Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
19 : Kita Putus Aja, Mala


__ADS_3

Dewa sudah berada di depan rumah Natasha. Teringat lagi saat Mala begitu lemah tadi. Gadis kecilnya terus menangis tiada henti karena tidak ingin Dewa pergi lagi. Saat itu Dewa merasa sangat bersalah, dia berpikir Mala sakit karenanya.


"Wa. Kamu kok malah di sini? Ayo masuk," ajak Natasha saat melihat Dewa hanya termenung di depan pintu.


"Kak. Daddy udah tidur?" tanya Dewa pada kakaknya. Hari sudah larut, tapi Natasha sejak tadi menunggu adiknya pulang sehingga dia sengaja tidak tidur.


"Udah, tadi Daddy nunggu kamu. Tapi kayaknya dia kecapean, dia ketiduran."


Natasha dapat melihat gurat kesedihan dari wajah adiknya. "Dewa? Kamu nggak apa-apa, kan?"


Meski keduanya berbeda ibu. Tapi Natasha sangat menyayangi Dewa, ia pun cukup memahami watak adiknya, dia adalah lelaki yang kuat. Tapi sekarang apa ini? Natasha melihat adiknya seperti habis menangis dengan mata yang agak bengkak.


"Mala baik-baik aja, kan?"


Dewa memeluk kakaknya. Saat itu dia benar-benar merasa buruk. "Mala lemah, Kak. Kata dokter bukan hanya maag. Lambung Mala bermasalah dan harus dilakukan pemeriksaan," terangnya pada kakaknya.


Natasha menepuk-nepuk punggung adiknya pelan. "Mala pasti sembuh. Kenapa dia bisa sampai sakit gitu, Wa?"


Dewa menghembuskan napas panjang. "Karena Dewa. Mala stress, dia terlalu memikirkan Dewa. Sampai-sampai dia lupa makan, terlalu sering melamun dan bersedih. Ini semua karena Dewa."


Wanita berumur tiga puluh tahun itu tidak tahu, kenapa Mala bisa sampai stress? Apa karena tidak bisa berjauhan dari adiknya?


"Kakak nggak tahu kenapa kalian harus menjalani hubungan jarak jauh begini, Wa. Tapi, kalau menurut Kakak, lebih baik kalian jangan memaksakan diri jika memang Mala tidak sanggup, Wa."


Dewa melepaskan pelukannya sambil memikirkan kata-kata kakaknya barusan. "Memaksakan?"


"Ya, kalau sampai pacar kamu sakit begitu. Itu karena dia tertekan. Mala nggak bisa berhubungan jarak jauh, kamu paham kan?"


Benar yang dikatakan Natasha. Mala memang sering mengatakan bahwa dia tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh  seperti sekarang. Tapi Mala selalu mengatakan dia baik-baik saja. Sampai akhirnya keadaan Mala makin memburuk sekarang. Dewa hanya terus berpikir bagaimana caranya agar Mala tidak perlu merasa tertekan lagi.


"Dewa. Kamu istirahat ya. Kakak yakin Mala akan baik-baik saja. Kamu sekarang tidur, besok kamu bisa jenguk Mala lagi, iyakan?"


Dewa mengangguk. "Baik, Kak. Dewa masuk dulu ke kamar," balasnya.


"Iya, istirahat gih."


*****


"Selamat pagi, anak Bunda yang cantik, kamu udah enakan?"


"Pagi, Bunda. Mala udah enakan, kok. Kak Dewa belum datang ya Bun?"


Bunda Mala tersenyum lalu mengusap pipi putrinya. "Belum, Sayang. Sabar ya, kata Dewa dia di sini tiga hari kok."


"Tiga hari?"


"Iya, dia kan mau jemput kakaknya. Katanya cuma tiga hari aja, Mala. Tadinya mau ajak Mala jalan-jalan, tapi Mala sakit."


"Kok sebentar ya..." kata Mala, murung.


"Sayang, kamu sakit gini karena nahan kangen ya? Kamu belum bener-bener bisa jauh dari Dewa karena kamu merasa Dewa pacar kamu, iya?"


Mala menggeleng. "Enggak. Mala udah berusaha kok. Mala sakit karena memang waktunya Mala sakit. Bukan karena Kak Dewa."


Suara ketukan pintu.


Bunda Mala menengok ke arah pintu. "Bunda buka pintunya dulu ya,"

__ADS_1


"Iya, Bun." Mala melirik ke arah pintu. Ia berharap yang datang adalah kak Dewa-nya.


Saat bunda Mala membuka pintu.  Benar saja, yang datang ternyata adalah Dewa.


"Pagi, Tante." Dewa berpakaian rapi sambil membawa seikat bunga dan juga sebuah boneka. Bunda Mala mengetahui itu pasti untuk Mala.


"Pagi, Dewa. Masuk gih, kebetulan Tante mau telpon Om dulu," ucap Bunda Mala mempersilahkan Dewa agar menemui putrinya.


"Baik, Tan." Dewa pun masuk, sementara Bunda Mala keluar dari ruangan Mala.


"Kak Dewa!" seru Mala, girang.


"Mala." Dewa berjalan mendekati Mala. Gadis itu seolah lupa bahwa keadaan dia begitu lemah saat ini. Gadis itu menghambur memeluk erat Dewa.


"Mala kangen, Kakak."


Dewa mengelus kepala Mala. Saat itu Dewa mendadak ragu untuk memberitahu Mala tentang niatnya datang yang bukan hanya sekedar ingin menjenguk saja.


"Buat kamu," ucap Dewa sambil menyerahkan seikat bunga dan boneka kelinci kesukaan Mala.


"Wah, Bunny. Makasih, Kak." Mala tersenyum senang sambil memeluk boneka kelinci dari Dewa. Ditaruhnya bunga mawar pemberian Dewa ke atas meja.


Dewa duduk di sisi ranjang Mala. Gadis itu terus tersenyum sambil menatap kedua mata Dewa.


"Masih sakit?" tanya Dewa sambil mengelus pipi Mala lembut.


"Enggak, Mala udah sembuh." Gadis itu menggeleng.


"Mala harus sembuh. Kelak Kakak nggak mau kalau Mala sampai sakit lagi kayak gini, oke?"


"Iya, Mala janji," angguknya.


"Mala."


"Ya?"


Keduanya saling menatap lekat.


Mala tersenyum tipis sambil menggenggam erat tangan Dewa. "Ada apa, Kak?"


"Mala tahu kan, kalau Kakak sayang banget sama Mala?"


Tentu Maka mengetahui hal itu. "Iya, tentu Mala tahu," jawabnya.


"Mala tahu kalau Kakak sedih. Kakak sedih lihat Mala sakit kayak gini," tanya Dewa lagi.


"Iya," angguk Mala lagi.


"Terus kenapa Mala sengaja nggak makan?"


"Mala makan kok, cuma sedikit."


Dewa melepaskan genggaman tangan Mala. Hal itu membuat Mala bingung dengan sikap Dewa. Mala tidak mengerti, apakah Dewa sedang marah?


"Tapi kalau Mala makan, nggak mungkin sampai sakit gini," kata Dewa.


Mala hanya diam tertunduk.

__ADS_1


"Maafin Kakak, Mala. Ini semua karena Kakak. Dari awal Kakak cuma jadi penghalang, cuma bikin Mala sakit. Karena Kakak juga Mala sampai seperti ini. Mala nggak fokus kuliah, malah harus terbaring di rumah sakit kayak sekarang."


Saat itu Mala langsung mengangkat wajahnya. "Bukan. Ini semua bukan salah Kakak."


"Kita putus aja, Mala."


Putus? Apa Mala tidak salah dengar? Batin Mala.


"Hah? Kakak bilang apa?"


Kedua mata Mala terasa perih. "Kakak! Kakak bilang apa!" teriak Mala.


Dewa mendekat lalu memeluk Mala. "Jangan teriak, nanti perut kamu sakit lagi."


Bagaimana bisa Mala tidak histeris. Barusan Dewa mengatakan hal yang sangat mengejutkannya.


"Kakak bilang apa tadi?" tanya Mala, gadis itu mendongak lalu melepaskan pelukan Dewa.


"Kakak mau nyerah? Kakak nggak mau lagi sama Mala, karena Mala penyakitan!"


Bukan itu yang dimaksud Dewa. Tapi, Mala sudah salah paham.


"Mala, mana mungkin kakak berpikir seperti itu. Bukan karena itu. Tapi, Kakak merasa hubungan jarak jauh bikin kamu tersiksa. Sedangkan kamu akan lebih fokus kalau kita nggak memiliki hubungan yang seperti itu dulu sekarang, Mala."


Nirmala bukan gadis bodoh. Nirmala mungkin polos. Tapi, seharusnya Dewa sadar ucapan dia itu hanya akan membuat Mala semakin sakit. Memang sulit jauh dari Dewa. Tapi, Mala sekuat tenaga berusaha untuk melakukannya, ini adalah pilihannya. Ini juga adalah kesepakatan antara dia dan Dewa, lelaki yang paling ia cintai.


"Kalau Kakak sayang sama Mala. Kakak nggak akan dengan mudah bilang putus, Kak. Kita udah bareng-bareng selama lima tahun."


Saat itu, pertemuan pertama Mala dengan Dewa. Tepatnya saat Mala berusia dua belas tahun. Gadis kecil itu baru saja lulus dari sekolah dasar.


Keduanya seperti kakak dan adik, Mala dan Dewa. Mala selalu menempel pada Dewa. Mereka begitu akrab, sampai-sampai Dewa tidak sadar bahwa hubungan mereka mungkin terlalu dekat, keduanya saling memiliki perasaan yang tidak biasa.


Mala mengakui perasaannya lebih dulu pada Dewa. Mala yang berusia enam belas tahun kala itu mengaku menyukai Dewa yang berusia enam tahun diatasnya.


"Seharusnya kakak tahu, sesuka apa Mala sama Kakak."


Mereka bukan hanya tetangga. Mala menyukai Dewa, begitu pun sebaliknya. Kini mereka di uji untuk saling berjauhan. Lalu Dewa? Ingin mengakhiri hubungan itu begitu saja. Apakah semudah itu? Tentu Mala akan semakin terluka.


"Mala. Kakak nggak mau kamu terus menerus terpuruk hanya karena jauh dari Kakak. Meski Kakak juga merasakan hal yang sama. Kakak juga mau selalu ada dekat kamu, Sayang."


Air mata Mala akhirnya jatuh membasahi pipinya.


"Lalu kalau kita putus apa semua akan selesai?" tanya Mala. "Semua butuh proses, itu kan yang Kakak bilang?"


"Kakak selalu bilang itu sama Mala. Maaf, karena Mala bikin tubuh Mala sampai sakit, maaf itu bikin Kakak cemas, maafin Mala. Tapi..." suara isak tangis tak tertahankan dari Mala akhirnya terdengar.


"Tapi Mala nggak mau! Nggak mau pisah!" gadis itu menangis tersedu-sedu.


Bunda Mala terkejut saat melihat putrinya menangis histeris. "Ya Tuhan, Mala." Tapi ia memilih tetap diluar, ia mengerti bahwa anaknya butuh waktu menyelesaikan semuanya. Bunda Mala sudah tahu niat Dewa yang ingin memutuskan hubungan dengan Mala.


Meski rasanya itu sangat riskan, dan juga Mala tidak akan menerimanya begitu saja. Tapi bunda Mala menyerahkan semuanya pada Dewa dan putrinya.


"Jangan gini, Sayang. Maaf, iya Kakak salah." Dewa memeluk erat tubuh Mala. Sejujurnya ia pun tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Mala yang awalnya berjalan manis, mulus dan harmonis itu. Tapi, Dewa berpikir hanya ini satu-satunya cara. Ternyata Mala tidak dapat menerima ini.


"Jangan ngomong gitu lagi, kalau Kakak masih mau lihat Mala. Maaf karena bikin Kakak cemas, karena Mala sakit kayak gini. Mala janji akan makan dengan baik, Mala nggak akan sakit gini lagi, Kak."


Dewa begitu lemah. Tentu dia tidak ingin melihat air mata dari gadisnya. "Maaf ya. Maafin Kakak, Sayang."

__ADS_1


*******


Bersambung...


__ADS_2