
Usai menikmati sarapan juga secangkir teh yang kusiapkan membuatnya "tehnya enak pas sayang, lain kali juga seperti ini" pintanya mengakhiri kebersamaan dirumah ini. Saat beranjak dan mengatakan sebuah ajakan dan disitulah kembali bimbang memberiku sebuah dilema akan kenyataan seakan takut untuk bangun dari dunia mimpi atau bertahan dengan khayalan ini.
Perjalanan bukan seperti biasa sebuah pesawat pribadi, tak hayal membuatku makin melambung antara keyakinan atau hanya ilusi, kembali hatiku terobang ambing mencari jawaban atas rasa yang tersimpan rapi, sampai di dalam tak lama sudah mengambang diantara awan dan sebuah tarikan kembali membuatku sadar inilah kenyataan, saat menyakini ini nyata dan harus kembali Menerima sebuah hujaman cinta yang berakhir dengan nikmat kebersamaan begitulah hidupku kini seakan penuh penyatuan dalam ikatan cinta berbalut pernikahan.
Rasa lelah membawaku dalam pelukan hingga lelap berbalut keringat juga segala rasa puas ber alas dilema bagaimana nanti. hanya memilih memejamkan mata sembari meyakinkan diri inilah rahasia ilahi atas sebuah takdir atas namaku.
__ADS_1
Sampai ditujuan pintu ruang khusus itu terdengar ketukan, kudapatkan informasi yang mengatakan kita telah sampai disebuah kata tujuan kami.
Berbuah goncangan penuh kepanikan rasa malu juga menantiku, "mas, bangunlah sudah sampai" pintaku dengan menggeliat menikmati olahraga siang ini, dan memberikan segala keperluan yang aku butuhkan tak lagi sempat berbersih diri hanya merapikan kembali baju yang berserakan menggulung rambut panjangku karena gerah seakan lupa akan tanda stempel alami itu telah melekat di berbagai penjuru tubuhku.
Disitulah saat keluar mata banyak memandang tidak terkecuali tidak ada keraguan sampai kaca memantulkan leher jenjangku, mas apa yang aku harus lakukan pandangan itu yang coba kusampaikan untuk mas Hendrawan, hanya senyuman puas melihat kepanikanku, rambut yang semula terikat diatas kini tengah sebagian dijatuhkan ke bawah seolah menjadikannya syal.
__ADS_1
"wanitaku harusnya tak perlu malu, harus kuat" kata selanjutnya dibisikkan manisdan diakhiri dengan kecupan di ujung dahiku.
Memegang lengan gagah itu meski ada raguku, menapati keluar bandara begitu banyak mata memandang tentu bukan aku yang utama sosok Hendrawanlah yang diincar para wanita sosialita itu, ingin menarik diri membiarkan suami berjalan tanpa sosokku yang biasa saja meski boleh dibilang tubuhku juga menawan masuk kategori porposional sebagai wanita.
Saat rasaku tak lagi nyaman, sebuah sentuhan disela sela tanganku yang terselip antara lengan dengan remasan kasih sayang memberiku tanda aku ada untuknya bukan yang lain, begitulah seolah semua yang aku pikirkan ia tahu dengan benar, hingga perjalanan kamipun masih saling berdekatan karena lelahku mendapatkan serangan bertubi tubi hampir satu minggu ini membuatku sedikit lelah bersandar lebih nyaman pastinya toh ini suamiku bukan orang lain. Hampir satu jam sampai disebuah rumah hampir sama seperti di Bali pelatarannya luas juga kelihatan menarik hati, sempat memandangnya sebentar "mas ini rumah siapa ? tanyaku ingin tahu
__ADS_1
"masuklah nanti pasti tahu" Jawaban yang membuatku terpaku, bisa juga ini istri pertama menunggu didalam tapikan sudah duda, haduh pikiranku kalut "sayang ayo turun" pinta mas Hendrawan dengan tenangnya.
Apa yang bisa kulakukan kecuali anggukan dan mengikutinya dengan menempekkan tanhanku diposisi semula antara lengan juga pinggang dengan dada yg begitu bidang menawan.