Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
08 : Kabar Buruk


__ADS_3

"Dad. Dewa bisa jelaskan yang tadi—"


"Daddy udah lihat semuanya sendiri. Nggak perlu di jelaskan." Max masih menajamkan mata pada anak lelakinya yang saat ini tengah berdiri di depannya.


Mala dan Nayra menunggu di luar ruangan kerja Maxime. Tadi, Max tidak memperkenankan Nayra dan Mala ikut masuk ke dalam.


"Tapi Dad, tadi Dewa cuma peluk Mala aja."


Tentu Dewa tidak merasa itu perbuatan yang melanggar. Hanya sebuah pelukan, apa salahnya?


"Oh ya? Haruskah di depan umum? Kalian berpelukan seperti tadi di depan banyak orang. Daddy udah sering bilang, Mala masih kecil. Dia belum lulus SMA, Dewa."


Kali ini Dewa tidak dapat menjawab. Tapi, dia sudah cukup dewasa, meski kalau di dekat Mala, Dewa selalu merasa jauh lebih kekanakan. Tidak tahu, entah kenapa. Atau karena Mala yang masih terlalu muda? Atau karena Dewa yang begitu menyukai gadis kecil itu.


"Maaf Dad, Dewa salah." Tidak dapat membantah, dia tahu seharusnya dia tidak memeluk Mala di depan umum juga. Meski, keadaan saja yang tidak berpihak tadi, kalaulah Daddy-nya tidak memergoki keduanya, sebenarnya itu bukan masalah.


"Ini kamu baca."


Maxime memberikan selembar amplop panjang berwarna putih pada Dewa. Saat itu Dewa tidak mengerti amplop apa itu.


"Ini apa, Dad?"


Dewa belum membukanya.


"Buka dan baca." Max mengatakannya sambil menyentuh sebelah alisnya. "Maaf karena baru memberi tahu kamu, Dewa. Tapi, itu adalah rencana bunda dan ayah Mala."


Rupanya itu adalah surat pindah Mala. Orang tua Mala memutuskan untuk membawa serta Mala pindah ke Korea. Dewa kaget, luar biasa kaget.


"Nggak mungkin Dad. Mala nggak pernah cerita."


"Mala nggak tahu, dia baru akan diberitahu oleh bunda dan ayahnya besok."


"Terus kenapa Daddy bisa tahu?"


"Sebelum ayah dan bunda Mala pergi ke luar kota. Mereka sudah memberitahukan Daddy rencana ini. Tapi, awalnya mereka ragu, karena Mala sangat dekat dengan kamu. Sedangkan Daddy merasa ini yang terbaik untuk Mala. Sebaiknya Mala dijauhkan dulu dari kamu, Dewa."


Dewa bertambah kaget, ternyata ini atas dasar keinginan daddy-nya juga?


"Jadi maksud Daddy, ini ide Daddy?"


Max menggeleng. "Daddy hanya memberi saran, dan ini semua demi kebaikan kalian. Jika kalian jodoh, kamu bisa temui Mala setelah umurnya cukup, masa depannya masih panjang. Tentu kamu nggak mau menghalangi Mala kan?"


Entahlah apa yang harus dikatakan Dewa pada daddy-nya. Berpisah dari Mala? Membayangkannya saja tidak pernah. Dewa tidak berani membayangkan hal itu, lalu sekarang keduanya benar harus berpisah? Bagaimana jadinya?


"Dewa. Daddy nggak melarang kamu pacaran. Silahkan saja, tapi jangan sekarang. Kalau kamu mencintai Mala, kamu harus sabar dan mau nunggu sampai Mala dewasa." Maxime berjalan ke sisi anaknya, lalu memeluknya. "Daddy bukan melarang kamu dekati Mala. Tapi, sebelum semua terlambat. Daddy tahu kamu nggak bisa menahan diri kalau terus berada dekat Mala. Daddy paham, karena Daddy juga lelaki."


Meski Dewa sudah berusia lebih dewasa dari Mala. Tapi, Maxime mengetahui persis, anaknya itu baru pertama kali memiliki perasaan yang serius pada lawan jenis, baru dengan Nirmala. Dewa begitu mencintai Mala, dan Maxime sangat memahami itu.


"Kalau kamu sabar, maka Mala bisa meraih cinta dan cita-citanya bersamaan. Daddy yakin."


Dewa benar-benar tidak dapat berkata apapun. Yang sekarang dia pikirkan adalah, bagaimana dia melewati hari-hari tanpa Mala di sisinya, dan gadis itu sudah pasti akan histeris juga bersedih kalau mengetahui kenyataan ini.


Diluar Mala hanya terus gelisah. Ia takut Maxime akan memarahi kak Dewa-nya. Nayra mengelus rambut Mala sambil terus menenangkan gadis itu. "Dewa nggak akan kenapa-kenapa kok. Daddy-nya cuma mau ajak berbicara biasa aja."


Mala menatap mata Nayra dengan bibir bergetar. "Tapi tadi Om Max kelihatan marah banget, Tante."


Nayra menggeleng. "Om Max, nggak pernah marah sampe berlebihan. Lagi pula Dewa itu anak laki-laki jadi harus kuat, bener kan?"


Mala tidak menjawab, tetap saja ia merasa cemas.


Pintu pun terbuka, Mala langsung berdiri begitu juga dengan Nayra.


"Kak Dewa. Kakak nggak apa-apa kan?" tanya Mala yang sejak tadi cemas.


Nayra tersenyum, ia tahu bahwa Dewa saat ini sedang sedih. "Sayang, kamu ngobrol berdua sama Mala ya. Mami mau ke dalam menemui Daddy."


Dewa mengangguk. "Iya, Mam."


Mala langsung menarik ujung baju Dewa, sambil mencebikkan bibir. "Kakak nggak di apa-apain sama Om Maxime kan?"


"Nggak Sayang, kita beli eskrim yuk, mau?"


"Tapi, nanti Om Maxime marah?"


"Enggak, udah di izinin kok."

__ADS_1


Ya, Max memperbolehkan Dewa mengajak Mala jalan-jalan, toh nantinya Dewa dan Mala akan terpisah sementara waktu.


"Beneran?" tanya Mala tidak percaya.


"Iya, kamu mau es krim kan?"


Mala menggeleng. "Maunya bakso, gimana? Mala laper, belum makan."


"Astaga, iya aku sampai lupa kamu belum makan. Oke, kita makan bakso ya."


Dewa menggandeng tangan Mala, ia mengajak Mala makan bakso langganan mereka. Mala sangat senang, karena dia berpikiran Max akan melarang keduanya untuk berjalan berdua lagi, ternyata itu hanya kecemasan yang berlebihan, batinnya.


Sesampainya di tempat bakso langganan Mala dan Dewa, mereka langsung memesan dua porsi bakso. Mala menyukai bakso telur, sedangkan Dewa menyukai bakso urat.


Minumnya selalu sama, dua es teh tawar kesukaan mereka.


"Ini baksonya." Penjual bakso membawakan pesanan Mala dan Dewa.


"Nuhun, mang." Dewa tersenyum ramah.


"Sami-sami." Penjual itu pun jauh lebih ramah.


Mala tak sabar dan langsung memakan bakso yang masih panas. "Uhhh, panas." Mulutnya berasap dan itu membuat lidahnya seperti terbakar. "Panas banget, Kak." Tidak jadi menggigit bakso kecil yang menemani bakso telur di dalam mangkoknya.


"Masih panas Sayang, kamu pelan-pelan." Dewa mengelap mulut Mala lalu membantu meniup bakso yang sudah dia tusuk menggunakan garpu. "Nih, aaa.."


Mala membuka mulutnya, dan bakso itupun akhirnya mendarat diatas lidahnya dengan aman tanpa membuat lidahnya melepuh kepanasan. "Makasih Kak."


Dewa mengangguk. Kali ini tidak seperti biasanya, ia merasa sedih melihat Mala-nya yang sedang makan dengan lahap di depannya.


"Kak Dewa kok nggak makan?" tanya Mala.


"Hm, Iya Kakak makan." Dewa pun memakan bakso miliknya, tapi kali ini rasanya tidak seperti biasa, dia merasa bakso itu hambar.


"Kakak kok kayak sedih gitu sih? Oh iya, Mala sampai lupa, apa yang di omongin Om Max tadi? Apa Om marahin Kakak?"


"Enggak kok, Daddy nggak marahin Kakak. Mala tenang aja ya, Kak Dewa sayang banget sama Mala. Apapun yang terjadi meski kita akhirnya terpisah sementara waktu. Kak Dewa akan tetap menunggu Mala."


Tentu saja gadis itu bingung, untuk apa juga Dewa berkata seperti itu? Mereka kan tidak akan terpisahkan, pikir Mala.


"Iya, itu kan seandainya, Sayang." Dewa mengusap pipi Nirmala, gadis yang sudah seperti adik, teman, bahkan kekasih buatnya.


Mala hanya tersenyum. "Kakak lagi mellow ya. Tumben berandai-andai segala."


Gadis itu masih bisa tersenyum manis, dan Dewa berharap senyuman itu tidak akan memudar nantinya. Dia sangat menyukai senyuman manis itu, dia tidak mau Mala bersedih.


"Tetap senyum seperti itu ya, Mala. Kakak nggak mau lihat kamu sedih."


Mala bertambah aneh. "Kakak jadi aneh ih, jangan gitu ah. Kayak bakalan pisah aja deh kita. Aku kan jadi takut, jujur deh Kakak kenapa?"


Dewa ingin mengatakan itu, tapi Maxime melarangnya. "Nggak ada apa-apa Sayang. Intinya Mala harus tahu, percaya, yakin. Kalau Kak Dewa akan selalu sayang sama Mala."


Senyuman Mala melingkar lebar di bibirnya. "Mala juga sayang Kaka, banget malahan."


Keduanya pun kembali memakan Bakso yang ada di mangkuk mereka sampai habis. Lalu setelah itu Dewa mengantar Mala pulang ke rumahnya.


...******...


...Keesokan harinya di rumah Mala....


"Morning, sweetheart." Ayah Mala yang bernama Lesmana Mahendra menyapa Mala yang masih terpejam di atas tempat tidurnya. Mendengar suara ayahnya, Mala langsung bergegas bangun.


"Ayah, kapan sampai?" tanya Mala antusias. "Morning, Ayah. Mala kangen," ucap gadis itu yang langsung memeluk ayahnya.


"Ayah dan bunda baru datang. Bangun gih mandi, terus sarapan. Bunda dan Ayah mau bicara sama Mala."


"Bicara?" tanya Mala heran. Tidak biasanya bunda dan ayahnya mengajaknya bicara serius.


"Tumben Ayah mau bicara sama Mala. Maksudnya kayak serius gitu," ucap Mala.


"Anak ayah kan udah besar. Tentu harus di ajak bicara serius juga. Kecuali kalau Mala masih kecil, bener nggak?"


Mala setuju dengan kata-kata ayahnya kali ini. "Ayah bener, Mala kan udah besar," angguknya.


Lesmana tersenyum.  "Ayah tunggu dibawah yah," kecupnya di kening Mala.

__ADS_1


"Oke, Ayah."


Mala mengambil ponselnya, hal yang pertama dia lakukan adalah mengirimi pesan pada Kak Dewa-nya.


Mala Sayang : Ayah ajak Mala ngomong serius, katanya karena Mala udah besar, Mala seneng banget, Kak. Love You Kak Dewa. Bangun, udah pagi.


Pesan tersebut ia kirimkan pada Dewa. Lalu Mala segera bergegas mandi.


Dewa tidak  bisa tidur semalaman, alhasil pagi-pagi ia ketiduran. Sampai-sampai tidak terdengar suara ponselnya yang terus berdering. Panggilan masuk dan juga chat masuk begitu banyak, karena dia lupa mematikan data internetnya sejak malam.


Setelah mandi, Mala langsung turun ke meja makan. Disana ayah dan bundanya sudah menunggunya.


"Mala Sayang, anak bunda. Sini sayang, peluk bundaa. Ih kangen banget," ucap Delia, ibunda Nirmala.


"Mala juga kangen Bunda," balas Mala sambil mengeratkan pelukan ke bundanya.


"Duduk sayang, kita sarapan dulu ya."


Mala mengangguk dan duduk. Ia pun segera memakan sarapan yang telah di sediakan bundanya.


"Mala Sayang, berapa bulan lagi kamu lulus?" tanya bunda Mala.


"Hm, bentar lagi ujian Bun. Mungkin dua bulan lagi kelulusan." Mala menjawabnya sambil mengunyah roti isi di mulutnya.


"Bentar lagi dong, Sayang." Delia memberikan segelas susu untuk putrinya.


"Makasih Bunda. Iya sebentar lagi. Kan ujian tinggal terakhir. Setelah itu mungkin Mala akan mengurus masalah universitas mana yang mau Mala pilih," sahut Mala.


"Mala mau kuliah dimana?" tanya Ayahnya.


"Di tempat Kak Dewa kuliah," jawab Mala tanpa berpikir panjang.


Ayah dan Bunda Mala sudah mengira itu yang akan menjadi jawaban putrinya.


"Mala Sayang banget ya sama Kak Dewa?" tanya Delia. "Nggak bisa pisah sebentar sama Kak Dewa?" tambahnya.


Mala menghentikan aktifitas makannya. "Kok, Bunda nyuruh aku pisah dari kak Dewa?"


"Bukan gitu, Sayang."


"Terus?" Mala mendadak cemas. "Ada apa ini sebenarnya? Kenapa wajah ayah dan bunda mendadak tegang?"


Lesmana mengusap wajahnya. Ia bingung mengatakan pada putrinya. "Mala Sayang, Ayah dan Bunda akan pindah ke Korea, setelah kamu lulus sekolah SMA. Kamu ikut ya?"


Mala sangat terkejut, sampai ia tidak sengaja menjatuhkan roti yang ada di tangannya. "Apa?"


"Mala, ikut pindah ke Korea ya?" ulang Delia.


Mustahil, Mala tidak mau kehilangan dan jauh dari kak Dewa.


"Nggak mau!" tegas Mala. Gadis itu reflek menggebrak mejanya, padahal dia belum pernah marah di depan kedua orang tuanya.


"Mala nggak mau Ayah! Bunda!"


Delia menghampiri putrinya, sambil berusaha menenangkan. "Mala dengerin bunda dulu."


Mala masih menggeleng dengan keras dan ia menangis. "Nggak mau, Bunda. Mala nggak mau jauh dari kak Dewa. Mala mau kuliah di Bandung bareng Kak Dewa."


Lesmana ikut menghampiri putrinya. "Mala, jangan gini. Dewa udah setuju kok."


Seketika tubuh Mala bertambah lemas. "Nggak mungkin Ayah, mana mungkin kak Dewa biarin Mala pergi," geleng Mala.


"Sayang, om Maxime udah kasih tahu Dewa kemarin dan Dewa udah setuju. Kata Dewa asal itu yang terbaik untuk kamu." Delia kembali memeluk putrinya yang kini diam mematung, tapi matanya terus mengeluarkan bulir bening.


"Nggak, ini nggak mungkin. Kak Dewa nggak mungkin setuju Mala pergi, Bunda!"


Mala tidak dapat berkata-kata. Ia hanya terus menangis. Mala melepaskan pelukan bundanya dan berlari masuk ke kamarnya. Ia menutup pintunya dengan keras lalu menguncinya.


"Mala nggak mau!" Tangisnya pecah di sana. Mala menjatuhkan tubuhnya dibalik pintu. Ia merasa sangat sedih sekarang. "Nggak mungkin, kenapa kak Dewa setuju." Mala hanya bisa menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sesak bukan main.


Dewa adalah satu-satunya orang yang ada saat dia merasakan kesepian. Kedua orang tuanya lebih sering menitipkan dia dengan pembantu rumah tangga. Begitu Dewa datang, Mala merasa dia tidak lagi merasa sepi karena Dewa selalu menghiburnya. Lantas sekarang dia bisa apa? Jangan kan berpisah ke Korea yang jelas jaraknya sangat jauh. Berpisah rumah saja Mala sering kangen dengan Dewa. "Mala lebih baik mati dari pada harus pisah sama Kak Dewa! Tapi Mala kecewa, kenapa Kakak setuju Mala pergi?"


...___________...


...

__ADS_1


...


__ADS_2