskan sedikit lebih pendek dengan santai ku cepol ke atas kepala dan memamerkan leherku kini mulai terisi lemak yang makin membuat badanku makin berisi di beberapa lekuk tubuhku.
Sepertinya itu jadi hal yang menyenangkan untuknya bukan sesuatu yang bisa mengurangi rasa akan sosok bumil sepertiku.
Akhirnya lelahku menghasilkan sebuah peraduan yang kali ini adalah kasur tempat yang aku rindukan. saat mataku tak lagi ingin fokus menatap kedepan ada siapa ? hanya membiarkan ragaku berangsut menikmati kenikmatan dalam memejamkan mata membiarkan kenikmatan atas lelahku seharian ini.
Begitu nyaman hingga menemukan nikmat malam dalam tidurku melepaskan semua penat dalam lelap, entah mulai kapan pelukan itu ku dapatkan hanya sadar saat hangat itu berbeda, mataku seakan otomatis terbuka untuk melihat apa yang berbeda.
__ADS_1