
Tidakkah Mala menyadari tindakannya kali ini sudah sangat membahayakan? Dia mencium bibir Dewa yang setengah mati menahan dirinya sejak tadi.
Dewa kali ini tidak akan menahan lagi. Dia menindih tubuh Mala yang kini tepat berada di bawahnya. Pagutan mereka belum terlepas. Mala makin menekan ciuman tersebut.
Lalu keduanya saling memandang. Mala terlihat sangat agresif, hal itu membuat Dewa terheran. "Are you okay, Dear?"
Mala mengangguk. "Kalau aku hamil, Kakak pasti akan diminta menikahi aku. Iyakan?"
Sontak Dewa melotot ke arah Mala sambil menjauhi gadis itu dengan mendorong tubuhnya. "Apa kamu bilang?"
"Mala mau nikah sama Kak Dewa. Itu satu-satunya cara kan?"
Sumpah demi apapun juga. Dewa tidak menyangka Mala akan berpikir hal gila seperti itu. "Mala. Kamu kok bisa kepikiran hal gila itu sih?"
"Kenapa? Apa Kakak nggak mau?"
Dewa menggeleng cepat. "Tentu enggak, Mala. Bukan gini caranya. Kakak mau menyentuh kamu, memiliki kamu. Tapi nggak begitu caranya, Mala. Please jangan gini, Mala yang Kakak kenal nggak begini."
Gadis belia itu hanya menundukkan kepalanya. Ujung matanya terasa perih dengan tubuh yang gemetaran. Apa yang dia lakukan tadi membutuhkan keberanian yang besar. Menggoda Dewa lebih dulu, tentu bukan hal yang biasa Mala lakukan. Mala takut, dia sangat ketakutan. Tapi, dia mencintai Dewa-nya segila ini.
Dewa memijat keningnya sambil menyesali setiap tindakannya malam ini. Dia salah membawa Mala ke apartemennya. Ternyata Mala tidak sepolos yang dia kenal? Mungkinkah?
Mala masih tertunduk. Dewa melihat gadis di sisinya sedang sesenggukan. Sepertinya Mala menangis dan ketakutan, terlihat tubuhnya gemetaran dengan jemari yang tidak bisa diam dimainkan Mala sejak tadi.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" tanya Dewa sambil mendekati Mala.
"Jangan deket-deket Mala, Kak."
"Mala, kamu jangan gini. Kakak jadi ngerasa sedih liatnya." Dewa tetap mendekat meski Mala melarangnya.
"Mala nggak mau jauh dari Kak Dewa!" Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Tentu Dewa kaget, dia tidak menyangka akan jadi seperti ini.
"Sayang, Kakak nggak akan jauhin Mala. Kak Dewa janji." Seraya memeluk tubuh Mala yang gemetaran. Mala masih menangis tersedu membuat Dewa merasa bersalah. "Maaf kalau tadi Kakak dorong tubuh kamu, itu reflek, Sayang."
Mala menggeleng. "Bukan salah Kakak. Tadi Mala gemetar, Mala belum pernah menggoda orang. Mala takut, Kak."
Ternyata Mala-nya bukan gadis penggoda, dia masih sama polosnya. Hanya saja Mala tidak ingin kehilangan Dewa, tidak ingin dijauhi dan menjauh dari Dewa.
"Mala nggak menggoda Kakak. Tapi, tanpa melakukan apapun, Kakak akan selalu tergoda oleh Mala. Hanya saja, Kakak nggak mungkin melakukan hal itu. Terlebih sampai bikin kamu hamil. Kakak nggak mau, ini belum waktunya, Sayang."
Nirmala sebentar lagi genap berusia 17 tahun. Tentu dia tidak sepolos itu, dia tahu kalau dia hamil maka orang tuanya akan meminta pertanggung jawaban Dewa. Hanya saja dia tidak ingat, kalau Dewa selamanya akan di cap sebagai pria yang sudah merusak masa depannya. Mala benar-benar lupa akan hal itu.
"Mala paham kan? Kakak sayang Mala, mungkin Kakak suka nekat sama Mala, menyentuh Mala. Tapi, Kakak nggak sejahat itu sampai menghamili kamu sebelum waktunya. Enggak, Mala." Dewa menyentuh kedua pipi Mala sambil mengecup kening gadis itu.
"Maafin Mala ya, Kak. Tapi, Mala nggak mau ke Korea. Mala nggak mau kuliah di sana. Mala mau kuliah di Bandung sama Kakak." Kedua mata Mala berkilauan. Dewa mengecup kelopak Mata Mala yang terpejam, bergantian.
__ADS_1
"Kakak akan usahakan yang terbaik. Tapi, Kakak harap kamu jangan berpikiran pintas kayak tadi Mala. Kamu masih muda, kamu harus mikirin diri kamu sendiri juga. Kakak mau kamu jadi gadis yang memiliki masa depan cerah. Kakak nggak mau jadi penghalang kesuksesan kamu di masa depan."
Mala masih menggeleng. "Masa depan Mala itu cuma Kakak. Nggak ada yang lain."
Dewa seolah terkunci. Tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Mala juga masa depan Kakak. Tapi, Kakak lebih suka kalau Mala semangat menggapai cita-cita Mala, bukan menyerah gini."
"Siapa yang nyerah? Ini Mala lagi berjuang. Tau nggak sih apa cita-cita Mala?"
"Emangnya apa?"
"Jadi istri Kak Dewa."
Seketika itu juga Dewa bergeming dan membisu. Lalu, dia harus bilang apa pada Mala? Haruskah dia mengatakan pada orang tua Mala, bahwa Mala tidak ingin ke Korea? Tapi dia sudah berjanji pada Max untuk membiarkan Mala ke Korea dan kuliah di sana.
"Kakak nggak mau nikah sama Mala, ya?" tanya Mala sambil menyeka air matanya yang menggenang di matanya.
Dewa meraih Mala lalu memeluknya. "Nggak ada yang lebih Kakak inginkan selain ingin memiliki kamu seutuhnya. Kakak pengen jaga kamu, selalu ada di samping kamu. Tapi, Kakak sadar kamu berhak untuk kuliah dulu, seenggaknya sampai kamu menyelesaikan S1. Kamu ngerti kan, Sayang?"
"Iya, Mala ngerti. Tapi kuliah kan nggak harus di Korea?"
Dewa menghela napas panjang. "Mala siap jauh dari ayah dan bunda?"
Gadis itu terdiam sambil berpikir. Dia ingin bersama ayah bundanya. Tapi, berjauhan dari Dewa, rasanya sangat menyedihkan. Membayangkannya saja Mala tidak sanggup.
Dewa mengusap rambut Mala, dia paham bahwa itu adalah pertanyaan yang sulit. "Kamu tidur ya. Jangan di pikirin. Nanti pasti akan ada jalannya, kalau kamu pikirin terus nanti kamu sakit, Sayang."
Mala mengangguk tipis. "Iya, Kak. Maafin sikap Mala ya."
"Nggak usah minta maaf, sebenarnya tadi Kakak malah seneng. Tapi, ngeri juga kalau kelepasan Sayang. Bisa bahaya. Emang kamu mau kalau hamil di usia muda?"
"Ih, Mala nggak mau." Gadis itu bergidik sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Terus tadi kenapa kamu bilang gitu? Kakak sampe kaget. Nggak nyangka kamu bisa ngomong gitu sama Kakak," ujar Dewa sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kakak sih siap, tapi yakin kamu udah siap?"
Mala memegangi pipinya lalu menjauhi Dewa, ia langsung menaiki ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. "Aku mau bobo aja."
Dewa terkekeh melihat tingkah Mala. "Astaga, Mala. Tahan Dewa, lo beneran lagi di uji kalau gini, untung masih bisa nahan."
Mala terkikik dari balik selimut. Sebenarnya ia juga sangat gugup dan spontan melakukan hal itu. Melihat Dewa bersamanya, dia tidak ingin nantinya harus berjauhan dari orang yang paling ia sayangi.
"Kamu udah tidur?" tanya Dewa sambil mendekati Mala yang masih menutupi dirinya dengan selimut tebal.
"Belum. Tapi Mala malu Kak."
__ADS_1
Dewa menahan tawanya. Sebenarnya Mala sangat lucu dan menggemaskan. Meski Dewa juga sempat terkejut ketika Mala berusaha menggodanya lebih dulu.
"Mau Kakak temenin?"
Mala membuka cepat selimutnya. "Bolehkah?"
"Boleh. Kakak temenin sampai kamu tidur, oke?"
Secepatnya Mala menggeser tubuhnya lalu membiarkan Dewa tidur di sisinya.
"Sini Sayang. Kakak cuma nemenin kamu tidur. Nggak akan macam-macam." Dewa meminta Mala tidur di dekatnya, tepat di pelukannya.
"Kakak mau macam-macam juga nggak apa-apa, tapi apa Kakak berani?" tanya Mala yang langsung melekatkan tubuhnya ke pelukan Dewa.
"Lebih dari berani. Tapi, Kakak nggak mau kalau sekarang. Nanti aja kalau udah pas waktunya. Asal Mala jangan kegenitan dengan cowok lain."
Mala terkekeh sambil menepuk dada Dewa. "Aku mana pernah kegenitan sih!"
"Gilang itu? Dia keliatan banget suka sama kamu."
"Tapi kan Mala sukanya sama Kakak."
"Sayang. Kakak nggak suka kamu terlalu ramah sama Gilang."
"Terus? Masa aku marah-marah sih sama Gilang. Kasian dong, dia kan nggak salah apa-apa," jawab Mala sambil mendongak menatap Dewa.
Dewa menggeleng. "Bukan marah-marah, Sayangku." Sambil mencubit hidung Mala. "Maksudnya tuh kamu jangan terlalu lembut sama Gilang."
Mala tersenyum. "Mala bolehnya lembut sama Kakak aja gitu?" seringainya. "Kakak cemburu ya?"
Tentu saja cemburu, batin Dewa.
Dewa mengelus pipi Mala. Lagi-lagi Mala tersenyum dengan sangat manis. "Mala sayang Kakak."
Deg
Bukan hanya berdebar, tapi kali ini Dewa merasakan hawa panas yang kian menggelenyar. "Kakak juga sayang Mala."
Keduanya saling mendekat, hingga hidung mereka saling bersentuhan. Dorongan itu semakin kuat, hingga jemari Dewa menyentuh kedua pipi Mala lalu mulai menyentuh bibir Mala lagi dengan bibirnya.
Napas keduanya semakin memburu. Mala dapat melihat tatapan Dewa yang mulai menggelap. Ciuman Dewa turun ke leher Mala hingga sentuhan itu membuat sekujur tubuh Mala bereaksi tidak biasa. Mala bisa merasakan sentuhan Dewa kali ini begitu mendominasi. "Kak."
Dewa menghentikan aktifitasnya lalu mengusap kasar wajahnya. "Maafin Kakak," ucapnya menyesali perbuatannya. Dia melihat beberapa tanda merah di leher Mala akibat ciumannya tadi.
Mala hanya mengangguk. "Mala nggak apa-apa. Tapi, Mala mau tidur ya."
__ADS_1
"Iya, Mala tidur ya. Kakak temenin sampai Mala tidur," ucap Dewa sambil menutupi tubuh Mala dengan selimut. "Selamat tidur, Sayang."
Mala tersenyum lalu mulai menutup matanya, masih dalam pelukan Dewa. Saat itu Dewa berusaha untuk tetap tenang, tidak mengikuti keinginan kotornya untuk berbuat yang tidak-tidak dengan Mala. Sungguh itu adalah ujian terbesar buat Dewa.