Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
11 : Hubungan Tanpa Status (2) : Cinta Matinya Mala


__ADS_3

...Jika aku tahu menjauhinya akan sesakit ini, aku tidak akan melakukannya. Dewa ~...


Mala berjalan cepat menaiki anak tangga rumahnya. Bunda dan Ayahnya tidak ada di rumah. Saat itu Mala langsung masuk ke kamar sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Sesak, sakit, kepalanya pusing sekarang.


"Kamu nggak boleh nangis, Mala."


Gadis itu berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis. Tapi, tetap saja ia menangis. Saat itu ponselnya berdering, ia malas melihat siapa yang meneleponnya. Pasti itu bukan Dewa.


"Mala! Lupakan Dewa!" sentaknya sambil meraih ponsel itu. "Cukup Mala! Siapa juga yang nunggu telpon dari dia!" Mala menghapus air matanya, lalu menatap layar ponselnya.


"Kak Dewa!"


Kejadian saat di kampus Dewa.


"Jadi lo berusaha jauhin Mala gitu, Wa?" tanya Rosy, teman dekatnya.


"Ya, setidaknya biarkan Mala fokus dengan pendidikannya dulu. Lagi pula dia dan gue ke depannya bakalan berjauhan. Harus terbiasa," jawab Dewa lesu.


"Menurut gue nih, ya, sebaiknya lo jangan bikin dia marah. Dengan lo pura-pura deket sama cewek lain itu malah bikin dia benci lo tahu, Wa."


"Cuma itu satu-satunya cara, Ros."


"Kenapa lo mikir gitu?"


"Gue tahu banget watak Mala. Kalau cuma kata-kata tanpa tindakan mana dia percaya. Dia nggak akan jauhin gue kalau gue nggak berusaha bikin dia jauh."


Rosy menghela napas panjang. "Ya udah, kalau itu mau lo. Gue bantu."


"Kak Dewa? Kenapa dia nelpon? Bukannya dia bilang nggak akan hubungi aku lagi?" ucap Mala yang terkejut bukan main saat melihat layar ponselnya bertuliskan nama Dewa. "My lovely Dewa" kontak nama yang belum berganti di daftar telepon miliknya.


Mala menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia menerima panggilan itu atau tidak? Ingin sekali ia segera menggeser layar ponsel itu. Tapi, ia mengurungkan niatnya, Mala memilih membiarkannya tetap berdering.


"Buat apa di angkat, paling dia hanya tidak sengaja tekan." Mala bergumam.


"Kenapa dia nggak terima sih? Jangan-jangan bener. Jadi Mala udah punya gebetan baru? ****! Dia nggak tahu apa, gue susah payah berusaha nahan rasa sakit jalan bareng Rosy cuma pengen bikin dia menjauhi gue. Tapi, nggak gini juga kali. Dia malah jalan sama cowok lain? Secepat itukah Mala?"


Dewa tidak berpikir cara yang dia lakukan pun sama. Berjalan dengan gadis lain, meski Rosy adalah teman dekatnya. Tetap saja, bahkan dari awal harusnya Dewa sudah tahu, kalau Mala paling sensitif untuk masalah seperti itu. Mala adalah gadis yang pencemburu berat. Begitu pun dengannya. Mereka sama-sama pencemburu.


"Mala ayo dong terima telepon Kakak. Kamu segitunya kah?" gumam Dewa masih mencoba melakukan panggilan terhadap Mala. "Sial! Dia nggak terima telpon gue. Apa gue samperin ke rumahnya? Mumpung sepi."


Di kamarnya Mala terus melirik layar ponselnya. Sudah tiga kali panggilan dari Dewa dia dia abaikan. Apakah mungkin salah tekan sampai tiga kali? Batin Mala.


"Tapi buat apa juga dia telpon Mala. Bukannya dia mau menjauhi Mala?" ucapnya masih tidak mengerti, ia terus bertanya-tanya sendirian. "Terserah, Mala udah nggak mau ngomong sama Kak Dewa lagi. Dia udah nyakitin Mala."


Mala memilih mendiamkan ponselnya, ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dewa sudah berada di depan pintu rumah Mala. Ia memutuskan untuk menemui Mala secara langsung. Tidak tahan jika mengingat lagi tingkah Mala yang manis tadi terhadap teman lelakinya. Entah siapa namanya, Dewa tidak tahu. Yang jelas dia merasa marah, padahal bukankah ini bagian dari rencananya? Ia berhasil membuat Mala menjauhinya, bahkan mengabaikannya.


Tak perlu mengetuk pintu. Karena dia tahu di dalam rumah Mala sedang tidak ada siapapun. Asisten rumah tangga Mala sedang pulang kampung. Sedangkan bunda dan ayah Mala pergi bekerja dan pulang malam hari.


Dewa membuka pintu rumah Mala, lalu menutupnya kembali. Ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Mala. Rasanya belum lama dia masuk ke dalam kamar Mala, bahkan menemani Mala untuk tidur kemarin. Sekarang, apakah Mala masih mau berbicara dengannya?


Dewa menghentikan kakinya. Untuk apa dia di sini? Bukankah seharusnya dia membiarkan Mala sendiri? Kalau begini, semuanya akan semakin sulit untuk Mala nantinya. Dewa mengusap kasar wajahnya, ia benar-benar bodoh dan kehilangan akal sehatnya. Rasa cemburunya membuat dia tak tahan, ingin segera merebut Mala-nya kembali.


"Lo nggak boleh gini Wa. Lo mendingan balik sekarang." Dewa memutuskan untuk berbalik dan berjalan keluar dari rumah Mala. Tapi langkah kakinya terhenti saat mendengar suara langkah kaki lain di belakangnya.


"Kak Dewa."


"Mala?" ucapnya pelan begitu mendengar suara pelan Mala menyebut namanya.


Dewa pun berbalik. "Mala." Ternyata Mala sudah berdiri di hadapannya. Masih mengenakan jubah mandinya, dengan keadaan rambut yang setengah basah.


"Mau kemana?" tanya Mala dengan mata berkaca-kaca.


Dewa bergeming di posisinya. Tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Dia di sini untuk apa? Padahal Dewa bermaksud pulang dan mengurungkan niatnya menemui Mala.


"Kakak cuma... Tadi sekedar mau ngecek... Em..." ucapnya terbata-bata sambil menggaruk tengkuk.


"Kakak mau bicara dengan Mala?"


Dewa lagi-lagi terdiam. Dia memang ingin berbicara dengan Mala. Tapi sekarang mendadak dia bingung harus melakukan apa.


"Kenapa diam?" tanya Mala sambil berjalan beberapa langkah, saat ini keduanya hanya berjarak satu meter saja.

__ADS_1


"Kakak buat apa telpon aku? Apa tadi salah tekan nomor?"


Pertanyaan Mala itu sungguh konyol. Sejak kapan Dewa pernah salah tekan nomor.


"Enggak, Kakak memang mau telepon kamu."


Mala menyentuh bawah matanya dengan jemarinya. Air matanya hampir saja meleleh, tapi ia berusaha menahannya sekuat tenaga. "Buat apa?"


"Mau tanya kabar Mala." Dewa menjawabnya asal. "Mala apa kabar?"


Mala tersenyum kecut. "Kabar Mala?"


Dewa mengangguk. "Iya,"


"BURUK." Mala menengadah ke atas mencoba menahan air matanya. "BURUK DAN SANGAT BURUK."


Dewa tersentak sambil meremas telapak tangan, sungguh dia tidak tega melihat air mata itu. "Kenapa? Bukannya Mala udah dapat cowok baru?"


Mala membulatkan mata. "Siapa? Yang mana?" tanyanya. "Gilang? Yang tadi antar Mala pulang?"


Dewa mengangguk lagi. "Jadi dia yang namanya Gilang. Pantas." Rautnya berubah, sedikit menunjukkan kekesalan. Dewa membuktikan dia sedang cemburu luar biasa.


"Kenapa? Kakak kira dia cowok baru aku?"


"Emangnya dia bukan cowok baru kamu?"


Keduanya saling menatap dingin.


"Bukan." Mala hanya tersenyum samar. "Setidaknya dia baik, dia antar Mala pulang. Emangnya Kakak, malah antar Kak Rosy. Baru jadian? Katanya teman."


Kata-kata Mala sangat mengejutkan Dewa. Jadi, Mala-nya sampai berpikir sejauh itu?


"Siapa yang bilang kalau Kakak dan Rosy jadian?" tanya Dewa.


"Nggak ada. Hanya aja Mala punya mata. Cukup jelas untuk lihat kedekatan kalian. Boncengan naik motor, dua kali. Itu apa namanya? TTM-an?" tatap Mala, miris.


"Enggak, Mala salah paham." Dewa maju selangkah lagi, ingin memeluk Mala tapi ia tahan sekuat tenaga untuk tidak melakukannya.


"Lalu? Kalian itu apa? Udahlah, Mala capek Kak. Ini kan yang Kakak mau, dengan bikin Mala menjauhi Kakak, iyakan?"


"Mala paham, Kak. Mala bukan anak kecil lagi."


Perasaan Dewa hancur seketika. Padahal dia hanya ingin Mala-nya bahagia, Mala-nya dapat meraih cita-citanya.


"Kakak mau apa dari Mala? Akan Mala lakukan untuk Kakak."


Dewa masih diam. Gadisnya itu terlalu banyak mengatakan hal yang diluar dugaannya.


"Kakak mau Mala menjauhi Kakak? Oke, akan Mala lakukan, asal Kak Dewa bahagia."


Dewa mengangkat kepalanya lalu menatap Mala yang sedang menangis di hadapannya.


"Mala jangan nangis..."


Tapi Mala tetap saja menangis, bahkan ia melarang Dewa mendekatinya.


"Mala nggak butuh sekolah tinggi. Kalau ujung-ujungnya cuma sakit hati karena kehilangan Kakak. Cintanya Mala."


Saat itu entah apa yang harus Dewa lakukan. Kata-kata Mala sangat menyakiti perasaannya. Tentu dia tidak bermaksud demikian.


"Tapi, kalau ini kemauan Kakak. Ya udah, Mala lakukan semuanya demi kakak. Mala akan pergi ke Korea, Mala akan jauhi kak Dewa."


Gadis itu berbalik sambil menutupi wajahnya yang basah. "Dasar anak kecil, kamu tetap kekanakan meski berusaha dewasa." Ia bergumam sendiri, sambil terus menyeka air matanya.


"Pulang aja Kak Dewa. Mala capek mau tidur siang." Mala melangkahkan kakinya. Tapi ia dikejutkan dengan lengan kekar yang kini melingkar di pinggangnya. Dewa malah memeluknya.


"Mala, maafkan Kakak."


Jantung Mala berdegup tidak menentu. Air matanya masih mengaliri pipi merahnya yang memanas. Kedua tangannya masih meremas jubah mandi yang ia kenakan. Mala tidak mengerti, apa yang diinginkan Dewa sebenarnya.


"Maafin Kakak, jangan benci Kakak. Mala."


Tentu saja, mustahil bagi Mala untuk benar-benar membenci Dewa.

__ADS_1


"Lepaskan Kak. Ini cuma bikin Mala bingung," ujar Mala sambil menangis tersedu-sedu. "Kakak bikin Mala jadi nggak tahu harus apa sekarang."


"Kakak cuma nggak mau kamu pergi, apalagi benci Kakak. Tapi, ini semua kakak lakukan awalnya karena ingin kamu meraih cita-cita kamu, Mala."


"Cita-cita? Emang Kakak tahu apa cita-cita Mala hah? Mala nggak pernah bilang kan cita-cita Mala itu pengen sekolah ke luar negeri. Enggak kan?!" sentak Mala yang membuat Dewa akhirnya melihat sisi lain Nirmala yang selama ini dia kenal seperti anak kecil, rupanya Mala bisa bersikap seperti itu.


"Kakak nggak tahu, tapi itu yang diinginkan bunda dan ayah kamu."


"Kakak sok tahu namanya. Mala cuma mau dekat Kak Dewa, kuliah dekat Kakak biar bisa di jagain Kakak terus. Nggak butuh keluar negeri."


Mala melepaskan paksa pelukan Dewa. "Semuanya udah terlanjur Kak. Mala udah bilang sama bunda, kalau Mala mau ke Korea."


Dewa menarik tangan Mala yang berusaha pergi menjauh darinya. "Jangan pergi."


"Untuk apa? Mala nggak mau lihat wajah Kakak, cuma bikin Mala sakit hati."


"Kenapa?"


"Ingat kakak yang mesra sama cewek lain!"


Mendengar hal itu, Dewa langsung meraih tubuh Mala dan mencium bibir Mala secara tiba-tiba. Mala melebarkan matanya, saat ciuman Dewa lebih dalam lagi, hingga matanya reflek terpendam perlahan-lahan. Ciuman yang sangat ia rindukan, saat itu Mala tak dapat menolak sama sekali, ia malah mengalungkan tangannya pada leher Dewa.


"Kamu mau bobo siang?" tanya Dewa sesaat setelah melepaskan pagutan itu. Mala masih memejamkan mata, lalu ia menggeleng.


"Aku mau antar kamu ke kamar." Dewa menggendong tubuh Mala, membawanya masuk ke dalam kamar. Mala lagi-lagi hanya diam saja, tidak melakukan pemberontakan.


Dewa membaringkan tubuh Mala ke atas ranjang. Lalu keduanya kembali saling menatap.


"Kakak kangen Mala. Maaf, karena Kakak bikin semuanya jadi rumit."


Mala hanya terus menatap mata Dewa yang sangat dia rindukan. "Mala nggak tahu harus ngomong apa lagi, tadi Mala udah ngomong panjang lebar, capek."


Dewa terkekeh. "Iya, Mala udah bisa ngomong panjang lebar. Mala udah dewasa. Padahal baru Kakak tinggal tiga harian."


"Gimana kalau setahun?"


Mala mengerucutkan bibir. "Buat apa kakak cium Mala kalau mau ninggalin Mala sampai setahun."


"Mala bilang udah nerima tawaran bunda. Iya kan?"


Mala mengangguk. "Iya,"


"Ya udah Mala ke Korea. Tapi, biarkan selama dua bulan ini Kakak nemenin Mala di Bandung. Jangan berjauhan dulu, nanti aja, gimana?"


"Mala nggak sanggup." Gadis itu menggeleng cepat.


"Lalu? Mala memilih kita berjauhan dari sekarang?"


"Enggak, itu pun lebih nggak sanggup."


Dewa menghela napas panjang. "Lalu?"


"Mala mau terus sama Kak Dewa. Apa kita nggak bisa menikah dulu?"


Entah ide darimana sampai Mala berkata demikian. "Nikah?"


"Iya, kita nikah dulu. Supaya Mala nggak perlu jauh dari Kakak. Mala janji akan berubah jadi dewasa."


"Mala, menikah nggak semudah itu."


"Kenapa? Kakak nggak mau menikah dengan Mala?"


"Bukan gitu Sayang. Kakak mau, kakak mau menikah dengan Mala. Tapi, Kakak mau Mala kuliah dulu dan mengejar pendidikan Mala."


"Tapi Mala nggak mau Kak. Mala lebih baik mati daripada harus berjauhan dari kakak."


Bingung. Dewa sangat bingung apa yang harus dia katakan pada Mala sekarang.


"Mala terlalu sayang sama kakak, Mala nggak bisa berjauhan dari Kakak. Kecuali kalau Kakak mau membunuh Mala secara perlahan, jangankan setahun, mungkin Mala hanya akan tinggal nama hanya dalam kurun waktu sebulan."


Kata-kata Mala membuat Dewa ketakutan. "Jangan ngomong gitu Mala."


Mungkin kata-kata Mala itu keterlaluan menurut Dewa. Tapi nyatanya benar, berada jauh dari Dewa hanya membuat Mala menderita, tidak memiliki gairah untuk hidup.

__ADS_1


"Mala nggak bisa, tetep nggak bisa, Kak."


__ADS_2