
Dewa baru saja terjaga dari tidurnya. Meski belum sepenuhnya sadar. Waktu menunjukkan pukul 12.00. Kepalanya terasa berat, tentu karena semalaman ia tidak tidur, ditambah ia yang terus memikirkan Mala.
Tangannya meraba ponsel yang ada di atas nakas dengan mata setengah terpejam. Diraihnya ponsel tersebut dan ia langsung memeriksanya. Matanya membulat saat melihat pesan masuk dari Mala yang beruntun. Ia terpaku sambil terduduk. Saat itu perlahan matanya kembali tertutup dan ia menaruh lagi ponsel itu.
"Mala, maafin Kakak. Tapi sepertinya lebih baik Kakak tidak balas pesan kamu."
Mala Sayang : Kak Dewa, Ayah dan Bunda bilang aku harus ikut ke Korea. Aku nggak mau!
Mala Sayang : Kakak kenapa sih belum On Juga! Kata Bunda ini semua atas persetujuan kakak, aku nggak mau Kak!
Mala Sayang : Aku mau di Bandung sama Kakak! Titik!
Mala Sayang : Kalau kakak nggak balas chat ku, aku marah, aku akan pergi ke Korea beneran!
Dewa menghembuskan napasnya kasar, ingin rasanya ia membanting ponsel itu sekarang juga. Dunia Dewa yang ceria diwarnai oleh tingkah Mala sekarang akan berubah tanpa kehadiran Mala lagi nantinya. Perasaan kacau berkecamuk dalam dirinya, ingin memeluk Mala-nya sekarang, ingin bersenda gurau bahkan menciumnya. Tapi, setelah itu pasti akan lebih berat lagi untuk Mala dan Dewa menjalani hari-hari ke depannya.
Dia berpikir lebih baik membiasakan diri dari sekarang. Bersikap seolah Mala sudah tidak ada di sisinya lagi. Walaupun ia tahu resikonya, gadis kecilnya itu pasti akan membencinya.
"Mala, kakak sayang kamu. Tapi, kakak juga mau kamu memiliki masa depan yang cerah. Benar kata Daddy, kalau kakak sayang, kakak nggak boleh menghalangi kamu meraih masa depan kamu." Dewa mengusap wajahnya sambil terus menggertakkan giginya. "Aaarrrggghhhh!!!"
Dikamarnya Mala masih terus mengurung diri. Dia bahkan tidak mau keluar untuk sekedar makan siang. Bunda dan Ayahnya sampai sedih dan cemas, karena Mala tidak mau merespon sama sekali. Mala melihat chat yang tadi dia kirimkan pada Dewa.
"Udah dibaca, tapi kenapa Kak Dewa offline. Bahkan terakhir dilihat pun sejam yang lalu. Nomornya mati sekarang. Apa dia nggak mau ngomong sama aku lagi? Dia buang aku? Dia nggak mau lagi chat sama aku?" ucap Mala sambil meneteskan air mata. Ia melihat wallpaper di ponselnya, terpajang foto Dewa yang sedang mencium pipinya.
"Mala nggak mau jauh dari Kakak, tapi kakak malah gini, cuekin Mala." Hatinya hancur dan tidak menyangka. Inikah rasanya jika di cuekin cowok yang dia sayang? Jujur, baru kali ini ia merasa hatinya patah, inikah yang dinamakan patah hati? Apakah Dewa yang telah mematahkan hati Mala?
Dewa turun ke bawah untuk memenuhi panggilan Nayra barusan. Meski sebenarnya ia tidak nafsu untuk makan sekarang. Saat itu Dewa kaget, karena bunda Mala tiba-tiba menunggu dia di ruang tamu.
"Tante, ada apa?" tanya Dewa pada bunda Mala.
"Dewa. Mala nggak mau keluar kamar sejak pagi tadi. Dia juga nggak merespon apapun. Tante dan Om cemas banget, Dewa. Mungkin kalau kamu yang bujuk, dia mau respon."
Saat itu Dewa benar-benar khawatir. Ia sudah menduganya, pasti Mala tidak akan menerimanya begitu saja. Menerima semua keputusan ini, menerima semua keadaan sekarang.
"Tapi Tante, kalau Dewa bujuk Mala. Pasti akan semakin sulit ke depannya. Mala nggak akan bisa jauh dari Dewa. Karena itu sejak tadi Dewa matikan ponsel dan lain-lain agar Mala nggak bisa menghubungi Dewa," tuturnya pada ibunda Mala.
"Astaga. Pantesan Mala nggak mau respon. Dia pasti sedih, jangan gitu Dewa. Kasihan Mala, kalau memang Mala nggak mau ke Korea. Tante nggak apa-apa kok."
Dewa menggeleng. "Nantinya Mala akan terbiasa kok. Gini aja, biar Dewa tulis surat buat Mala ya."
__ADS_1
"Surat?"
"Iya, supaya Mala ngerti. Cuma itu yang bisa Dewa lakukan sekarang, Tante."
Ibunda Mala tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti apa kata Dewa. Putrinya itu memang seperti sudah ketergantungan dengan sosok Dewa melebihi siapapun.
...Mala Sayang......
...Kak Dewa minta maaf, karena nggak membalas chat kamu ya. Tapi, kak Dewa tahu kamu sedih, kecewa, marah, kesal. Kamu boleh kok lampiaskan itu ke Kakak dengan cara membenci kakak sekalipun. Tapi, Mala harus tahu, kalau kakak sayang Mala, karena itu kakak merasa tidak ingin menghalangi masa depan Mala....
...Di Korea, Mala bisa mendapatkan pendidikan yang bagus, Mala bisa ambil jurusan musik atau seni seusai dengan kesukaan Mala. Dan yang terpenting disana Mala dekat dengan Ayah dan Bunda. Mala harus nurut apa kata Ayah Bunda, karena Mala masih sepenuhnya milik mereka, bukan milik Kakak....
...Tapi, kakak janji selama Mala di sana, Kakak akan selalu menunggu Mala pulang dengan setia, nggak akan mencari yang lain, selamanya hanya Mala. Kecuali kalau Mala yang meninggalkan kakak, tapi itupun kakak lebih memilih sendirian....
...Mala Sayang, jangan menyiksa diri sendiri ya. Mala harus janji sama kak Dewa, Mala nggak boleh mogok makan, apalagi kalau mengabaikan ayah dan bunda. Kak Dewa nggak suka Mala yang begitu, Mala nya Kakak itu kan cantik, riang, penyayang. Pokoknya Mala yang terbaik. Jangan sedih ya. Kakak bukan sedang mengabaikan Mala, hanya aja sebaiknya kita jaga jarak mulai sekarang. Demi kebaikan kamu juga. Ingat, perasaan Mala sama seperti Kakak. Kalau Mala tersiksa, kakak akan merasakan dua kali lipatnya, bahkan lebih. Untuk itu, Mala jangan sedih ya...
...Kakak selalu cinta Mala....
...***...
Mala membaca surat itu saat ibundanya menyelipkan kertas itu dibawah pintu kamarnya. Air matanya berderai bahkan ia berulang kali berteriak, meraung seperti anak kecil. Jadi apa ini? Dewa ingin menjauhinya? Mustahil! Mala mustahil dapat menerimanya.
"Mala nggak mau berjauhan, di cuekin sama kakak. Mala benci kak Dewa!"
Dewa, adalah alasan Mala tersenyum.
Tapi sekarang? Mala tidak punya alasan lain.
...***...
"Woy bocah sok kecakepan!"
"Apa sih kamu kok gitu. Emang Mala salah apa sama kamu, Dira?"
Dira adalah salah satu teman Mala di SMP yang paling ditakuti. Mala seringkali mendapatkan bullyan oleh teman-teman sekelasnya. Salah satunya yang paling sering mem-bully-nya adalah Dira Antika.
"Mala kamu ikut aku!"
"Nggak! Mala nggak mau ikut Dira!"
__ADS_1
"Nggak ada penolakan!"
Dira menarik paksa tangan Mala membawanya ke belakang sekolah. Kemudian Dira mendorong Mala sampai Mala terjatuh dan lututnya berdarah.
"Dira! Mala nggak akan maafin Dira ya. Dira kali ini keterlaluan! Apa salah Mala sama Dira sih?"
Dira tertawa bersama dua temannya yang datang menyusul.
"Kamu mau tau apa salah kamu?"
Dira mencengkeram cukup kuat kedua pipi Mala. "Mau tau hah!"
"Lepasin!!!" Mala mendorong Dira.
"Berani kamu sama aku, Mala!"
"Dira duluan yang nyakitin pipi Mala! Liat nih kuku Dira tajem tau!"
Pipi Mala sampai lecet dan berdarah karena terkena cengkeraman kuku Dira. Dia berdiri meski lututnya terasa perih karena terkena benturan tadi.
"Mala kamu tuh selalu sok cantik ya! Sekarang kamu mau jadi sok pemberani juga hah!"
"Mala bukan anak yang penakut! Dira yang salah mengerti Mala! Mala nggak akan diam kalau Mala ditindas! Kak Jesslyn selalu ngalah kalau ditindas dan akhirnya Kak Jesslyn disakitin! Dira ngerti nggak! Sekarang Mala maafin Dira, tapi jangan ganggu Mala lagi!!"
Mala pergi meninggalkan Dira yang terlihat kesal. Dia menangis sendirian di dalam toilet dalam keadaan lutut yang terluka. Dia tidak mau ke UKS karena dia malu kalau ada yang melihat dia menangis. Padahal Mala menangis bukan karena Dira, tapi karena dia teringat Kak Jesslyn yang juga menjadi korban perundungan.
Sepulang sekolah Mala berjalan pincang membuat Dewa yang sedang membuang sampah di depan rumah sontak melempar bungkusan di tangannya. "Astaga Mala kaki kamu kenapa?"
"Kak Dewa?" Mala langsung berkaca-kaca. Dia meleleh seketika sambil memeluk Dewa. "Kak Dewa..."
"Mala kamu kenapa? Siapa yang nyakitin kamu hah?"
"Kak Dewa boleh gendong Mala ke rumah nggak? Mala jalan dari sekolah karena nggak mau di jemput sama Pak Udin."
"Ya Tuhan, Mala kenapa malah jalan sih? Ya ampun Mala... Pipi kamu kenapa? ini siapa yang cakar kamu?"
Mala terdiam.
"Ya udah Kakak gendong kamu."
__ADS_1
Dewa benar-benar menggendong Mala lalu mengobati lutut Mala yang terluka.
Kenangan itu muncul bersama kesedihan Mala sekarang. "Kak Dewa yang Mala kenal nggak mungkin kan ninggalin Mala?"