
"ma kami pulang," kata itu membuatku terkejut dan belum usai keterkejutanku sudah melihat wanita paruh baya begitu cantik meski memasuki waktu senja, "hay sayang, selamat datang dirumah mama"dengan menyentuh pipiku, bukan hanya merona lagi wajahku tapi selayaknya tomat rebus cuman tidak pakai kusut, "hendra begitu dingin apakah ia bsrlaku baik padamu? " pertanyaan itu membuatku otomatis menoleh. berekspresi tidak percaya.
"ma, herdi berangkat dulu" suara itu adalah kejutan berikutnya, "eh dokter mama mau berangkat, kenalan dulukan ini kakak iparmu"Mama memberikan penjelasan makin membuatku ambigu terkunci seakan mati rasa melihat sosok yang aku rindukan berada didepanku, dan betapa sakit saat mengingat itu hanya sakit dan telah berlalu, tapi kenapa harus dia adik iparku, Tuhan tidakkah ini terlalu bercanda, "Herdi sudah telat ma," berjabat tangan dan berlalu tanpa melihatku terlebih dulu sedangkan Ku hanya seonggok daging tak mampu bersuara semuanya beku hanya mengikuti mertuaku dengan kekawatiran sampai kapan ini akupun tidak tahu.
__ADS_1
Sekilas canda tawa mereka membuatku makin sakit, tapi hatiku mengatakan jujurlah sekarang meski kamu mati kemudian, kembali Tuhan memberikan ceritanya tanpa manusia tahu seperti itulah aku, hanya bisa mencoba merencanakan sesuatu Tuhan yang memutuskan.
Seminggu ini tidak ada mas Hendrawan yang ada adalah Herdian, dalam satu rumah dengan pembatas orang tua yaitu mertua, susah sekali menghindar saat pagi bisa mungkin malamnya bertemu dimeja makan dan suamiku keluar kota ijinnya untuk bisnis, aktifitasku masih sama diperusahaan yang membesarkan namaku, seperti yin dan yang yang saling melengkapi dan berpelukan disisi karirku kebahagiaan itu terpancar dengan cerah sedangkan dirumah sisi gelap itu menghantuiku tidak lagi membelelngku kini telah mengunciku.
__ADS_1
Belum usai segala rasa yang menjebakku dalam kenyataan pahit, kini telah hadir diantara kami sosok Herndrawan di ujung pintu tanpa kata hanya tatapan tajam menghujaniku, diluar nalar Herdi mengatakan "inikah kakak iparku, yang hampir menggodaku" sungguh keterlaluan menfitnahku begitu kejam, saat kungkungan itu kendur aku berlari melewati pintu dengan hati hancur tidak lagi retak tapi kini hancur berantakan, tidak ingin lagi cinta juga tidak percaya cinta, sungguh suamiku memelukku saat langkahku terhenti di kamar kami yang berhadapan.
"maafkan aku sayang maafkan aku"kata kata itu seperti penyejuk jiwaku yang kosong, penuh luka semua tekanan atas nama masalalu menghujaniku menindasku intimidasi dalam benakku makin menjadi mengingat valentine days itu, pernikahan siriku juga malam nikmat berubah kiamat saat talak di kumandangkan dengan indahnya dengan nyata padahal peluh yang tersisa belum juga kering, hari berikutnya begitu berat jika tak ingat laknat pencipta akan dosa mengakhiri hidup pasti aku lakukan saat itu juga, tertatih melangkah dengan janin yang tidak ku ketahui hingga aku kehilangannya. Tangiskupun tidak bisa keluar lagi karena terlampau sakit.
__ADS_1