Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
05 : Nirmala Polos atau Langka?


__ADS_3

Setelah memastikan dirinya lebih tenang dan terkendali. Dewa keluar dari kamar mandi lalu melirik Mala yang tengah terpejam.


Seperti biasa, Mala sudah tertidur. Dewa mengusap kasar wajahnya sambil memperhatikan wajah polos Mala. "Terkadang Kakak bingung, kamu beneran nggak ngerti atau kamu belum paham apa itu gairah? Nggak mungkin lah bego banget sih lo, Wa!"


Dewa mengetahui batasan dalam dirinya. Sejujurnya dia tidak bisa menahan keinginan kotor itu. Anggap lah Mala memang polos dan menggoda.


Itu semua dia jaga demi Nirmala. Dewa tidak mau mengotori gadis cantiknya. Selama ini dia berusaha sekuat mungkin menjaga kesucian tetangga kecilnya meski itu selalu membuatnya was-was.


Namun lelaki normal, dia memiliki naluriah yang tidak bisa di padamkan tanpa tindakan. ****!


"Met bobo, sweety." Meski tubuhnya masih menyisakan rasa panas. Dewa keluar dari kamar itu dia memutuskan untuk tidur di ruang televisi membiarkan Mala tidur nyenyak di kamarnya.


***


Keesokan harinya.


Nayra dan Maxime baru saja tiba di rumah. Max sengaja buru-buru pulang karena cemas dengan putranya yang berdekatan dengan Mala tanpa pengawasan. Pikirannya sudah menjurus ke hal yang tidak-tidak. Semua itu karena dia pernah memergoki Dewa bertindak kelewat batas mencium Mala.


"Dad, jangan keras sama Dewa." Nayra mengusap lengan kokoh suaminya pelan. Dia memperhatikan Max yang sejak tadi terlihat risau.


"Yes, Honey." Sambil menahan diri, dan berharap anaknya itu tidak melakukan hal yang aneh-aneh pada Mala. Maxime menelpon ke rumah Mala, asisten rumah tangganya bilang Mala tidak pulang, kata Dewa Mala menginap di rumahnya.


Pintu pun terbuka. Nayra berharap kali ini anaknya tidak bertindak gegabah, meski membawa masuk Mala ke kamarnya termasuk tindakan gegabah juga.


"Cek kamar Dewa gih, Mam." Senyum Max masih terlihat saat meminta istrinya dulu yang memeriksa kamar anaknya.


Cemas. Kalau-kalau ada pemandangan yang tidak dinginkan nanti, hanya membuatnya naik pitam.


"Oke, Dad. Udah ah, Dewa pasti nggak ngapa-ngapain," ucap Nayra menenangkan suaminya.


"Yes, Baby." Masih dengan sikap elegan Max yang terus tersenyum di hadapan Nayra.


Nayra berjalan hendak menaiki anak tangga. Tapi, ia melirik ke arah ruangan TV.


Bukannya itu Dewa?


"Daddy, bukannya itu Dewa ya?"


"Dimana Beb?"


"Di ruang TV Dad."


Maxime berjalan cepat menuju ruang TV. Benar saja anaknya sedang tidur di sofa.


"Oh Tuhan, syukurlah." Max menghela napas lega. "Dewa, bangun udah pagi."


Maxime mengacak rambut putranya. Nayra turut bernapas lega, ia segera masuk ke kamar Dewa untuk memeriksa keberadaan Mala.


"Daddy, udah pulang?"


Max duduk di samping putranya yang juga langsung beranjak duduk. "Kesiangan ya."


"Ini masih subuh, Wa." Max menatap Dewa dengan pandangan meneliti. "Kamu tidur di sini dari kapan?"


"Astaga ini masih subuh. Kenapa Dewa dibangunin? Semalam Dewa nggak bisa tidur, jagain Mala, Dad."


"Jagain? Gimana maksudnya?" Max mengusap dagunya sambil mengangkat sebelah alisnya. Masih mencoba berpikiran positif.


"Dewa diluar, Mala di kamar. Tenang aja," balas Dewa sambil menguap. "Dewa tidur lagi ya, jam tujuh Dewa harus antar Mala sekolah."


Maxime akhirnya mengangguk. "Ya udah, nanti jam enam Mam bangunkan kamu lagi."  Akhirnya Max bisa bernapas lega.


"Siap," jawab Dewa yang kembali memejamkan mata.


Nayra yang baru saja memeriksa Mala akhirnya bisa benar-benar lega. "Mala masih tidur, Daddy."


"Syukurlah, udah periksa leher Mala?" tanya Maxime.


"Ish buat apa sih Dad?"


"Jadi Mam belum periksa?"


Nayra menggeleng. "Enggak lah, ngapain coba periksa leher Mala?"


"Ya Tuhan, periksa Mam. Kali aja ada bekas cu—" Max tidak meneruskan ucapannya. "Udahlah, nanti kita lihat aja pas mereka mau berangkat.


Nayra tidak paham maksud suaminya, tapi untuk apa juga dia memeriksa leher Mala?


Mala merentangkan tangannya, ia meraba kasur yang ditidurinya. Mencari-cari dimana Dewa sekarang? Kok nggak ada siapa-siapa?


"Morning Sayang." Dewa sudah rapih, dia bangun lebih awal karena Nayra terus mengganggunya.


"Morning Kak, aku cari Kakak nggak ada. Hampir aja tadi aku marah sama Kakak."


"Jangan marah terus, nanti tambah cantik. Bisa-bisa Kakak lupa diri?"


Mala tersenyum. "Mau peluk boleh?"


"Peluk? Mala mandi dulu baru peluk."


Mala memanyunkan bibirnya. "Huh emangnya Mala bau?"

__ADS_1


Dewa terkekeh lalu memeluk Mala. "Nggak, mana pernah Mala-nya Kakak bau. Dah sana mandi, gih."


"Semalam Kakak bobo deket Mala, kan?"


Dewa terdiam, lalu menampakkan barisan giginya. "Hm, kenapa memangnya?"


Mala menggeleng. "Mala tau Kakak nggak bobo deket Mala, tapi Mala seneng pagi-pagi Kakak yang nyapa Mala," ucap gadis itu sambil menyengir.


Bukannya Dewa tidak mau tidur di samping Mala, tapi berbuat seperti semalam saja ia langsung merasa bersalah. Apalagi kalau harus tidur di samping Mala, dijamin dia tidak mungkin hanya berdiam diri, tidur dengan nyaman tanpa melakukan sesuatu terhadap gadis di sebelahnya.


"Kakak tahu, makanya Kakak cepet ke kamar untuk liat Mala, apapun untuk kamu Sayang."


Mereka berdua tidak pernah mendeklarasikan hubungan mereka dengan kata pacaran. Tapi, tingkah manis dan mesra keduanya cukup menjelaskan bahwa mereka adalah pasangan yang tak dapat terpisahkan.


Senyum Mala kembali melingkar di bibirnya, senang karena Dewa selalu ada di sisinya. "Mala mandi dulu yah," ucapnya.


"Iya, kalau udah siap Kakak tunggu di bawah ya, sarapan dulu nanti Kakak antar kamu ke sekolah, oke?"


Mala hanya mengangguk.


Setelah mandi, Mala segera memakai seragam sekolah. Oh iya, seragam itu di antar oleh asisten Mala tadi pagi-pagi sekali, juga termasuk tas dan perlengkapan sekolah Mala.


Dewa mengetuk pintu lagi, lalu Mala pun membuka pintunya. "Kak, aku udah siap."


"Oke, turun yuk, sarapan dulu."


Mala mengangguk. Tapi, pandangan Dewa tertuju pada leher Mala, ternyata di sana tidak ada bekas ciuman dia semalam.


"Hm, aman." Dewa menghela napas lega.


"Aman apanya Kak?"


"Enggak kok, kamu nanti sepulang sekolah Kakak jemput ya, Kakak mau kasih kamu sesuatu," ucap Dewa sambil mengelus pipi Mala, dikecupnya bibir Mala sekilas.


Mala lagi-lagi tersipu malu. "Oke deh."


Mereka turun ke meja makan. Disana Max dan Nayra sudah menunggu keduanya.


"Morning Mala Sayang." Nayra tersenyum dengan manisnya.


"Morning Tante, morning Om."


"Morning Sayang," sahut Max.


Mala duduk di samping Dewa, sedangkan Maxime terus memandangi leher Mala, dia sedikit menajamkan matanya dan itu membuat Dewa menghembuskan napas panjang.


Untung aja nggak ada jejak. Dewa merasa aman.


Nayra mengernyitkan kening. Ia bukan tidak memperhatikan suaminya, bahkan dia menyadari suaminya itu terus memperhatikan leher Mala.


"Tau nih Daddy, liatin apa sih!" ketus Nayra sambil melebarkan matanya.


Max sampai hampir tersedak melihat raut istrinya barusan. "Bukan apa-apa, kok."


Dewa terkekeh pelan sambil menaruh susu hangat di depan Mala. "Minum susunya ya Sayang."


"Makasih Kakak." Mala mengambilnya dan langsung meminumnya pelan-pelan.


"Sayang, ayah bunda kamu kapan pulang dari luar kota?" tanya Nayra.


Mala menggeleng. "Belum tahu, Tante. Mala boleh kan menginap di kamar Kak Dewa selama mereka belum pulang?"


Maxime menggeleng. "Jangan Sayang, nanti Om siapkan ckamar buat Mala ya. Jangan di kamar Dewa, oke sweet heart."


Dewa memahami maksud daddy-nya, tapi dia juga memahami watak Mala.


"Tapi Mala maunya bobo sama Kak Dewa, Om. Gimana caranya supaya Om membebaskan Mala kalau mau bobo sama Kak Dewa, Om?"


Dewa dan Nayra sama-sama terbatuk. Maxime pun lagi-lagi hampir tersedak nasi goreng buatan Nayra.


"Mala Sayang," geleng Dewa.


Mala mengangkat kedua alisnya, "kenapa?"


Nayra menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum pada gadis polos itu. "Mala mau bebas sama Kak Dewa?"


Tentu saja Mala langsung mengangguk.


"Biar Om dan Tante bicara sama ayah dan bunda Mala dulu yah, lagi pula Mala belum lulus sekolah kan? Harus nunggu Mala lulus sekolah dulu, belum lagi Dewa masih kuliah S2 juga. Mala bisa sabar kan?"


Maxime hanya diam, kata-kata istrinya ada benarnya juga. Dewa juga diam, ia hanya berharap kali ini Mala memahami maksud Maminya.


"Hm, jadi Mala harus nunggu sampai lulus?"


"Iya Sayang," sahut Dewa sambil tersenyum pada gadisnya. "Mala belum jadi pasangan yang sah buat Kakak, jadi belum boleh bebas ngapa-ngapain, ngerti kan?"


Setelah mendengar penjelasan itu, Mala mengerti. Tentu Mala bukan tidak paham maksud arah pembicaraan mereka. Tapi, hidup Mala sejak awal memang di bebaskan oleh orang tuanya. Mala tidak pernah dilarang bergaul dengan Dewa, bahkan saat Mala ingin menginap di kamar Dewa sekalipun. Orang tua Mala lebih sering ke luar negeri, sehingga pemahaman keluarga Mala juga lebih bebas.


Setelah sarapan, Dewa langsung mengantar Mala ke sekolah. Mala hanya berdiam diri saja sejak tadi, mendadak ia takut kehilangan Kak Dewa-nya. Pikirannya melalang buana entah kemana, menunggu sampai ia dan Dewa lulus? Apakah Dewa tidak akan berpaling ke lain hati?


"Cantik, kok malah lesu gitu sih?" tanya Dewa sambil menyetir.

__ADS_1


"Hm? Enggak kok. Mala cuma kepikiran sesuatu aja."


"Kepikiran apa Sayang?"


Mala menghembuskan napas berat. "Mala takut Kakak ninggalin Mala, terus tergoda sama perempuan lain."


Entah kenapa Mala bisa berpikir demikian, batin Dewa kaget. "Mana mungkin sih, Sayangku."


Mata Mala berkaca-kaca, membuat Dewa jadi serba salah. "Jangan sedih, Kakak cuma punya Mala aja kok."


"Beneran? Termasuk Kak Rosy, dia bukan pacar Kakak kan?"


Rosy adalah teman sekampus Dewa. Saat itu Dewa pernah mengajak Rosy ke rumahnya karena ada keperluan tentang tugas kampus. Mala salah paham dan mengira Dewa ada hubungan dengan Rosy. Saat itu Dewa ingat betul, Mala bilang dadanya terasa sakit waktu Dewa tidak sengaja menyentuh kelopak mata Rosy dan meniupnya.


"Kakak, aku sakit."


"Dimana yang sakit?"


"Disini," Mala menyentuh dadanya.


"Kok bisa?"


"Tadi karena Kakak mesra-mesraan sama cewek lain, Jahat!"


Dewa mengerjabkan matanya, tersadar dari lamunan beberapa waktu lalu.


"Kakak, kok malah diam?"


Dewa mengusap puncak kepala Mala, "kak Rosy cuma teman Kakak, percaya deh."


Gadis di sampingnya berusaha percaya padanya. "Oke deh. Mala percaya."


...*****...


...Warning : Mengandung kata umpatan. Harap bijak dalam membaca yah (~ ̄³ ̄)~...


...*******...


Dewa langsung berangkat ke kampusnya setelah mengantar Mala ke sekolah.


"Wa! Akhirnya lo dateng juga!" Zaki adalah teman dekat Dewa, bisa dibilang mereka sudah seperti saudara, hanya saja sejak Dewa sering menemani Mala, Dewa jarang lagi berkumpul dengan teman-temannya. Tapi, Zaki memahami posisi Dewa, gadis itu sangat berharga bagi Dewa, dan wajar saja begitu, karena rupanya bukan hanya Dewa yang menyayangi Mala, tapi juga Zaki. Bukan sayang yang spesial seperti sayangnya Dewa ke Mala. Tapi Zaki sudah menganggap Mala seperti adiknya sendiri.


"Mana si Dika?" Dewa langsung duduk di depan Zaki, lalu melambaikan tangan pada pelayan di kantin kampus tersebut. "Kopinya satu ya," ucap Dewa.


"Lo nggak ngopi di rumah?" tanya Zaki. "Dika lagi kena cacar dia, nggak masuk kuliah."


Dewa terbahak mendengar temannya yang bernama Dika terkena sakit cacar. "Itu anak perasaan kena cacar mulu, belum lama dia juga kena cacar kan?"


Zaki ikut tertawa. "Jangan gitu, kasian dia nggak bisa malam mingguan nanti. Padahal pacarnya baru ganti," sahutnya.


"Lo kenapa pesan kopi? Biasanya kalau lo pesan kopi itu tandanya lo nggak ngopi di rumah, ada Mala ya?"


Dewa mengangguk. "Iya, gua minum susu."


Zaki tergelak sambil menepuk bahu Dewa. "Anjir minum susu! Kenapa susu itu sih, susu yang lain ajalah!"


"Anjir lo, susu apaan!"


"Susu cap kuda!" Zaki kembali tertawa seolah tak puas meledek Dewa.


"Kalau bukan Mala yang minta juga gua nggak mau minum susu!"


"Bukan main, terlalu bucin lo sama Mala. Tapi nih ya, cewek polos kayak Mala tuh langka, di jaman modern seperti sekarang ini, Wa."


"Iyalah, langka. Mana ada cewek SMA nggak ngerti masalah gituan. Mereka bahkan udah jebol duluan, bahkan sebelum masuk SMA udah paham gituan. Sedangkan Mala... Ya Tuhan, gua benar-benar ngerasa kayak jadi setan!"


"Emm ... Lo pasti udah ehem ehem in dia ya? Ngaku lo!"


Dewa menutup mulut Zaki saat pelayan.  mengantarkan kopi pesanannya.


"Yoi, makasih," katanya pada pelayan itu.


"Mulut lo dijaga! Jangan kenceng-kenceng bego!" Dewa melepaskan bekapannya. Zaki hampir  saja mati karena kehabisan napas.


"Lo mau bunuh gua hah!"


"Lo sih berisik!"


Zaki berpindah duduk di samping Dewa. "Jujur aja lo udah apain Mala heh? Gila lo cewek sepolos itu lo nodai!"


"Otak lo yang udah miring kali! Gua nggak apa-apa in dia lah, gua juga tahu batasan!"


Zaki tidak yakin melihat raut wajah sahabatnya itu. "Hati-hati lo, hebat banget bisa nahan godaan, kalau gua mah udah gua sikat si Mala,"


"Sikat-sikat! Lo kira apaan!"


Itulah obrolan Dewa jika sudah bertemu dengan temannya Zaki. Belum lagi kalau ada temannya Dika, cowok yang kerjanya tebar pesona dan gonta-ganti pacar. Sudah pasti obrolan mereka mengarah ke hal yang berbau mesum, bahkan Dewa sendiri sampai jengah kalau teman-temannya membicarakan hal seperti itu di depannya.


...________...


Thankyou ~

__ADS_1


__ADS_2