Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
29 : Apa Aku Terlalu Tergesa?


__ADS_3

Mala mencoba melepaskan ciuman Dewa yang begitu dalam hingga ia kesulitan bernapas. Dewa melepaskannya sejenak. Tapi tangannya masih mencengkeram dua bahu Mala dengan kuat.


"Stop Kak! Kenapa Kakak cium aku!" sentak Mala dengan suara meninggi.


"Karena Kakak mau cium kamu. Kakak mau tepatin janji Kakak, cium kamu lebih lama saat kita bertemu lagi." Dewa menawan kedua mata Mala hingga gadis itu tidak dapat berkutik.


"Omong kosong. Itu cuma masa lalu." Mala menggeleng.


"Bagi Kakak itu semua bukan omong kosong. Kamu tahu? Kakak datang ke Korea tepat waktu kamu wisuda. Tapi, Kakak nggak jadi menemui kamu, sewaktu Kakak tahu, kamu udah punya pacar."


"Hah?" kaget Mala. "Pacar?"


Dewa mengusap wajahnya. "Kakak nggak peduli, Mala. Meski Kakak nggak lihat wajah dia, tapi Kakak lihat dia cium kamu. Apa itu namanya kalau bukan pacar."


Mala mengerutkan kening. Dia tidak pernah berciuman dengan cowok selain Dewa. Lalu siapa yang Dewa lihat itu?


"Kak. Aku nggak pernah ciuman dengan lelaki lain. Mana mungkin, Kakak pasti salah!"


Dewa tidak mungkin salah. Saat itu dia melihat Mala mencium seorang pria di depan teman-temannya. Dewa tidak mungkin salah lihat orang, itu memang Mala.


"Coba kamu ingat-ingat lagi. Kakak nggak tahu kenapa kamu cium dia. Tapi yang jelas waktu itu kamu berjalan ke arah dia dan langsung cium dia di depan teman-teman kamu." Dewa meremas telapak tangannya dengan rahang yang mengeras. "Kakak benci lihatnya Mala."


Mala mengingat lagi di hari dia wisuda. Saat itu memang datang seorang lelaki, lalu memberikan seikat bunga untuknya.


"Apa yang Kakak maksud Gilang?" tanya Mala memastikan. Karena hanya Gilang yang Mala lihat datang ke acara wisudanya.


"****! Jadi rupanya dia si Gilang? Temen SMA kamu? Anak pindahan?"


Mala menggigit ujung kukunya. Saat itu Mala tidak sengaja jatuh di pelukan Gilang bahkan bibirnya menyentuh bibir Gilang secara reflek saat ada orang di belakangnya yang tidak sengaja mendorongnya.


"Mala baru ingat. Itu cuma kecelakaan."


Dewa masih geram. Saat itu Dewa ingin memukul wajah lelaki yang berani mencium bibir Mala. Tapi, dia merasa tidak punya hak menghancurkan hari bahagia Mala yang akhirnya lulus dari universitas. Dewa memutuskan untuk pergi dan berusaha melupakan Mala. Tapi, hasilnya nihil. Dewa tidak bisa membuat Mala hilang dari hatinya.


"Kecelakaan?"


Mala mengangguk. "Ada orang yang nggak sengaja dorong aku. Waktu itu Gilang mau kasih ucapan selamat. Aku jatuh di pelukan dia, nggak sengaja bibirku menyentuh bibirnya. Hanya itu." Meski dia tidak tahu apa itu semua perlu dia jelaskan pada Dewa.


Dewa menarik napas dalam-dalam, lalu menarik lagi wajah Mala hingga bibir mereka saling bertemu lagi. Mala mendorong Dewa sambil melotot. "Kak!"


"Kakak mau hapus bekas bibir dia! Kalau emang nggak sengaja, berarti dia juga emang nggak punya hak cium kamu!" tegas Dewa. Posesif.


"Nggak! Kakak juga bukan pacar Mala."


"Mulai sekarang kamu hanya pacar aku, Nirmala Cheryl Lesmana!"


Dewa kembali mencecap bibir Mala, bahkan Dewa menggendong tubuh Mala membawanya masuk ke dalam kamar. Dewa membaringkan tubuh Mala dan herannya Mala hanya diam menerima perlakuan Dewa.


Ciuman itu masih berlanjut dan Mala mulai menyadari bahwa ini tidak boleh terjadi. Mala memukul dada bidang Dewa berulang sambil menangis. Dewa pun melepaskan ciumannya dan kembali menatap mata gadis di depannya.


"Mala, kamu nangis?" tanya Dewa.


"Kamu nggak boleh cium aku! Aku juga nggak mau jadi pacar kamu!" tekan Mala.


"Kamu nggak usah bohong. Kakak bisa lihat dari sorot mata kamu. Kamu masih sama, kamu masih Mala-nya Kakak."


Yang dikatakan Dewa mungkin benar. Tapi kejadian yang lalu, Mala belum bisa melupakannya.


"Kak."


"Hm?" sahut Dewa masih berada di atas Mala dengan posisi saling menatap lekat.

__ADS_1


"Jelasin ke aku. Waktu itu yang aku lihat. Apa Alyra dan kamu saling memeluk. Atau Alyra-"


"Dia meluk aku," potong Dewa. "Dia tiba-tiba datang, saat aku menuju ke basecamp kita. Ternyata dia meluk aku dari belakang. Nggak lama, nggak sampai dua menit, aku lepas pelukan dia."


Mala mengerjapkan matanya, lalu kembali menatap Dewa. "Kamu jadian lagi sama dia?"


"Enggak! Aku nggak pernah punya pacar selain kamu setelah aku mengenal kamu, Mala!" tegas Dewa.


Selama tiga tahun Mala menutup diri dan tidak mau mendengarkan penjelasan Dewa. Bukan karena dia tidak percaya pada Dewa. Mala hanya ingin dirinya kuat bertahan di Korea sampai dia lulus. Mala ingin membuktikan dia bisa berkembang dan membuat bangga orang tuanya. Termasuk Dewa.


"Lalu, kamu bangga nggak?"


"Bangga?" Dewa bingung dengan maksud kata-kata Mala. "Bangga sama siapa?"


"Bangga. Bangga saat Mala lulus kuliah seperti sekarang. Setelah kita putus dan nggak berkomunikasi selama tiga tahun lebih," terang Mala.


Dewa mengangguk. "Pasti. Kakak yakin Mala bisa. Kakak bangga."


Mala menunduk sambil meneteskan air mata. "Mala tersiksa, tapi Mala berusaha sekuat tenaga supaya bisa lulus. Mala sadar Mala bukan gadis pintar, Mala juga bukan apa-apa dibanding Alyra yang berprestasi di kampus. Mala berpikir nggak pantes untuk Kakak. Sebaiknya kita putus dan itu adalah pilihan terbaik, Kak."


Kata-kata Mala itu sangat mengejutkan Dewa. Jadi, itu alasan dibalik semua sikap diam Mala padanya selama ini. Mala merasa insecure?


"Hei. Jadi kamu merasa insecure dengan diri kamu sendiri?" tanya Dewa. Mala mengangguk. "Dulu, dan aku berhasil melewati itu meski menyakitkan."


Dewa mengusap pipi Mala lalu menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi gadis yang paling di cintanya itu. "Tapi Kakak nggak mau putus sama kamu, Mala."


Mala tersenyum. "Buktinya Kakak bisa sukses, dan Mala bisa lulus. Itu tandanya keputusan Mala kemarin udah benar."


Dewa merasa ini tidak masuk akal. "Lalu kenapa saat kakak mau kita putus, kamu menolak?"


"Karena waktu itu belum ada Alyra. Semua karena kehadiran Alyra. Mala berpikir untuk menjadi kekasih Kakak setidaknya harus pintar seperti Alyra."


"Huh." Dewa menghela napas panjang.


"Sekarang Kakak udah tahu alasan Mala. Kita sebaiknya begini aja Kak. Nggak perlu jadian lagi." Mala mengalihkan tatapannya.


"Kenapa? Kamu udah nggak sayang Kakak?"


Mala hanya diam. Bukan karena itu. Tapi, Mala hanya belum siap memulai hubungan yang seperti itu lagi.


"Kakak nggak pulang?" ujar Mala tidak ingin membahas masalah itu.


"Nggak. Kakak akan di sini. Mala harus kembali seperti dulu. Kakak nggak bisa terima. Kakak nggak mau kita berakhir gitu aja." Dewa menegaskannya sambil berbisik di telinga Mala.


Gadis itu merinding saat udara hangat melewati daun telinganya. Dewa mengecup lemah leher Mala yang terbuka. Dicecapnya ceruk leher Mala dengan pelan. Mala memejamkan mata sambil mencengkeram kedua bahu Dewa.


"Kak. Hentikan!" pekik Mala saat ciuman Dewa di lehernya makin dalam dan kuat.


"I love you, Mala. I still love you."


Mala hanya diam sambil membulatkan matanya. "Kak...."


"Kakak cinta kamu. Tidak pernah berubah sama sekali. Kamu tetap di sini," kata Dewa mengarahkan tangan Mala untuk menyentuh dadanya. "Masih di sini, Sayang."


Mala menatapnya masih sama. Dewa yakin Mala masih mencintainya juga. "Kamu juga, kan? Masih cinta aku?"


Dewa agak berbeda. Sorot matanya menggelap. Mala tidak dapat bergerak. Tatapan lelaki itu mengunci seketika pergerakannya.


Mala meneguk ludah sambil memejamkan mata seolah tahu bahwa Dewa akan kembali menciumnya. "Don't kiss me,"


"Why?"

__ADS_1


Mala sangat lemah terhadap ciuman Dewa. Seolah dia akan berubah menjadi sangat bodoh ketika bibir Dewa menyentuh bibirnya.


"Em...." geleng Mala lalu mencoba mengabaikan tatapan itu. Ia makin tidak menentu ditatap Dewa begitu.


"Baby lihat aku." Dewa meraih dagu Mala mengarahkan ke depan wajahnya. "Ini aku, tidak pernah berubah. Aku tahu kamu pun sama. Hanya butuh waktu saja, bukan?"


Mala tidak mau apa benar begitu. Tapi dia berusaha untuk tidak kembali jatuh dalam jerat cinta Dewa yang memabukkan itu. Selama beberapa tahun menimba ilmu, Mala tidak pernah tersentuh oleh pria mana pun. Dewa adalah orang pertama dan terakhir yang menyentuh hati terdalamnya itu.


"Hentikan, Kak. Kita udah nggak bisa." Mala menggeleng. Matanya berkaca-kaca menatap Dewa.


"Bisa, Sayang, aku akan berusaha bikin kamu yakin. Kamu masih sangat cinta aku," kata Dewa yakin.


Namun sebaliknya, justru Mala merasa ragu.


"Hanya malam ini saja, besok kita anggap semuanya tidak terjadi apa-apa," ucap Mala kini jaraknya dengan Dewa hampir tidak ada. Mala dapat merasakan embusan napas hangat Dewa mengenai wajah polosnya.


Dewa menyeringai. "Nggak janji. Kamu cuma milik Kakak."


"Nggak. Kita belum sah," tegas Mala kini dia yakin dia tidak salah berkata begitu.


"Yaudah besok kita sahkan. Gampang," ujar Dewa dengan sangat santai.


Mala tidak tahu harus menjawab apa. Dia terdiam beberapa saat dan Dewa masih menunggu.


"Mala."


"Mala masih mau kerja dulu," ucap Mala tiba-tiba.


Dewa mengangguk. "Oke. Nggak masalah. Kakak nunggu kamu, sekarang biarin Kakak cium kamu."


"Tumben bilang, biasanya juga nggak pernah." Mala berkomentar masih memejamkan matanya. Hentikan Mala. Kenapa kamu seolah menantangnya!


Dewa terkekeh pelan. "Kamu benar."


*****


Morning. Maaf nggak bangunin kamu. Aku pulang dan siap-siap ke kantor. Kamu mandi ya, kita ke kantor bareng. Love you, Dewa.


Mala tersenyum saat membaca secarik kertas yang ditinggalkan oleh Dewa diatas meja riasnya. Semalam Mala tertidur di pelukan Dewa sampai pagi. Mala tidak sadar saat Dewa pergi, ia terlalu mengantuk.


"Dasar mesum!" Mala menggeleng lalu beranjak ke kamar mandi. Dia melewati cermin dan terkejut melihat banyak sekali tanda merah di lehernya.


"Ih ini pasti ulah dia," gumam Mala sambil menyentuh tanda-tanda itu.


Mala menghentakkan kakinya sambil tersenyum-senyum sendirian. "Bodoh! Kenapa sih susah banget nolak!"


Setelah mandi dan bersiap mengenakan pakaian kantornya. Mala tak lupa memakai scarf di lehernya untuk menutupi tanda merah yang ada di sana. Ini hari pertamanya bekerja, mana mungkin dia menggegerkan orang-orang kantor jika tertangkap memiliki banyak tanda merah di lehernya.


"Mana mungkin aku bilang abis kerokan. Mana ada yang percaya."


Tin.


Suara klakson mobil terdengar. Mala menyentuh dadanya kaget.


"Itu pasti Kak Dewa."


Setelah kejadian semalam. Apakah itu tandanya mereka kembali jadian?


"Apa aku terlalu tergesa?" ucap Mala. Dia memang selemah itu. Masih lemah dihadapan Dewa.


__________

__ADS_1


__ADS_2