
Masih dengan perasaan kesal. Dewa membuka pintu rumahnya. Entah siapa yang bertamu malam-malam begini.
"Selamat malam," ucap seorang wanita yang tersenyum kecil pada Dewa.
"Kris? Mau apa kamu ke rumah saya?" tanya Dewa ketus.
Ia memijat kening, apa lagi yang akan di perbuat Kristal kali ini. Kalau saja bukan karena Daddy-nya yang berteman dekat dengan orang tua Kristal, mungkin Dewa sudah lama memecat Kristal tanpa memutasikan nya.
"Aku kesini mau-" jawabnya terpotong saat melihat seorang gadis yang muncul di belakang Dewa.
"Kamu?" kata Kristal kaget. "Kamu sedang apa di rumah Dewa?"
Mala menggelayut manja di lengan Dewa. "Sayang. Kamu udah ngantuk?" tanya Dewa sembari mengusap sulur anak rambut gadisnya.
"Iya. Kamu masih lama nggak?" balas Mala tanpa mempedulikan Kristal.
"Kris, kamu mau apa?" tanya Dewa.
"Kamu tinggal berdua dengan dia?" ucap Kristal, dia terlihat sangat kaget.
"Kalau iya, kenapa?" sahut Dewa. Mala hanya menatap sinis pada Kristal.
"Mbak. Tadi kenapa sih cium-cium pacar saya?" celetuk Mala.
"Baru pacar, udah sombong." Alih-alih menyerah. Kristal malah semakin membuat Mala kesal.
"Kris. Saya udah nggak ada urusan dengan kamu ya. Saya cuma mau bilang bersikaplah sopan dengan orang lain. Tindakan kamu cium saya tadi nggak sopan. Kamu bukan pacar saya, apalagi orang terdekat saya." Dewa menekankan hal itu pada mantan sekretarisnya. Seharusnya Kristal Malu mendengar perkataan Dewa itu.
"Iya. Maaf, aku kesini juga mau menjelaskan tentang itu. Cuma aku nggak sangka aja kamu tinggal berduaan dengan dia. Kalian belum menikah kan?"
"Emang apa urusan kamu, Mbak?" samber Mala tidak peduli. Padahal kalau di Korea ini biasa, tinggal bersama bukan hal yang mengerikan, batin Mala.
"Sayang, kamu masuk aja ya. Aku bentar doang kok." Dewa mengusap tangan Mala dengan lembut. Dia harap Mala mengerti, bahwa Dewa akan menyelesaikan segalanya sebijaksana mungkin.
"Jangan lama-lama ya." Mala mengecup pipi Dewa, persis seperti yang Kristal lakukan tadi terhadap kekasihnya itu.
Wajah Kristal langsung berubah merah padam. Dewa hanya tersenyum mengerti apa yang dilakukan Mala kali ini, pasti gadisnya itu sedang cemburu.
"Udah malem, kamu pulang gih."
Mala masuk ke dalam meninggalkan Kristal dengan muka merahnya. Wanita itu pasti sedang kesal dengan kehadiran Mala. Tentu Mala bukan gadis yang bodoh, dia tahu permainan Kristal yang mencoba menggoda Dewa.
"Aku bakalan bilang sama Om Max. Kalau kamu bawa gadis kecil tinggal serumah sama kamu." Kristal meremas telapak tangannya. Dengan nada ancaman, dia ingin menggertak Dewa.
Dewa malah terkekeh. "Kamu tuh kenapa sih, Kris?"
"Kamu yang kenapa, Wa. Apa bagusnya sih dia. Masih cantik aku dong kemana-mana. Tapi, kenapa kamu lebih milih dia? Kamu tahu kan aku suka sama kamu udah lama."
"Huh. Kris. Kamu boleh tanya deh sama Daddy. Dia yang lebih tahu siapa gadis yang aku sayang dari dulu sampai sekarang. Maaf, bukannya aku sengaja menolak kamu. Tapi, aku dari dulu punya pacar. Lebih baik kamu lupain perasaan itu," tegas Dewa.
"Saya masuk, kamu sebaiknya pulang." Dewa menutup pintu rumahnya. Kristal memaku di posisinya dengan perasaan campur aduk. Antara kesal, marah, dan tidak percaya.
****
__ADS_1
Mala terlihat sedang mondar-mandir di depan kamar Dewa. Sesekali ia melirik ke pintu depan, dia tenang saat Dewa berjalan menuju dirinya. Syukurlah, rupanya Kristal sudah pulang.
"Sayang. Kamu ngapain?" tanya Dewa sambil menahan tawa. "Udah pulang," imbuhnya saat melihat Mala masih sibuk mengintip dari tirai jendela ruang tamu.
"Dia ngapain sih kesini?" ketus Mala sambil memajukan bibir.
"Kenapa? Masih cemburu?" kekeh Dewa. Mala hanya menajamkan matanya pada Dewa.
"Sekarang aku tanya sama kamu, Kak. Kalau posisinya dibalik, kamu lihat cowok lain perlakukan aku kayak yang Kristal lakukan ke kamu tadi, apa kamu nggak cemburu?"
"Iya. Aku akan hajar cowok itu. Sampai dia kapok."
"Itu kan cara kamu, cara lelaki. Kalau aku perempuan beda cara dong. Aku nggak akan biarkan dia deketin kamu terus." Mala bertolak pinggang. Dewa merasa Mala sangat menggemaskan.
"Sayang. Kamu tenang aja, dia nggak akan bisa macam-macam. Kamu harus ingat, aku bukan playboy. Kalau aku mau jadi playboy udah dari dulu sejak ada kamu pun aku pasti akan tetap playboy. Tapi, kamu tahu kan, aku mentok di kamu."
Mala mengerucutkan bibirnya. "Ngeselin ih kata-kata kamu. Untung aku Sayang,"
"Bener kan? Emang ada yang salah sama kata-kata aku?"
Mala menggelengkan kepalanya. "Enggak sih, kamu bener. Pacarku paling setia. Aku percaya sama kamu. Aku bukan Mala yang suka cemburu buta lagi kayak dulu."
Dewa meraih tubuh Mala dan memeluknya. Rasanya tidak sabar ingin menemui daddy-nya untuk mengutarakan niatnya, melamar Mala segera.
"Kakak percaya, Mala udah banyak berubah. Udah tambah dewasa, tapi seperti apapun Mala, intinya asalkan itu Mala. Kakak akan selalu mengerti, menerima, dan mencintai kamu."
Sambil mengeratkan pelukan Dewa. Mala melukiskan senyum bahagia di bibirnya. "Makasih. Aku juga sama, asalkan itu Dewa. Aku akan selalu jadi Mala untuk kamu."
Keesokan harinya.
"Kak, apa kamu yakin kita hari ini ke Jakarta? Nggak kecepatan?" tanya Mala yang pagi-pagi sekali sudah dibangunkan oleh Dewa. Mereka berencana akan ke Jakarta menemui Maxime.
"Aku udah telpon daddy. Kata daddy kita ke sana aja. Mami juga kangen banget sama kamu, Sayang. Jadi kita nggak kecepatan kok. Lagipula bukankah lebih cepat lebih baik?"
Mala berpikir benar juga yang dikatakan Dewa. "Baiklah. Kita berangkat."
Dewa sudah menantikan hari ini. Selama kurang lebih tiga tahun belakangan dia harus menahan pedih setelah diputuskan sepihak oleh Mala. Tapi, dia memahami posisi Mala. Istimewanya Dewa, dia selalu menerima setiap keputusan Mala. Meski dia sakit, saat Mala memutuskan hubungan mereka. Dewa yakin suatu saat Mala akan kembali padanya. Dewa yakin Mala hanya untuknya.
Keduanya berangkat ke Jakarta mengendarai mobil. Kira-kira memakan waktu beberapa jam sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah Natasha.
Dewa langsung disambut oleh Nayra yang baru selesai menyirami tanaman. Wanita itu masih terlihat cantik dan bersahaja. Mala menghambur memeluk Nayra, melepas kerinduan setelah beberapa tahun tidak berjumpa.
"Mala. Tante kangen banget sama kamu, sayang." Nayra mengecup pipi Mala bergantian.
"Mala juga kangen sama Tante. Mana om Max dan Kak Natasha?" sahut Mala.
"Ada di dalam, yuk masuk!" ajak Nayra dibalas anggukan Mala. Dewa yang anak kandung Nayra merasa diabaikan oleh maminya itu. Dia bahkan tidak disapa oleh Nayra. Tapi Dewa maklum, pasti maminya itu sangat merindukan Mala sampai seperti itu.
"Mala?" Maxime masih tetap gagah di usianya yang sudah tidak lagi muda. Pria itu meraih tubuh Mala lalu memeluknya. Keduanya saling memeluk dengan perasaan bahagia, akhirnya dapat bertemu lagi.
"Om, Mala kangen banget sama Om."
"Om juga kangen banget sama Mala. Kalian udah baikan?" tanya Max mengurai pelukan lalu menatap mata putranya.
__ADS_1
"Iya, kalian udah balikan?" sambung Nayra.
"Pasti udah," ucap Natasha keluar dari sebuah ruangan. Sepertinya itu kamar anak-anak Natasha.
"Kak Nat!" Mala menghampiri kakak kandung Dewa itu, kemudian memeluknya.
"Kamu apa kabar, Mala?" tanya Natasha sambil menepuk bahu Mala pelan.
"Baik, Kak." Mala tersenyum. Dia bahagia bisa berkumpul dengan keluarga Dewa yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri.
Mereka pun berbincang di ruang keluarga. Dewa duduk di samping Maxime. Saat itu Max masih menunggu suami Natasha yang belum pulang dari kantor. Max merasa Calvin juga harus ada di tengah-tengah mereka.
"Dad. Kalau nunggu Calvin lama, kalian boleh mulai aja kok." Natasha memberi pendapat.
"Enggak. Kita tunggu Calvin ya. Lagi pula Mala dan Dewa nggak buru-buru kan? Kalian menginap?" sahut Max.
"Iya, kalian nginep ya. Mala, apa kamu nggak mau kenalan sama keponakan kamu, Alan dan Alana. Kalian belum ketemu loh. Kamu tahu nggak? Alana tuh selalu nanyain kamu loh."
"Kok bisa Tan? Alana tau Mala?" sahut Mala kaget. Padahal dia belum pernah bertemu dengan anak kembar Natasha itu.
"Itu loh Mala. Dewa kalau main kesini selalu cerita tentang kamu. Alana itu kan bawel banget, beda dengan Alan. Alana juga langsung mengenal kamu dari cerita Dewa," terang Natasha.
Dewa hanya tercengir. "Kamu mau nginep?" tanyanya pada Mala.
"Mmm, terserah kamu aja," jawab Mala.
"Oke. Kita nginep aja deh sambil nunggu Kak Calvin," putus Dewa.
"Nah gitu dong," sambung Nayra senang.
Malam harinya.
Calvin baru saja pulang dari kantor. Mereka pun semuanya berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Saat itu Max melakukan panggilan video dengan orang tua Mala di Korea. Delia dan Lesmana Mahendra.
"Delia, Mahen. Seperti yang pernah saya katakan beberapa tahun lalu saat di Korea. Saya setuju kalau Dewa menikahi Mala di usianya yang sudah cukup matang yaitu 25 tahun. Saat ini Dewa sudah hampir 26 tahun, Mala sudah genap 20 tahun. Saya rasa memang mereka juga sudah saatnya menikah. Semua yang terjadi kemarin, agaknya sedikit banyak mempengaruhi kedewasaan mereka. Untuk itu, saya ingin meminang Nirmala untuk Dewa. Sebagai orang tua Dewa, saya sangat menyayangi Nirmala seperti anak kandung saya sendiri," tutur Max.
Mala terlihat berkaca-kaca. Keluarga Dewa sangat baik padanya. Maxime, Nayra, Natasha, semuanya sangat baik dan menyenangkan. Dewa menggenggam telapak tangan Mala, dengan senyum simpul.
Kebahagiaan mereka semakin bertambah lengkap saat orang tua Mala menerima pinangan Max untuk meminta Mala menjadi istri Dewa. Keduanya akan segera menikah dalam waktu dekat.
"Selamat ya, Wa. Akhirnya setelah penantian tiga tahun ini, lo sampe stress nungguin Mala, nggak sia-sia," ucap Calvin sambil menepuk bahu Dewa.
"Makasih Kak. Gue juga lega," sahut Dewa.
Mala terus melingkarkan garis di bibirnya. Harapannya semoga semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.
"Selamat ya, Mala." Calvin juga memberi selamat pada calon adik iparnya itu.
"Makasih, Kak Calvin." Mala mengangguk.
Natasha ikut bahagia dengan kebahagiaan adiknya. Selama ini Dewa selalu bercerita padanya tentang perasaannya yang tidak berubah dengan Mala, meskipun keduanya sempat putus beberapa waktu lalu.
Saat itu Natasha tidak tega, tapi suaminya selalu mengatakan bahwa itu adalah proses yang harus dilalui Dewa demi mendapatkan kembali Nirmala. Rupanya benar, mereka berdua akan bersatu lagi, kali ini dengan ikatan yang lebih sakral, pernikahan.
__ADS_1