
Mala baru saja selesai membereskan barang-barangnya dari dalam koper. Memindahkan pakaian ke lemarinya, meski tidak banyak. Baju Mala masih tertata rapi di lemarinya.
Kedua mata Mala berpusat pada dinding kamarnya. Foto-foto Dewa begitu banyak terpajang di sana. Senyuman Mala melingkar tipis, rupanya foto-foto itu masih ada dan tidak berubah posisinya.
Tentu siapa yang berani memindahkan foto-foto tersebut kalau bukan dirinya sendiri. Mala mengambil foto-foto itu lalu memasukkannya ke dalam kotak. Mala merasa foto itu sebaiknya tidak perlu ada di sana. Tapi, mendadak perasaanya tidak nyaman. Mala berpikir kalau hanya foto sepertinya tidak masalah. Dewa juga tidak akan masuk ke kamarnya lagi, bukankah begitu?
Mala pun mengembalikan foto-foto tadi ke posisinya semula. "Kamu lagi apa, Kak?" tanyanya sambil mengelus foto Dewa.
"Dasar gila! Ngapain ngomong sama benda mati." Mala menggeleng kemudian melanjutkan lagi aktifitasnya.
Malam pun datang. Kota Bandung semakin dingin saja di malam hari. Mala keluar membawa seikat sampah, dia hendak membuangnya ke tempat sampah di depan rumahnya. Mala melirik ke rumah Dewa, sepi dan gelap. Ah, dia lupa, bundanya bilang Max dan Nayra pindah ke Jakarta bersama Natasha. Maxime mempercayakan perusahaannya kepada Dewa, putranya.
"Astaga. Kalau gitu Kak Dewa tinggal sendiri? Atau rumah ini udah di jual terus dia tinggal di apartemen?" gumam Mala sambil memasukkan sampah itu ke dalam tempatnya.
Saat dia sedang berdiri sambil mencuci tangannya di keran yang ada di dekat gerbang rumahnya. Sorot lampu mobil membuat matanya silau. "Ah mobil siapa sih!" decaknya.
Terlihat sosok wanita yang mengenakan high heels berwarna merah terang dengan kaki jenjang yang begitu mulus turun dari mobil tersebut. Kemudian menyusul seorang lelaki yang sedang di papah oleh wanita itu. Mala melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang baru saja keluar dari mobil.
"Astaga." Mala membatu di posisinya.
Pria itu melirik ke arah Mala, dia pun sama terkejutnya. Pria itu seketika melepaskan genggaman tangan wanita di sisinya.
"Mala?"
Nirmala mengalihkan pandangannya. Dia segera berbalik lalu masuk ke dalam rumahnya. Mala menutup rapat pintunya dengan keras sambil memegangi dadanya.
"Kak Dewa."
Mala melihat Dewa yang terhuyung-huyung berjalan masuk ke gerbangnya. Tapi wanita sebelahnya menarik tubuh Dewa. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya Dewa sedang mabuk saat itu. Mala hanya terus memperhatikan wajah Dewa, rupanya itu pria yang selama ini dia rindukan. Selama tiga tahun ini selalu menyita pikirannya juga perasaannya. "Kamu udah punya pacar baru?"
Meski Nayra mengatakan bahwa Dewa tidak pernah berhubungan dengan wanita lain selain Mala. Itu yang dia dengar dari bundanya.
Dewa bersimpuh di depan gerbang rumahnya. Mala menutup tirai jendela dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Buat apa dia kayak gitu. Jelas-jelas dia punya pacar. Sudahlah, Mala."
Nirmala menganbil foto-foto Dewa, lalu membuangnya ke dalam tong sampah. "Jangan cengeng. Mala yang sekarang adalah Mala yang kuat."
Gadis itu meraih selimut lalu menutupi tubuhnya. Sebisa mungkin Mala tidak ingin terpengaruh dengan tatapan Dewa tadi saat melihatnya. Tapi, wajah wanita itu terus menghantui pikiran Mala, apakah dia benar kekasih Dewa yang baru? Sangat seksi dan cantik. Mala meringis, hatinya masih merasa sakit.
****
Pagi harinya.
Mala sudah rapi dengan pakaian kantornya. Hari ini dia akan melakukan interview dengan sebuah perusahaan. Mala ingin mencoba peruntungan karirnya. Tadinya Mala berniat mengambil kuliah seni, tapi kalau dipikir-pikir sebaiknya Mala mengambil jurusan yang membuatnya bisa cepat mendapatkan pekerjaan.
Akhirnya Mala mendapatkan panggilan interview setelah beberapa hari sebelum ke Indonesia Mala sempat memasukkan lamaran pekerjaan di perusahaan tersebut.
"Semangat Mala. Kamu pasti bisa." Mala mengibaskan rambutnya di depan cermin. Kali ini dia memastikan bahwa Mala yang sekarang bukan Mala yang cengeng lagi.
__ADS_1
Mala yang sekarang adalah Mala yang penuh optimis dan juga kuat.
Mala keluar dari rumahnya. Lagi-lagi matanya tidak pernah melewatkan sekalipun untuk menatap rumah di sebelahnya. Mala menggeleng-gelengkan kepalanya secepat kilat. Ia harus menghilangkan tanda tanya tentang Dewa, dia sudah menguatkan hatinya bahkan jika keduanya harus berpapasan sekalipun.
Gadis itu berjalan keluar saat taksi yang dia panggil sudah datang. Mala pun masuk ke dalam taksi menuju perusahaan tempat ia akan melakukan interview.
Berselang beberapa saat. Dewa keluar dari rumahnya menaiki mobilnya. Kaca mobilnya terbuka tepat di depan gerbang rumah Mala. Semalam Dewa melihat sosok Nirmala ada di depan rumah itu. Dewa berpikir dia pasti terlalu mabuk hingga merasa Mala ada di depannya.
"Mana mungkin itu dia," gumam Dewa menutup kembali kaca mobilnya. Mobilnya kembali melaju ke perusahaan tempat dia bekerja.
Dewa kini berusia 25 tahun. Posisinya adalah CEO di perusahaan milik daddy-nya, Maxime Nichole. Daddy-nya memutuskan untuk menyerahkan perusahaan itu kepada putranya. Max tidak bisa jauh dari cucu kembarnya, putra-putri Natasha yang begitu lucu berusia lima tahun saat ini. Max dan Nayra memilih ikut tinggal dekat dengan Natasha di Jakarta, karena suami Natasha pindah tugas ke Jakarta.
Berhubung perusahaan di Bandung tidak ada yang menjaga, akhirnya Dewa lah yang sekarang bertanggung jawab mengurus perusahaan itu setelah dia memutuskan tetap berada di Bandung.
Sesampainya di kantor. Dewa berjalan santai menuju ke ruangannya. Para karyawan bergantian menyapa CEO muda yang selalu berhasil menghipnotis pandangan mata karyawannya, terutama para karyawan wanita.
Pesona Dewa semakin kuat terutama saat pria itu begitu ramah menyapa para karyawan dengan senyuman manisnya. Dua lesung pipinya semakin membuat orang-orang terpesona.
"Pak Dewa. Di dalam sudah ada yang menunggu." Karyawan Dewa memberikan dokumen kepada Dewa.
"Calon sekertaris baru? Dia udah datang?" tanya Dewa tidak membuka dokumen tersebut, ia malah mengembalikannya kepada karyawannya.
"Bawa masuk aja ke dalam, nanti aja saya baca. Orangnya udah di dalam kan?"
"Iya, Pak. Orangnya udah di dalam. Kemarin saya kasih salinan biodata orangnya, apa bapak udah lihat?"
Dewa mengusap wajahnya. Dia lupa kemarin seharian dia tidak membuka laptop sama sekali. Dewa pergi ke bar memenuhi undangan temannya, Zaki dan Dika. Semalam dia malah mabuk di antar oleh temannya.
"Baik, Pak." Karyawan itu mengangguk.
Dewa segera masuk ke dalam ruangannya. Saat itu ia melihat punggung seorang wanita yang sedang duduk di depan meja kerjanya.
"Khem." Dewa berdehem.
Mendengar ada yang datang. Wanita itu berbalik.
Suasana hening saat keduanya saling memandang, kaget.
"Mala?"
Wanita itu ternyata adalah Nirmala. Dewa secepatnya meraih map yang ada di tangan karyawannya. Lalu ia membuka map tersebut. Betapa terkejutnya dia saat melihat profil yang tertulis di sana.
"Jadi kamu calon sekertaris aku?"
Tentu saja keduanya sama-sama terkejut. Dewa tidak menyangka dan masih belum percaya bahwa gadis yang ada di depannya adalah Mala. Gadis itu juga terlihat kaget, tapi Dewa semakin kaget ketika gadis itu berdiri dan merunduk dengan senyuman lebarnya.
"Selamat pagi, Pak. Saya Nirmala yang melamar sebagai calon sekertaris baru di perusaan ini." Gadis itu begitu tenang tanpa rasa gugup.
Dewa meneguk ludahnya sambil memijat kening. "Astaga."
__ADS_1
Mereka masih saling memandang.
"Kamu keluar dulu ya," kata Dewa pada karyawannya.
"Baik, Pak."
Mata mereka kembali bertemu. Saat itu Nirmala begitu tenang dengan senyuman kecilnya.
"Kamu beneran Mala kan?" ucap Dewa berjalan mendekati Mala. Tapi gadis itu malah bergerak mundur.
"Stop. Berhenti di situ, Pak."
Dewa pun berhenti. "Mala, aku kangen," lirihnya.
Mala mengalihkan pandangan sambil menarik napas dalam-dalam. Sedetik setelah itu dia kembali tersenyum pada Dewa.
"Saya tidak tahu kalau ini perusahaan Pak Dewa. Maaf sepertinya saya salah masuk perusahaan. Saya permisi ya, Pak."
"Mala, tunggu!" Dewa menghalangi Nirmala yang hendak keluar dari ruangannya.
"Kamu saya terima jadi sekertaris saya." Dewa susah payah mengucapkannya dengan bahasa yang formal. "Silahkan duduk kembali."
Nirmala menghela napas panjang. "Maaf tapi saya tidak lagi tertarik. Permisi."
"Tapi saya tertarik." Dewa menggenggam telapak tangan Mala yang masih tetap ingin pergi.
Saat itu keduanya saling menatap lagi. Mala akhirnya dapat melihat sepasang mata bening yang sangat ia rindukan itu. Hidung mancung dan bibir merah pria yang selalu ada di dalam hati terdalamnya.
"Saya tertarik menjadikan anda sebagai sekertaris saya. Saya rasa anda berkompeten. Tolong jangan pergi," ucap Dewa.
Mala merasa sangat bodoh. Bagaimana dia bisa tidak tahu, bahwa itu adalah perusahaan Dewa. Ya, Mala memang tidak pernah tahu perusahaan keluarga Dewa sebelumnya. Mala juga salah karena tidak menggali lebih dalam tentang informasi perusahaan itu.
Keduanya masih tertawan dengan tatapan masing-masing. Mala sudah memutuskan untuk tidak lagi menjadi gadis yang cengeng. Mala ingin menjadi gadis yang kuat dan mandiri. Saat ini mencari pekerjaan tidaklah mudah, apakah Mala akan membuang kesempatan itu begitu saja hanya karena pemilik perusahaan itu adalah Dewa?
Padahal sebelum pulang ke Bandung. Mala sudah bertekad untuk tidak lemah lagi di hadapan Dewa dan siapapun itu.
"Bagaimana?" tegur Dewa seketika memecahkan lamunan Nirmala.
Gadis itu tersenyum. "Baik, saya akan bekerja dengan baik."
Senyuman Dewa terlihat berbeda. Dia ingin sekali meraih pipi Mala dan menciumnya. Jadi benar, gadis yang ada di depannya saat ini adalah gadis kecil kesayangannya. Gadis yang paling dia cintai hingga kini. Dewa ingin memeluk Mala, tapi sepertinya Mala sudah banyak berubah.
"Terima kasih, kamu bisa mulai bekerja besok."
Dewa melepaskan genggaman tangannya lalu kembali ke kursinya.
Mala mengangguk. "Saya permisi dulu, Pak. Sekali lagi terima kasih."
Mala keluar dari ruangan itu sambil menyentuh dadanya. Sekuat tenaga ia berusaha tetap tenang tadi, dan itu sangat menyiksa. Mala menghirup banyak oksigen sambil memompa detak jantungnya agar kembali normal.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka bakalan bertemu kamu dengan cara seperti ini Kak."
Mulai besok keduanya akan sering bertemu sebagai bos dan karyawan. Inikah takdir Mala? Dia akan bersama Dewa sebagai bawahan dan atasan, bukan lagi sebagai sepasang kekasih.