
Betapa terkejutnya Hendrawan tengah memelukku, begitu menawan dalam kuncianku, aroma ini yang aku rindukan melihatnya nampak nyata didepan mataku, entah dimana kendaliku membuatku menyentuh mata dengan bulu lembut lentik itu hingga empunya terusik, "semua milikmu sayang tanpa terkecuali" dengan tetap terpejam kata itu memalingkan rinduku, memilih berlalu pergi menyegarkan diri dan mengunci rapat kamar mandi.
Kenapa ini kepalaku seakan terobang ambing di atas perahu perutku sakit seakan ada demonstrasi, gayung yang sedianya ingin ku guyur kini tengah jatuh saat tanganku menopang rasa pusingku, kunci yang kembali kuputar agar bisa memutar daun pintu untuk meminta pertolongan tak bisa lagi kulakukan karena tubuhku telah lebih dulu jatuh merosot kebawah, dan kegaduhan itu dapat kudengar di akhir kesadaranku.
__ADS_1
Entahlah ini malam atau siang yang pasti tubuhku terasa sakit, ada Beberapa memar mungkin, dan di lututku membiru saat ku lihat dan ini rumah sakit, infus telah mengantung pergerakan didalam mulai terasa ringan tidak menyakitkan sedangkan posisiku tengah berbaring dengan balutan baju pasien, sosok sembab itu disampingku mungkin ia lelah, "mas Hen, aku haus" bisikku tanpa merubah posisiku " sayang, bagaimana ? perlu apa ?" seakan mengumpulkan kenyataan atas kenyakinannya kini.
"minum, kami haus"pintaku lagi tanpa jeda langsung memberikannya segelas air putih dengan lahab akupun meminumnya. kini didalam kembali beraksi dan itu menyakitkan karena ngilu sekali "Au, sakit sekali"ucapku "Dokter, dokter" suamiku keluar sembari berlari padahal ada tombol disana sebagai penghubung ke ruang jaga, dengan sigap kembali sudah dengan membawa banyak orang, dan serentetan pemeriksaan dilakukan, kini syukur itu diucapkan dokter "Syukurlah Tuan, mereka kembali baik baik saja semoga menjadikan normal dan baik-baik saja "penjelasan yang aku tak tahu cerita sebelumnya "Bunda sebaiknya kurangi pergerakan yang kurang perlu dulu, membuat semua setabil"dan memberikan sebuah suntikan di infusku.
__ADS_1
Jadi ratu tempat tidur, hanya makan minum dan tidak banyak pergerakan berarti meski penuh fasilitas, disini pasti bosan, pemeriksaan pagi ini ada yang berbeda saat pemeriksaan mertua datang juga sosok Pak Wijaya yang hampir susah di cari bahkan ditemu banyak orang.
"jaga kondisimu, juga cucuku"dengan mengelus pucuk kepalaku dari sisi lain ruangan khusus pemeriksaan kandungan yang lengkap di satu kamar berlogo vvip, hanya anggukan juga air mataku tanpa permisi keluar membuat ayah mertuaku panik "sayang apakah lelaki ini menyakitimu" nada yang halus itu dengan sedikit penekanan dan aura intimidasi serta gerakan memutar telinga mas Hendra, membuatku tertawa melihatnya tersakiti tapi singkat sesaat kemudian perutku mengalami pergerakan hebat karena bersamaan keduanya unjuk gigi "Au, " aku mengaduh "hallo jagoan kakek juga putri kesayangan, kakek menyanyangi kalian, baik baik ya disitu kasihan bundamu" kata itu menyejukkan pergerakan itu berangsur menurun tidak lagi menonjol di bagian sisi perutku.
__ADS_1
Gambar jelas nampak jenis kelamin itu, "benar ini sepasang Tuan, sepertinya yang aktif yang cewek "penjelasan dokter, anggukan kami dan diakhiri sebuah resep kembali untuk kesehatan kami.
Canda tawa kami pecah saat papa mertua menceritakan kelahiran putra pertamanya dan disusul oleh Herdian yang kedua karena salah perhitungan juga kurang informasi jadi jaraknya berdekatan hanya selisih satu tahunan.
__ADS_1